ِبسْمِ اللهِ الرَّحْـمَنِ الرَّحِيْمِ
لاَ تَتَعَدِّى نِيَةُ هِمَتِكَ إِلَى غَيْرِهِ
بِأَنْ تَتَوَجَّهَ إِلَى
غَيْرِهِ لِتَحْصِيْلِ حَاجَتِكَ بَلْ أُطْلُبْ حَوَائِجَكَ مِنْهُ
Jangan sekali-kali niatmu,
himmahmu atau maksudmu engkau tujukan kepada selain TUHAN, menjagakan kepada
selain TUHAN, artinya orang lain, atau dirinya sendiri, usahannya, kekayaannya,
sawahnya, pasarnya, perusahannya, ilmunya, keahliannya dan sebagainya dan
sebagainya, jangan sekalli-kali engkau jadikan pegangan!. Sebab apa saja selain
TUHAN itu tidak bisa dibuat pegangan, tidak bisa dijagakan,. Sekalipun wujudnya
kelihatannya bisa, bisa menjagakan sawahnya, pasarnya, usahanya dan lain-lain
sebagainya itu, tetapi sesungguhnya kesemuanya itu tergantung pada Alloh SWT.
Jadi dalam segi hakikot kita tidak boleh menjagakan selain Tuhan. Tidak boleh
menuju selain Tuhan. Sebab, ya itu tadi, tidak semestinya dan apa saja selain
Tuhan itu sesungguhnya tergantung pada Tuhan. Dibuat berhasil ya berhasil,
dibuat hancur ya hancur, tidak ya tidak.
Itu tadi dalam bidang
haqiqot harus begitu perasaan kita adapun dalam bidang syariat kita harus
usaha, harus ikhtiar begini begitu, dan harus ada perhitungen dan sebagainya dam
sebagainya.
التَّدْبِيْرُ نِصْفُ الْمَعِيْشَةِ
Berpenghitungan dan mengatur menurut syarat-syarat yang semestinya. Itu
adalah separo dari ma’isyah, separo dari perhitungan. Dalam syariatnya
kesemuanya itu harus kita laksanakan. Tapi dalam bidang haqiqot harus, ...
harus hanya Alloh SWT yang kita jagakan yang kita tuju. Sebab kesemuanya itu
adalah BILLAH Tuhan yang mencipta dan
menitahkan!
{فَالْكَرِيْمُ لاَ تَتَخَطَاهُ اْلأَمَالُ}
Disamping itu, karena yang
maha loman adalah hanya Alloh, sedangkan lainnya, seandainya ada yang loman,
itu karena mendapat tetesan dari lautan kelomananya Tuhan. Istilah lain
dilontankan oleh Alloh Ta'ala :
“FAL KARIIM LAA TATAKHOTHTHOOHUL AAMAAL”
Dzat yang Maha Loman, fikiran, perhitungan, angan-angan tidak bisa
menggambarkan betapa itu!
فَالْهِمَّةُ الْعَالِيَّةُ تَأْنَفُ مِنْ رَفْعِ
حَوَائِجِكَ إِلَى غَيْرِ كَرِيْمٍ وَلاَ كَرِيْمَ فِى الْحَقِيْقَةِ اِلاَّ اللهُ
Orang yang sehat
Pikirannya, yang tinggi cita-citanya otomatis tidak menjagakan kepada siapapun
yang tidak punya sifat loman-pemberi. Melainkan menggantungkan tujuan dam
harapan hanya kepada Tuhan Yang Maha Loman. Yang Maha Loman hanya Alloh SWT!.
اِذَ الْكَرِيْمُ هُوَ الَّذِى إِذَاقَدَّرَ عَفَا
وَاِذَا وَعَدَ وَفِى وَاِذَا أَعْطَى زَادَ عَلَى مُنْتَهَى الرِّجَا وَلاَ
يُبَالِى كَمْ أَعْطَى وَلَا لِمَنْ أَعْطَى
Definisi “KARIM”, ta’rif
“KARIM” yaitu “IDZII QODARO” mampu menghukum tapi memberi maaf umpamanya,
diejek atau dirugikan orang lain. Dia mampu menghukum atau mengambil tindakan,
tetapi dia memberi maaf padahal umumnya orang, terutama yang masih dikuasai
oleh nafsu, ibarat dipukul sekali membalasnya berpuluh kali pukulan. Tapi Alloh
SWT senantiasa memberi, ... memberi, .... memberi. Memberi rizqi, memberi
nikmat, memberi fadlol, memberi tak
dapat dihitung banyaknya!. Tapi anehnya, hamba-Nya yang diberi, makin banyak
menerima pemberian dari Tuhannya, makin merajalela menyakitkan melukai kepada
Si-Pemberi. Sunggupun begitu Alloh Ta’ala tidak mengambil ketegasan melainkan
memberi maaf!. Itu Alloh SWT Itu “KARIM”. Sekalipun yang diberi itu melukai
begitu yang tidak bisa digambarkan terlalunya, kalau dia mau minta maaf mohon
ampun sekali saja, biar betapapun terlatunya didalam melukai, masih saja
berkenan memberi ampun memberi maaf!. inilah “KARIM” WA IDZAA WA’ADA
WAFA”. Jika memberi janji dipenuhi.
Malah lebih dari pada itu. “WA IDZAA AKHTO ZAADA ‘ALA MUTAHAR ROJA”. Jika
memberi, jauh lebih banyak dari apa yang diharapkan oleh si penerima. Inilah
sifat “KARIIM”, sifatnya zat yang Maha Loman. “WALA YUBALI KAM AKHTOO WALA
LIMAN AKHTO” dan tidak peduli, berapa
banyaknya yang diberikan dan siapa saja yang tidak pandang orang. Sekalipun
senantiasa disalahgunakan, tetap masih diberi. Terus diberi senantiasa, dalam
segala bidang!. “WA IDZAA JUFIA’AATABA WA MASTAQHTO” Jika si-penerima pemberian
tidak man tahu, tidak terima kasih, malah mengecam, diperingatkan dan tidak
diambil ketegasan seketika!. “WALAA YUDLOYYTU MAN LAADZA BIHI” dan tidak menyia-nyiakan tidak akan
mengecewakan orang yang mengungsi orang yang membutuhkan padanya. Malah
pemberiannya itu jauh lebih banyak lebih baik. Baik... dari apa yang diinginkan
dan apa yang diperhitungkan oleh yang
membutuhkan itu. “WA YUGHNIHI AMIL WASAAILI WAS SYUFA’A” dan tidak
mensyaratkan, harus ada perantara harus ada syafaat!. Langsung, ada pada Alloh
SWT.
فَيَنْبَغِى اَنْ لَا تَتَحَطَاهُ أَمَالَ
الْمُؤَمِلِيْنَ إِلَى غَيْرِهِ
Maka dari itu jangan sekali-kali kita menuju, jangan
sekali-kali kita menjagakan selain Alloh SWT !.
Para hadirin-hadirot ini
perlu adanya pengetrapan!. Bagaimana keadaan sehari-hari kita. Sekalipun tidak
menjagakan orang lain, kawan dan sebagainya, apakah sudah sungguh-sungguh
nyocoki dengan apa yang diperingatkan oleh Muallif Hikam ini. Kita boleh saja
lahirnya menjagakan kepada orang lain atau kepada apa saja, tapi dalam hati
kecil kita harus, ... harus itu tadi, hanya kepada Alloh SWT.
الْكَامِلُ مَنْ يَكُوْنُ الْجَمْعُ فِى بَاطِنِهِ
مَشْهُوْدًا وَالْفَرْقَ فِى ظَاهِرِهِ مَوْجُوْدًا
Orang yang Kaamil, yang
sempurna, batinnya, hatinya, jiwanya senantiasa “jam,u”, kumpul, senantiasa
syuhud, nglesot, berdepe-depe di hadapan Alloh SWT. LILLAH BILLAH istilah
Wahidiyah. Sedangkan keadaan lahiriyahnya, ya seperti pada lazimnya menurut
tingkatan dan kedudukannya di dalam masyarakat. Ya bekerja ya usaha ini itu dan
sebagainya. Tapi batinnya senantiasa LILLAH BILLAH LIRROSUL BIRROSUL istilah
Wahidiyah. Dan senantiasa berdepe-depe mengharap kepada Alloh SWT.
Kita semua mampu untuk itu
para hadirin-hadirot !... adalah nikmat Alloh
SWT yang harus disyukuri! Mensyukurinya, ialah menyadari dan digunakan
menurut apa mestinya. Mudah-mudahan
para. Hadirin-hadirot kita diridloi Alloh SWT, diberi hidayah dan taufiq
di beri syafaat dan tarbiyah oleh Rosuulillahi SAW, barokah karomah nadhroh
Ghoutsi Hadzaz Zaman wa A’waanihi wasaairi Abbaabillahi rodiyallohhu Ta’ala
'anhum. Sehingga dapat melaksanakan apa yang diridloi Alloh SWT Khususnya
seperti apa yang diuraikan dalam pengajian pagi ini.
وَاعْلَمْ أَنَّ الطَّـلَبَ مِنَ الْخَلْقِ الْمُنَافِى
لِلْعُبُوْدِيَةِ هُوَ الطَّلَبُ مِنْهُمْ عَلَى وَجْهِ اْلإِعْـتِمَادِ
عَلَيْهِمْ وَاْلاِسْتِنَادِ إِلَيْهِمْ وَالْغَفْلَةِ فِى حَالِ الطَّـلَبِ عَنِ
اللهِ تَعَالَى
Di sini diberi, penjelasan
meminta atau menjagakan atau mengharapkan dari siapa saja, orang lain atau
benda lain atau dirinya sendiri, kemampuannya, keahliannya, usahanya dan
sebagainya. Yang terkecam yang bertentangan dengan 'ubudiyah pengabdian diri kepada
Alloh Ta’ala, yaitu “AT THOLAB 'ALA WAJHIL I’TIMAAD”. Menjagakan,
mengharapkan sungguh menjagakan. Pokoknya lahir batin ya hanya mandeg
menjagakan kepada hal-hal tersebut. Tidak Menyadari kepada Alloh SWT.
أَمَا الطَّلَبُ مِنْهُمْ مِنْ حَيْثُ كَوْنِهِمْ
أَسْبَابًا وَوَسَآئِطَ مَعَ اْلاعْتِمَادِ فِى نَيْلِ الْمَطْلُوْبِ عَلَى اللهِ
وَرُؤْيَةِ أَنَهُ الْمُعْطِى فَلَيْسَ مُنَافِيًا لِلْعُبُوْدِيَةِ
Adapun menjagakan kepada lain-lain tersebut hanya sebagai sebab,
وَجَعَلْنَا لِكُلِّ شَيْئٍ سَبَبًا{سورة الكهف ٨٥}
Alloh menciptakan segala
sesuatu dengan menciptakan sebabnya, dan menyakini bahwa Alloh SWT sekalipun
ada sebab, tetapi tetap Alloh SWT. Atau ketika memberi atau menerima pemberian.
tidak menekatkan bahwa dirinya yang memberi atau yang memberi. Melainkan merasa
bahwa Alloh SWT yang memberi. Mudahnya BILLAH jika demikian keadaannya, ini
tidak mengganggu kepada ubudiyah. Malah seharusnya begitu terjadinya. Dengan
ada sebab-sebabnya yang hubungan. Jadi mudahnya, ya sebab dan ya sebab ya tawakal.
Ini malah lebih baik dari pada hanya tawakal tidak memakai sebab. Junjungan
kita Rosuulillahi SAW sendiri juga tidak meninggalkan sebab. Tapi tawakal
senantiasa menjiwai.
Caranya mengetrapkan yaitu
tadi, ...mudahnya LILLAH BILLAH istilah Wahidiyah. Mari jika diantara kita ada
yang belum tepat mari usaha ditepatkan setepat-tepatnya.
Disini,
nanti Insya Allah dibahas, ada istilah “ORANG KHUSUS” dan ada lagi “ORANG
UMUM”.
Yang dimaksud “ORANG
KHUSUS” itu lahiriyahnya ya biasa, tidak mesti harus nggetu tekun di dalam
masjid saja. Melainkan ya kelihatan begini begitu. Usaha ini usaha itu.
Menjalankan begini dan begitu, dan sebagainya seperti umumnya orang.
Tapi yang menjadi ciri khasnya. Hatinya yang pokok. sekalipun dia diberi
“Khoriqul ‘adah” kramat istilah umum, siapa yang kelihatan khoriquI ‘adah
disebut “keramat”. Orang yang begitu, jika hatinya. tidak seperti yang
diutarakan tadi ya tetap terkecam. Malah, kalau perlu lebih berat. Pokoknya,
pemberian atau keadaan yang luar biasa khoriquI ‘adah, di luar perhitungan,
umpamanya dapat menempuh jarak ratusan atau ribuan kilometer hanya dalam tempo
sejangkah, atau mengetahui hati kawan atau orang lain, tapi kok tidak
mengecakkan ajaran ini ajaran yang baru kita bahas ini, itu tetap terkecam dan
otomatis itu merupakan “lstidroj” penglulu. Pokoknya moril atau
materiil, itu sama ketentuannya. Dikaruniai keadaan biasa, kok tidak mengecakan
ajaran ini, ajaran yang baru kita bahas ini, itu menyalahgunakan dan merupakan
beban baginya, justru dia di karuniai soal itu, malah memberatkan orang yang di
karuniai satu macam nikmat misalnya kok
tidak mensyukuri lagi itu dia makin
berat lagi pokoknya makin banyak nikmat
yang di terimanya dia bertanggung jawab di karuniai dua nikmat dan tidak
mensyukurinya lagi pokoknya makin banyak nikmat yang di terimanya, baik itu
nikmat materi, nikmat lahir atau nikmat moril atau nikmat batin jika tidak
disyukuri, makin berat makin berat. Nikmat materi misalnya, makin banyak harta
bendanya, jika tidak digunakan semestinya, berarti makin banyak disalahgunakan.
Begitu juga nikmat batini seperti ilmu, ilmiyah apa saja, ilmiyah agama atau
ilmiyah umum, jika tidak di syukuri di atas tadi, ya tetap makin banyak, makin
bertambah besar penyelewengan dan penyalahgunaannya.
{لاَ تَرَفَعنَ إِلَى غَيْرِهِ حَاجَةٌ هُوَ مُوْرَدُهَا عَلَيْكَ
فَكَيْفَ يَرْفَعُ غَيْرَهُ مَا كَانَ هُوَ لَهُ وَاضِعَا}
Ada anu pengertian atau
istilah “musyrik” minta-minta ke kubur. Minta kepada orang yang sudah mati
musyrik. Sesungguhnya tidak hanya minta kepada orang mati saja yang musyrik.
Biar minta kepada orang
hidup sekalipun kalau diyakini seperti yang kita bahas ini tadi, juga
musyrik. Hatinya bagaimana, itu yang antara lain menentukan. Hati kecilnya
kemana arahnya. Berhenti kepada sebab itu sendiri sajakah, atau langsung kepada
Alloh SWT. Ini yang menentukan, maka disini diperingatkan ole Muallif AI-Hikam
ini, ...”LAA TARFA ‘ANILA GFOIRIHI HAAJATAN”. Diperingatkan, jangan
sekali-kali, dalam hati kecil maksudnya, ini bidang, haqiqot harus dapat
menempatkan segala sesutu ditempatnya masing-masing YUKTI KULLA DZII HAQQIN
HAQQAH. Mengisi segala bidang masing-masing. Semua bidang harus kita isi.
Bidang-bidang, bidang syariat, bidang haqiqot lha disini maksunya bidang
haqiqat jangan sekali-sekali engkau minta hajatmu kepada selainnya Tuhan. Sebab
yang menciptakan itu Tuhan. Jangan sekali-kali engkau sambat kepada selain
Tuhan. Mengalami kecelakaan atau musibah
misalnya, ini yang menurunkan musibah ini adalah Tuhan. Karena itu engkau juga
harus mohon kepada Tuhan, Yah adanya musibah ini karena keburukan atau karena
kesalahanku dan sebagainya. Itu harus kita sadari dari sifat adilnya Tuhan.
Dari sifat wenangnya Tuhan, bebasnya Tuhan. dan dalam bidang syari'atnya harus
merasa karena keburukan dirinya, jangan sekali-sekali sambat kepada lain.
Sekarang ini banyak ujian-ujian.
Soal ekonomi makin seret misalnya, kaum tani banyak sawahnya diserang hama
wereng. Di daerah Bekasi Jawa Barat kata seorang Pengamal Wahidiyah di sana,
lebih dari 90 % katanya sawah yang dimakan wereng, sehingga pada umumnya tidak
mampu membeli beras. Makan hanya seadanya. Begitu juga di daerah lain-lain,
Kerawang dan lain-lain. Disamping itu akhir-akhir banyak daerah yang kekurangan
air. Ini semua yang menurunkan Tuhan. Kok lalu sambat-sambat kepada lainnya,
atau lebih-lebih ngresulo, menyesali keadaan, ini terkecam sekali. Berarti
bunuh diri orang yang begitu itu.
“FAKAIFA YARFA'U GHOIRUHU
MAAKAANA HUWA LAHU WAADLI'AN” apakah mungkin barang yang diciptakan oleh Alloh
bisa dirubah oleh selainnya Alloh! Jangankan meruhah barang lain, merubah
dirinya sendiripun tidak dapat. Jangankan merubah, berubah sajapun tidak bisa.
Segalanya Alloh yang merubah, Yang menggerakkan. BILLAH.
اِذْهُوَ الْغَالِبُ الَّذِى لاَ يَغْلِبُهُ شَئٌ
Jika Alloh memiliki sifat
QUDROT, otomatis lainnya tidak mempunyai sifat qudrot. Adanya bisa atau mampu,
itu karena dimampukan. Jelas yang bisa menghilangkan segala kesulitan atau
musibah adalah Tuhan. Kok cari-cari lainnya Tuhan, itu jelas orang yang tidak
normal. Mari kita lihat diri kita masing-masing, sudah begitukah atau belum?.
Kalau masih menjagakan itu ini, masih ngresulo, itu ada peringatan seperti
tertulis di atas pengimaman masjid itu.
آنَا الله ُ ِلآإِلَهَ اِلاَّأَنَا مَنْ لَمْ يَشْكُرْ
نَعْمَآئِى وَلَمْ يَصْبِرْ عَلَى بَلآئِى وَلَمْ يَرْضَ بِقَضَآئِى فَلْيَتَّخِذْ
رَبَّا سِوَآئىِ{الحديث القدس}
AKU ALLOH, Tuhan, tidak
ada Tuhan selain AKU, siapapun juga yang tidak mau syukur, AKU beri nikmat
malah berlarut-larut disalahgunakan untuk melukai AKU, AKU beri ujian tidak mau
bersabar, malah ngresulo mencaci AKU, dia selalu maido, mengecam tidak rela
tidak mau menerima atas qodar-KU,...carilah Tuhan selain AKU. Pergi dari
bumi-KU!. Mau keluar negeri-itu luar negeri-KU. AKU yang punya! Mau ke bulan ?,
Itu bulan-KU!
Mari para hadirin-hadirot kita koreksi keadaan kita. Ini
soal yang pokok, soal yang prinsip. Jika sampai kita tidak atau kurang
mengambil perhatian, tahu sendiri nanti akibatnya, bagaimana pedihnya. Sebentar
lagi Izroil datang oleh karena itu mari kita perangi nafsu kita yang senantiasa
mende-mende menangguh-nangguhkan dengan alasan begini begitu. Nafsu memang
begitu kelakuannya. Selalu berat-beratan, selalu nanti-nanti besok-besok. Mari
jangan sampai kita jemu-jemu.
Sekarang kalah, bangun lagi. Jatuh-bangun, jatuh-bangun-dan seterusnya.
Jangan menyerah sekalipun bagaimana kepada nafsu. Harus terus maju pantang
mundur.
{مَنْ لاَ يَسْتَطِيْعُ أَنْ يَرْفَعَ حَاجَةً عَنْ نَفْسِهِ
,فَكَيْفَ يَسْتَطِيْعُ أَنْ يَكُوْنَ لِغَيْرِهِ رَافِعًا}
Yang menguji Tuhan. Apakah
mungkin isianya Tuhan bisa menghilangkannya. Tentu tidak mungkin, disamping itu
tidak ada orang yang dapat mengatasi, sehingga bebas sama sekali dari apa yang
menjadi kesulitan atau ujiannya. Menolak balaknya sendiri. Menyelamatkan diri saja tidak dapat lebih-lebih mari
menyelamatkan orang lain. Jauh mustahil, tidak mungkin, maka satu-satunya jalan
hanyalah Fafirruu Ilallohi wa Rosuulihi SAW.
اَلَمْ يَأْنِ لِلذِّيْنَ آمَنُوْا أَنْ تَخْشَعَ
قُلُوْبُهُمْ لِذِكْرِ اللهِ {الحديد:١٦}
Apakah belum saatnya
orang-orang yang beriman itu cepat-cepat lari mengungsi dan menundukkan hatinya
kepada Alloh?. Sudah jauh terlambat sesungguhnya para hadirin-hadirot. Tapi
sekalipun begitu, sekalipun terlambat asal mau cepat-cepat lari dan
bersungguh-sungguh bermujahadah, sifat kemurahan Alloh tidak mengenal istilah
terlambat. Asal sungguh-sungguh mau kembali, pasti Alloh akan membuka dan
menunjukkan jalan-NYA yang diridloinya. Mari para hadirin-hadirot kita jangan
enak-enak bermalas-masalan, jangan menganggap enteng masalah ini.
وَحَاصِلُهُ أَنَ لِلْمَرْفُوْعِ إِلَيْهِ حَوَائِجُ
لَمْ يَتَوَصَلْ إِلَيْهَا وَلَوْكَانَ مَلِكًا - وَلاَ شَكَّ....
Jadi kesimpulanya orang
juga sama-sama punya kepentingan menyelesaikan dan mengatasi kepentingannya
sendiri saja tidak bisa, lebih-lebih mengatasi kesulitan orang lain. Seandainya
bisa mengatasi satu persoalan lain timbul lagi persoalan lain lagi, timbul lagi
masalah lain lagi, timbul lagi masalah lain, makin banyak, makin kaya makin
banyak membuat dirinya makin repot mlarat begitu juga Dus, orang tidak bisa
bebas sama sekali. Sekalipun raja malah presiden atau raja atau pejabat tinggi
yang bagaimanapun makin banyak persoalan-persoalannya yang tidak bisa
diatasi. Sebahagian bisa diatasi, timbul
yang lain. Diselesaikan tumbuh sepuluh
diatasi yang sepuluh tumbuh seratus, diatasi seratus tumbub seribu, dan
seterusnya. Selalu timbul persoalan-persoalan yang makin banyak, makin banyak
makin tidak bisa mengatasi. Begitu kok mau dimintai tolong untuk mengatasi
persoalan kita oleh karena itu hanya Alloh saja yang mampu mengatasi segala
persoalan. Mari para hadirin-hadirot,
selalu mengungsi kepada Alloh SWT. Yang sudah
mengungsi mari kita usaha mengungsi yang lebih sempurna dan yang lebih
meningkat. Kita masih kurang sekali mengungsi kita kepada Tuhan, para
hadirin-hadirot. Lebih-lebih yang belum mengungsi. Sekalipun sudah mengungsi
sudah berdepe-depe, tapi kurang jauh. Jauuuh sekali kemampuan kita masih banyak
untuk mengungsi yang lebih kuat lagi, lebih dekat lagi, lebih ... meningkat
lagi. Lebih-lebih jika dilihat dari ke-Maha Rajaannya Alloh Ta’ala, Ke-Maha
Agungnya Alloh Ta'ala, ke-Maha... Maha ... Maha, dan dari arah lain kita
keapesan kita, kemelaratan kita, kebutuhan kita lebih-lebih, masih jauuuh para
hadirin-hadirot.
Mari para hadirin-hadirot
kita perhatikan yang sungguh -sungguh.
Zaman banjir bandangnya
Nabi Nuh ada suatu kejadian, yaitu seorang Ibu. Ya pernah diutarakan dari
pusat. Seorang Ibu dengan anaknya yang masih kecil karena ada banjir bandang
anaknya diajak lari menyelamatkan diri. naik ke atas puncak bukit. Tapi sang
banjir terus mengejar makin dalam makin dalam,. Puncak bukit akhirnya
tegenang..banjir makin dalam makin dalam. Untuk menyelamatkan anaknya. anaknya
digendong. Banjir terus naik sampa ke punggung sang lbu. Anaknya lalu di
sunggi. Banjir terus makin tinggi air sampai
pada leher sang Ibu, ...anaknya yang yang dijadikan ancik-ancik. Di bawah
telapak kakinya! untuk menyelamatkan dirinya sendiri, para hadirin-hadirot.
Tapi toh akhirnya hanyut kedua-duanya. Tidak bisa menyelamatkan anak juga tidak
bisa menyelamatkan dirinya sendiri.
Ini para hadiria hadirot !.
Sesunggunya manusia itu hanya memikirkan dirinya sendiri Kecuali, mereka
yang mendapat taufiq Hidayah pertolongan Alloh SWT. Dalam keadaaa yang sudah
kritis, sudah sangat terjepit, dirinya sendiri yang berusaha mencari selamat,
biar sekalipun mengorbankan anak darah dagingnya sendiri yang masih kecil
seperti cerita di atas. Ini para terutama bagi kaum Ibu betapa bengisnya
manusia hadirin-hadirot, biar bagaimanapun juga, toh tidak berhasil
menyelamatkan diri, tapi terkecuali para hadirin-hadirot, terkecuali... yaitu
mereka yang mau mencari keselamatan dengan lari mengungsi kepada Alloh SWT.
Alloh SWT pasti menolong hamba-NYA yang sungguh-suagguh mau kembali mengungsi
kepada-NYA dengan sepenuh-penuhnya mengungsi. Malah, para hadirin-hadirot,
sesunggunya Alloh SWT senantiasa memanggil-mauggil hamba-NYA agar mereka
menjadi selamat, tidak celaka, tidak sengsara !!!. Fafirruu Ilallooh !. Fafirruu Ilallooh !.
Fafirruu Ilallooh !.
{اِنْ لَمْ تُحَسِّنْ ظَنَكَ بِهِ ِلاَجْلِ حُسْنِ وَصْفِهِ
فَحَسِنْ ظَنَّكَ بِهِ لِوُجُوْدِ مُعَامَلَتِهِ مَعَكَ}
Jika
engkau tidak bisa husnudhon atau yang lebih tepat kalau terhadap Tuhan “Husnul
yaqin” jika engkau tidak bisa husnul yaqin kepada Tuhan berdasar kebaikan
sifat-sifat Tuhan, maka berkhusnul yaqinlah kepada-NYA berdasarkan adanya
perlakuan Tuhan terhadap dirimu.
Berdasar sitat Tuhan, Maha
Loman-Pemberi. Aku kok melarat umpamanya, aku kok sengsara, tapi aku yakin,
yakin pasti akan diberi oleh Tuhan. Sebab Tuhan senantiasa memberi dan menolong
hamba-NYA. Tuhan adalah “AR ROJAQ”, “AL JAWAAD”, “AL WAHHAAB ROUF ROHIM”. Jadi
yang baik berdasarkan sifatnya. Tidak mungkin Maha Loman.kok tidak memberi.
Adapun sekarang tidak diberi, yah, memang belum. Atau sesungguhnya ini sudah
diberi tapi aku tidak sadar bahwa diberi. Melarat ini adalah pemberian yang
baik. Sebab seandainya aku kaya, mungkin malah berlarut-larut. Ini suatu
pertolongan yang baik sekali. aku kok terus-terusan sakit-sakitan, kok tidak
lekas sembuh?. Yah ini pemberian Tuhan yang baik bagiku. Seandainya aku
waras-wiris, aku makin terus menerus larut berlarut-larut!. Selalu merugikan
orang lain! selalu berbuat apa yang dikecam Alloh SWT, atau mungkin saking
belas kasihnya Tuhan, saya di dunia dalam keadaan melarat compang-camping, agar
tidak kalong, agar jauh lebih baik kelak di akhirat. Husnudhon ataupun husnul
yaqin seperti itu lebih baik. Lebih baik.
Pokoknya para
hadirin-hadirot, segala keadaan baik yang diinginkan, menguntungkan atau
merugikan, supaya semuanya itu dimanfaatkan untuk... “FAFIRRUU ILALLOOH WA
ROSULIHI SAW”.
Jangan sampai
berani-berani menyalahgunakan, bahkan maksiat sekalipun, harus kita manfaatkan
untuk “FAFIRRUU ILALLOOH WA ROSULIHI SAW”. Antara lain diikuti dengan tobat
yang sungguh-sungguh orang yang tidak bersalah kok minta maaf, apa mungkin?.
Adanya minta ampun itu karena, dosa ini setengah dari murahnya Tuhan!
Sekalipun maksiat kita
tidak boleh memasuki maksiat, tapi... harus kita manfaatkan aku mau memasuki
maksiat, nanti toh bisa mandi yang bersih, inilah yang namanya menyalahgunakan.
Syekh Hasan Basyri mengatakan orang tidak ada yang
ibadahnya lebih baik daripada maksiat. Artinya dari pada akibatnya maksiat.
Dalam kitab ini juga, ada keterangan yang hampir sama maksudnya dengan dawuhnya
Syekh Hasan Basyri tersebut :
مَعْصِيَةٌ أَوْرَثَتْ ذَلاَ وَانْكِسَارًا خَيْرٌ مِنْ
طَاعَةٍ أَوْرَثَتْ عِزًا وَا سْتِكْبَارًا
Maksiat yang menyebabkan
dia nelongso, merana, merasa jelek, merasa dosa berlarut-larut, ini lebih dari
pada thoat yang mengakibatkan sombong, merasa baik, takabbur itu contohnya para
hadirin-hadirot, Iblis sebelumnya ibadahnya sebagai kepala para malaikat,
80.000 tahun non stop ... seperti kita maklumi. Tapi karena sombong tidak mau
sujud kepada Nabi Adam Aalaihissalam,....akhirnya dila'nat menjadi Iblis itu
para hadirin-hadirot. Itu lagi kanjeng Nabi Adam 'Alaihissalam sendiri. Suatu
kesalahan atau ma'siat membawa akibat bertobat sampai seratus tahun
menangisnya. Dan, dalam bidang syari'atnya tapi ini, andai kata beliau tidak
berbuat ma'siat melanggar larangan Tuhan di surga, tentu kehidupan dunia ini
tidak ada kita manusia, Ya ma'af para ambiya wal mursalin, junjungan kita
Rosulillahi SAW, juga akibat dari pada ma'siatnya kanjeng Nabi Adam
'Alihissalam. Begitu para hadirin-hadirot sebagai anak cucu Nabi Adam,
seharusnya kita dapat memanfa'atkan ma'siat kita seperti halnya Beliau Nabi
Adam 'Alaihissalam. !
Kalau tidak bisa, ya,
ma'af....! lbarat anak kambing ya harus bisa suara lembek. Babonnya bisa
mengembek, anaknya juga harus bisa menggembek kalau babonnya suara lembek, kok
anaknya “hung-hung… Anak iblis para hadirin-hadirot. Ataukah “hung-hung” para hadirin-hadirot mari kita
koreksi anak kambing jadi kambing, anak anjing juga jadi anjing, Ya maaf kita harus prihatin dan harus ….ngedoki para
hadirin-hadirot, ummat dan masyarakat pada umumnya ya maaf istilah anak kambing, ya seharuanyaya
“embek-embek”. Tapi nyatanya, pada umumnya bukan “embek-embek” tapi kok
“hung-hung”, para hadirin-hadirot “embek-embek” malah tidak bisa. Ummat
masyarakat pada umumaya atau sebagian besar tidak mengikuti Nabi Adam
‘Alaihissalam, memanfaatkan dosa maksiatnya, melainkan malah seperti Iblis para
hadirin-hadirot. Mari para hadirin-hadirot kita tanggung jawab mari kita daki.
Andai kata saya bersungguh-sungguh, tentu tidak begitu keadaannya. Mari para
hadirin-hadirot, kita prihatin. AL-FAATIHAH…
AL-FAATIHAH...
Ada suatu sabda yang
menerangkan, ada seseorang yang kerena baiknya, negara dan masyarakat menjadi
baik. Tapi juga sebaliknya, ada seseorang yang karena buruknya negara dan
masyarakat atau menjadi buruk, menjadi bejad, Lha Diantara kita di mana
letaknya mari sekali lagi! AL FAATIHAH…
Diantara kita mampu “FAMAN
SYAA-A FAL YUKMIM, WAMAN SYAA-A FAL YAKFUR”. Mampu kita akan menguntungkan
membuat baik masyarakat, mampu akan merugikan menghancurkan mampu. Aku kita
mempunyai akal yang sehat sungguh-sungguh manusia, tentu memilih yang
menguntungkan: para hadirin-hadirot. Kita tingkatkan yang sebanyak-banyaknya
jauh masih, banyak sekali kemampuan kita yang belum kita pergunakan.
Kita harus husnudhon
yakin, bahwa Alloh SWT senantiasa sayang, senantiasa memberi jika terpaksa
tidak dapat husnudhon berdasarkan sifat Tuhan
harus berdasar perbuatan perlakuan Tuhan. Tuhan senantiasa bisa memberi
kita bisa begini bisa dan seterusnya. Mari kita sadari ketika kita masih berada
dalam kandungan, tidak bisa apa-apa. Kemudian dilahirkan, dibuat oleh Alloh SWT
bisa bergerak-gerak, bisa menangis, bisa menetek dan seterusnya sampai besar,
menjadi besar, menjadi besar bertambah pula kepandaian dan kecakapan yang
dibuat Tuhan kepada kita. Bertambah besar, bertambah umur bertambah pula pemberian Tuhan kepada kita.
Mari kita sadari pemberian Tuhan ini. Padahal semua pemberian-pemberian yang
evolotif dan sistimatis dan justru kita butuhkan itu, tanpa ada permintaan dari
kita manusia, para hadirin-hadirot. Mengapa kita manusia tidak mau husnudhon
bahkan husnudhon bahkan-husnul yaqin kepada Tuhan?. Perbuatan Tuhan terhadap
kita sudah fakta dan jelas kita rasakan!. Itulah kasih sayang Tuhan, kepada
kita manusia! Bahkan Alloh SWT menciptakan matahari, bulan, bintang, bumi,
daratan, lautan, pohon-pohonan, gunung, air, angin dan sebagainya justru
dipergunakan kita manusia, para hadirin-hadirot.
Sekalipun seseorang mengalami
suatu kesulitan atau kesupekan, tapi kalau mau menggali sesunggunya dalam pada
itu membawa keuntungan dan faedah serta manfaat yang besar sekali. Tidak ada
yang 100% merugikan, jadi sesungguhnya yang akan datang, lebih banyak. Lebih
banyak pemberian Tuhan, Berdasarkan perbuatan Tuhan yang telah merupakan fakta
dan kita rasa itu. Terus meningkat bertambah-tambah pemberian-pemberian Tuhan!.
Dan, sekalipun dalam satu bidang terasa merugikan, tapi kalau mau meninjau
secara keseluruhan, sesungguhnya menguntungkan.
Husnudhon atau
husnul-yaqin berdasarkan kedua-duanya tersebut, kita mampu. Sifat Tuhan yang
senantiasa kasih sayang, mampu. Berdasarkan perbuatan Tuhan atas kita yang
sudah jelas dalam fakta, kita mampu. Ya berdasarkan sifat-Nya, ya berdasarkan perbuatan-Nya.
Dan kita mampu untuk itu.
أَنَّ النَّاسَ فِى حُسْنِ الظَّنِ عَلَى قِسْمَيْنِ
خَاصَةٍ وَعَامَةٍ فَالْخَاصَّةُ حُسْنُوا الظَّنِ بِهِ لِمَا هُوَ مِنَ
النُّعْوْتِ السَّنِيَةِ وَالصِّفَاتِ الْعَلِيَةِ.
Di sini diterangkan, hubungan husnudhon, manusia dibagi dalam dua bagian
“KHOSSOH” orang khusus, dan “AAMMAH” orang umum. Yang dimaksud orang khusus di
sini yaitu orang yang pengetrapkan seperti apa yang diuraikan di atas.
Sekalipun buta huruf umpamanya, asal mengetrapkan seperti yang dibicarakan dalam
pengajian ini, itulah orang khusus. Istilah WAHIDIYAH senantiasa LILLAH-BILLAH
LIRROSUL-BIRROSUL. Tapi ini tidak berarti bahwa seorang pengamal Wahidiyah lalu
merasa lebih-lebih mengaku dirinya orang khusus atau seorang yang LILLAH
BILLAH. Ini terbalik kalau begini perasaannya keblasuk. Malah sebagai Pengamal
Wahidiyah harus justru merasa dirinya hina. Banyak dosa banyak berbuat dholim,
senantiasa merugikan dan sebagainya seperti yang kita alami ini pokoknya.
Orang khusus di sini yaitu
tadi orang yang senantiasa mengabdikan diri kepada Alloh Ta’ala. Senantiasa
sabar ridlo, tawakal tidak menjagakan kepada selain Alloh, tansah ... banyak kelau diperinci. Sekalipun
dia buta huruf !.
Adapun orang umum yang
dimaksud orang umum di sini bukan rakyat jelata, tapi orang yang tidak
mengetrapkan seperti orang khusus tadi. Sekalipun mempunyai keistimewaan,
'allamah ilmunya banyak, ibadahnya giat, tidak henti-hentinya mujahadah atau
sembahyangnya, atau ngebleng terus-terusan di dalam masjid sekalipun begitu, kalau
hatinya tidak mengetrapkan seperti itu tadi, LILLAH-BILLAH LIRROSUL-BIRROSUL
mudahnya orang umum atau menjadi orang khusus istilah di sini, Kemampuan adalah
nikmat yang harus kita syukuri.
“FAL KHOSSHOH”... Orang
khusus, berhusnudhon husnul yaqiin bahwa Tuhan Maha Pemurah, Maha Pemberi, Maha
Kasih Sayang itu memang sifat Tuhan.
Sekalipun aku sekarang menderita, tapi Tuhan tetap kasih sayang padaku.
Alhamdullilah orang khusus. Sedangkan orang umum, sehabis makan enak
Alhamdulillah nanti agak lapar .... Innaalillah !. Bingung !. mereka hanya berdasar pada perlakuan Tuhan
atas dirinya yang di alami dasarnya kenyataan. Sekalipun sakit atau melarat dan
sebagainya itu sesungguhnya nikmat, atau saking kasih sayang Tuhan tapi karena
dia orang umum istilah di sini pandangannya saya itu sudah biasa!. Sudah
maklum!. Soal materi, menjadi ngresulo, putus asa begini begitu. Hanya ketika
mampu atau keadaan normal, dia ... Alhamdullilah Itu sudah biasa!. Sudah maklum!.
كَلاَ ,إِنَ اْلاِنْسَانِ لَيَطْغَى ,أَنْ رَآهُ
اَسْتَغْنَى {علق}
Manusia!. Ketika mampu, kaya ...
berlarut-larut!. Malah kalau dia merasa kaya, ini lebih berat lagi!. Menggasap
haknya Tuhan!. Yang kaya hanya Tuhan!. Kok dia berani-berani mengaku kaya merasa mampu ?. Larut,
berlarut-larut untuk, untuk nuruti nafsunya. Untuk kepuasan nafsunya!.
Sekalipun ujudnya untuk ibadah untuk perjuangan, tapi itu hanya lahirnya saja!.
sesungguhnya itu ada pamrihnya!. Sedang lahirnya kelihatan ibadah,...
Lebih-lebih kalau maksiat Lebih larut,... jaauuh berlarut-larut…!.
Para hadirin-hadirot, diantara kita
di mana letaknya dan kita mampu. Tapi kalau orang berkhusnudhon berdasar sifat Tuhan, dalam
segala bidang dia senantiasa alhamdulillah, senantiasa memuja, senantiasa
berterima kasih kepada Alloh SAW. Sedangkan yang berkhusnudhon berdasarkan
perbuatan, ...yaitu tadi,... ketika keadaan jembar atau berlebih dia
alhamdulillah. Dan menggunakan kejembarannya itu untuk kebaikan. Tapi hanya
sebagian Tapi kalau keterlaluan, ... yaitu tadi...“KALLAA” INNAL-INSAANA LAYATHGHO
AN ROAAHUS TAGHNA...”.
Manusia kalau keadaan kaya. Istilah umum istilah khusus kalau merasa kaya
senantiasa berlacu berlarut larut !. ini sudah maklum!.
Kalau
itu tidak heran ada hadits Rosulullooh SAW yang menerangkan bahwa orang fakir
masuk syurga lebih dahulu dari pada orang-orang kaya 500 tahun lebih dahulu ini
maksud dawuh ini ya soal lahiriyah soal materi tapi yang dimaksud dengan Fakir
yaitu fakir yang sabar dan ridlo.
Ada lagi anu, tafsiran dari hadist ini
أَكْثَرَ أَهْلِ الْجَنَّةِ اْلفُقَرَآءِ {أوكما قال}
Sebahagian besar penghuni surga adalah fuqorok orang-orang miskin, melarat,
melarat dari amal, dari ibadah. Coba kita lihat bangsa Indonesia 90% umat Islam
pengakuannya. Tapi yang beramal yang konsekwen hanya berapa persen!. sekalipun dihukum
di neraka terlebih dahulu, tapi akhirnya dimasukkan surga juga. Lha yang kaya
akan amal-amal ibadah bagaimana?. Mereka jadi raja di akhirat!. lebih-lebih
amal batiniyah disamping amal lahiriyah!.
Nuwun sewu para
hadirin-hadirot, jika saudara ungguh-sungguh LILLAH BILLLAH LIRROSUL BIRROSUL
pasti jadi raja nanti di akhirat! LILLAH
BILLLAH LIRROSUL BIRROSUL !. Tapi jika kita merasa LILLAH BILLLAH, berarti kita
belum LILLAH BILLLAH, masih merasa LILLAH BILLLAH.
Ya mudah-mudahan para
hadirin-hadirot, pengajian pagi hari ini membawa manfaat maslahah dan kemajuan
yang sebanyak-banyaknya maaf kiranya cukup sekian pengajian ini dan, mohon maaf
yang sebesar-besarnya kepada hadirin-hadirot. Sekali lagi mudah-mudahan
pengajian pagi hari ini dikaruniai manfaat yang sebanyak-banyaknya. Sebab
akhir-akhir ini para hadirin-hadirot, banyak sekali atau sebagian besar ilmu
tidak bermanfaat. Sebagian besar, zaman akhir ini ilmunya tidak bermanfaat.
Tahu itu buruk, itu jelek dan ini baik. Tapi yang dikerjakan yang buruk. Ini
berarti ilmunya tidak manfaat. Mari kita doki diri kita sendiri para
hadirin-hadirot. Tahu yang itu buruk yang ini baik tapi yang dipilih justru
yang buruk. Sebagian besar umat manusia begitu para hadirin-hadirot !. Bahkan
kita sendiripun terutama… mari kita aku para hadirin-hadirot. Mari kita
prihatin. Terutama mari kita kaui hal-hal seperti itu.
Pengajian cukup sekian,
mudah-mudahan diberi manfaat yang sebanyak-banyaknya !. Amin, amin, amin. Waktu
dan tempat dipersilahkan kepada beliau dari pusat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar