Wahidiyah

Kamis, 28 Januari 2016

haqqul yaqiin - al hikam oleh muallif sholawat wahidiyah

(وَحَقُّ الْبَصِيْرَةِ يُشْهِدُكَ وُجُوْدَهُ لاَعَدَمَكَ وُجُوْدَكَ)

            “HAQQUL BASHIROR” = haknya bashiroh atau penglihatan hati yang baik atau “NUURULRAQQI” atau “IIAQQULYAQIN” semua maksudnya sama.

“Bashiroh” = penglihatan hati.

“Bashor”  = penglihatan mata lahir.

            Kalau orang sungguh-sungguh memiliki “haqid bashiroh” atau “nuurul-haqqi” atau “haqqul yaqiin”, dia merasa selama memiliki haqqul bashiroh bahwa tuhan yang ada. Lain-lain tidak  menjadi acara dalam pandangan hatinya “LAA’ADAMAKA WALAA WUJUUDAKA” soal diterima ada atau tida Abaikan peringatan k ada tidak menjadi acara.

Hanya Tuhan yang wujud titik. Istighroq badannya serdiri atau makhluk lain-lain lebih-lebih sama sekali tidak menjadi acara tidak nampak oleh penglihatan mata hatinya.

            Hanya tuhan menjadi acara seperti halnya orang “kami tenggengen” terpesona yang sangat kuat sehingga tidak mengingat kepada yang lain-lain. Termasuk dirinya sendiripun tidak ingat. Bahkan tidak terasa. Terpaku oleh,.... hanya satu hal. Dalam hal ini hanya tuhan. Istighroq. Tenggelam dalam ke-Esaan Tuhan.

            Ketiga keyakinan di atas, “ILMU YAQIN, AINUL YAQIN dan HAQQUL YAQIN, saya gambarkan lagi. Begini. Kita di sini di serambi mesjid ini. Mengerti meyakini bahwa disebelah timur itu ada sungai brantas. Di situ memang ada sungai brantas sungguh. Lha ini namanya “Ilmu-yaqin” Lha kalau kita berada ditebingnya sungai brantas itu, itu “ainul-yaqin” sedangkan “haqquI yaqin” sudah menjadi air. Hanya air sungai Pen. Titik. Dirinya sendiri, gampengnya sungai, sungainya dan lain-lain tidak masuk acara. Sekalipun sudah masuk ke dalam sungai tapi belum menjadi air, ini namanya masih “alnul yaqin”. Itu tadi gambaran.

            Ya mudah-mudahan kita dikaruniai memiliki haqqul yaqin yang sempurna watamaama ma’rifatika. Kita kewajiban usaha, berjuang. Kalau kita sungguh-sungguh berjuang, 'WALLAZIINA JAADUHUU FIINA LANADHIYANNAHUM SUBUULANA. Dan orang-orang yang sungguh-sungguh bermujahadah berusaha berjuang di dalam jalan-ku, pasti AKU tunjukkan jalan-Ku.

            Malah, dalam hadits Qudsi disebutkan yang maksudnya. JIka seorang hamba mendekat kepada tuhan satu meter misalnya, Tuhan mendekati dia sepuluh meter paling sedikit. Jika sihamba maju sepuluh-meter, tuhan maju mendekatinya seratus meter paling sedikit. Itu kalau digambarkan materi atau dilbaratkan berhadap-hadapan. Begitalah para hadirin-hadirot, kemurahan Tuhan. Digambarkan  dengan kecepatan misalnya, kalau si hamba mendekatnya kepada Tuhanya dengan jalan kaki, Tuhan mendekati si hamba dengan berlari  kalau sihamba mendekatnya kepada Tuhan dengan kecepatan 100 itu kalau diibaratkan dengan kendaraan , Tuhan mendekati si hamba dengan kecepatan  seribu minim pokoknya “bi’asyaroti amsaaiha” dengan sepuluh kali lipat begitu para hadirin-hadirot kemurahan Tuhan kepada diantara kita, bagaimana para hadirin-hadirot?. Menyadarikah kemurahan Tuhan itu ! Dan sampai dimana kesadaran kita para hadirin-hadirot.

            Para hadirin-hadirot, kita bisa ambil sebagai  imbangan sebagai gambaran. Seorang rakyat kecil yang ingin menghadap kepada pejabat tinggi lebih-lebih presidennya, ini jauh lebih sulit para hadirin-hadirot. Rakyat jelata yang yang ingin mendapat parhatian dari Kepala Desanya saja, sudah dengan susah payah usahanya. Dan sunguhpun demikian, hasilnya hanya sedikit sekali. Pada umumnya tidak sesuai dengan biayanya atau jerih payahnya. Malah, mungkin jangan-jangan dicurigai para hadirin-hadirot. Malah. para hadirin-hadirot, sekalipun Bapak Presiden atau Bupati atau Camat mempunyai hak tarhadap rakyatnya, sekalipun begitu para hadirin-hadirot, jika tidak dikodar oleh Tuhan, tidak akan terlaksana para hadirin-hadirot. Tuhan tidak kesulitan menciptakan sebab-sebab yang menjadi gagalnya suatu masalah, sekalipun sudah diatur serapi-rapinya. Sekalipun ibaratnya tinggal muluk, tinggal “nyendok”, kalau Tuhan tidak menghendaki, gampang “KUN FAYAKUUNU” Ini kekuasaan Tuhan, para hadirin-hadirot!.

            Tapi para hadirin-hadirot, kalau didekat oleh Tuhan, tidak ada yang dapat manghalang-halangi  para hadirin-hadirot. Dan caranya seperti disebutkan Hadist Qudsi tadi kalau sihamba mendekat sedangkah, tuhan maju mendekat sihamba tadi sepuluh jangkah minim.
            Para hadirin-hadirot, Mari belajar, Belajar, belajar menjadi orang dewasa yang memiliki fikiran yang normal yang pandai menanggapi segala sesuatu dengan semestinya. Mari para hadirin-hadirot, kalau mulai sekarang kita tidak belajar, tidak berjuang.untuk itu para hadirin-hadirot, kita sendiri yang rugi besok, terutama kalau sudah dicabut Isroil para hadirin-hadirot. Mari para hadirin-hadirot Asal kita mau usaha berjuang yang, sedapat-dapatnya para hadirin-hadirot, kita yakin kelak akan menemui suatu kebahagiaan abadi yang tidak dapat digambarkan betapa besaraya para hadirin-hadirot, terutama sesudah berada di kubur, dialam akhirot.

الْقَبْرُ رَوْضَةٌ مِنْ ِريَاضِ الْجَنَّةِ أَوْحُفْرَةٌ مِنْ حُفْرَةِ النَّارِ

            Alam kubur, atau alam barzkah bisa merupakan “taman” dari berbagai taman surga, atau bisa juga merupakan bagian dari pada neraka.
            Para hadirin-hadirot, ketika nyawa dicabut oleh Malaikat lzroil spontan mengalami alam surga atau alam neraka, para hadirin-hadirot. Dan makin lama makin berat, para hadirin-hadirot. Apakah menunggu itu, para hadirin-hadirot?. mari para hadirin-hadirot .

وَالْحَاصِلْ اَنَّ السَّالِكَ يَهْتِفُ عَلَى قَلْبِهِ أَنْوَارٌ إِلَهَيِّةٌ يُعَبَّرُ عَنْهَا بِهَذِهِ الْعِبَارَاتِ وُيُتَرَتَّبُ عَلَى كُلِّ وَاحِدٍ ثَمَرَاتٌ وَفَوَائِدُ.

            Jadi kesimpulannya, orang yang sungguh-sungguh mau mendekat kepada Tuhan, dengan mengamalkan atau memperhatikan apa yang harus diamalkan, apa yang harus diperhatikan, umpama dalam Wahidiyah ya senantiasa dapat mengadakan mujahadah-mujahadah dalam segala bidangnya, dan senantiasa mengatur hatinya, senantiasa yah separti sudah kita, maklumi, otomatis, yah otomatis nanti Alloh akan memberikan buah yang jauh lebih besar dari pada jerih payahnya hasilnya jauh lebih besar tidak dapat di perhitungkan minim sepuluh kali lipat. Sepuluh kali... “ila ab’I minati dli’fin”. Sepuluh kali sampai tujuh ratus kali lipat!. salikang... “ilaa maa laa yaglmuhu ilafloh”. sampai jumlah lipatan yang tidak bisa diketahui kecuali oleh Tuhan banyaknya, dari baiknya, dari pokoknya tidak bisa digambarkan.
Yah, pada umumnya “lipat ganda” itu melihat-lihat kuwalitasaya. Kalau kuwalitasnya sungguh-sungguh baik, otomatis lipat gandanya paling balk. Dan seterusnya. Paling diridloi. Kalau khusyuknya paling khusyuk, lebih takzim, lebih rindu, lebih perhatian,... otomatis lehih banyak lipat ganda yang diparolehnya. Mari para hadirin-hadirot, kita tingkatkan. Disamping kuwantitas, atau jumlah banyaknya, kuwalitasnya terutama! Mutunya! Mari kita tingkatkan yang setinggi-tingginya!.

قَالَ بَعْضُهُمْ وَلاَ يَبْلُغُ الْعَبْدُ حَقِيْقَتَهُ التَّوَاضُعِ اِلاَّ عِنْدَ لَمَعَانِ نُوْرِ الْمُشَهَادَةِ فِى قَلْبِهِ فَعِنْدَا ذَلِكَ تَذُوْبُ النَّفْشَ وَتَنْطَبِعُ لَلْحَقْ وَلِلْخَقِّ بِمَهْوِ أَثَارِاهَا وَسُكُوْنِ وَهِجَهَا وَغُبَارِهَا

            Badul 'Arifin, setengah orang Arifin mengatakan. Pokoknya, orang tidak dapat tawadluk yang sungguh-sungguh dan otomatis menjadi selalu takabbur “tawadluk kebalikan dari takabbur” orang tidak bisa hilang takabburnya kecuali apabila mendapat sinar atau sorotan “nur Musyahadah”. Syuhud pada Alloh SWT !. Istilah umum yang ringan, “sadar” kepada Alloh SWT Apabila orang mendapat sinar atau cahaya syuhud pada Alloh, pasti hancur nafsunya! Ananiyahnya hancur. BILLAH senantiasa!. Senantiasa menyerah bongkokan pada Tuhan senantiasa tawadluk, tidak sombong! Tidak sombong kepada sesamanya hilang, lenyap, ekses atau negatifnya nafsu. Negatifnya nafsu yang menyebabkan sombong, kikir, dan sebagainya. Lalu diantara kita bagaimana, mari kita koreksi. Apakah sudah sungguh-sunggub syuhud, sadar kepada Alloh kah, atau bagaimana, mari kita koreksi diri kita masing-masing.

            Kalau orang sungguh-sungguh sadar kepada Alloh SWT, istilah Wahidiyah LILLAH BILLAH, otomatis menjadi “DHILLUL-ILAHI”.Menjadi bayangan Tuhan. Akhlaknya selalu akhlak Tuhan. Antara lain rohman-rohim. Artinya, akhlaknya selalu, merasa kaya. Kaya tidak membutuhkan orang lain. Hanya butuh kepada Tuhan malah bilamana perlu, “kun fayakuun”. Dia menjadi orang yang suka pemaaf, suka menolong, dan sebagainya!.

مَنْ أَكْرَامَهُ فَقَدْ اَكْرَمَ الله َ, وَمَنْ عَظَّمَهُ فَقَدْ عَظَّمَ الله

            Barang siapa menghormat orang lain yang seleri itu sifat-sifatnya, berarti menghormati Tuhan. Dan barang siapa memulyakannya, berarti mangagungkan Alloh. Tapi sebaliknya.

مَنْ أَهَانَهُ فَقَدْ اَهَانَ الله

            Barang siapa yang menyakiti, melukai, menghina, mengejek kepadanya, berarti mengejek kepada Tuhan!
Awas nanti !.
وَبَيْنَ الْمُصَنِفُ أَنَّ الَّذِى يَنْكَشِّفُ بِالنُّوْرِ اْلاَوَلِ قُرْبُ اللهِ مِنْكَ وَثَمْرَاتُ ذَلِكَ وَنَتِيْجَتُهُ مُرَاقَبَتُهُ تَعاَلَى وَاْلاِ سْتِحْيَاءُ مِنْهُ حَتَى لاَيَرَاكَ حَيْثُ نَهَاك َوَلاَ يَفْتِدَكَ حَيْثُ اَمَرَاكَ

    Selanjutnya Kyai Mushonnef menerangkan Orang yang dikaruniai Nur yang pertama tadi, yang paling redah sendiri Nur yang paling rendah, orang yang di karuniai itu merasa dekat, lebih dekat kepada Alloh SWT, otomatis dia selalu “muroqobah” selalu merasa saya ini senantiasa diincer oleh Tuhan tidak berani berkutik sedikitpun, Karena merasa senantiasa diawali oleh tuhan ibarat materi boleh dikatakan umpamanya saya beharap saudara  dengan berdiri atau duduk atau berbaring.sedangkan di kanan-kiri ada jurang yang sangat curam di samping api yang berkobar kobar otomatis tidak berani bergerak sedikitpun bahkan berkedip pun tidak berani. Bahkan bernafas pun sudah “ngempet mbekan” kata bahasa Jawa  Itu, para hadirin-hadirot, kalau orang sungguh-sunguh “muroqobah”, merasa senantiasa di bawah pengawasan Tuhan yang Maha Agung Maha Kuasa. Sesungguhnya bahkan jauh dari pada gambaran itu karena sekalipun betapa hebatnya (gambaran saya tadi), itu adalah hanya ciptaan Tuhan. Sedang
terhadapTuhan, Tuhan adalah Penciptanya, para hadirin-hadirot jauh sekali!. 

            Ibaratnya lagi, saudara mempunyai senjata tajam atau senjata yang paling ampuh sekalipun, tapi kalau tidak saudara pergunakan tidak ada gunanya, tidak berarti sama sekali sekalipun ampuh sekali kalau tidak digunakan tidak ada artinya senjata atom sekalipm kalau tidak ada orangnya yang menggunakam, sama sekali tidak memberi manfaat atau menjadikan bahaya. Sesungguhnya yang harus di takuti orangnya, para hadirin-hadirot  Sebab dia yang menentukan kalau tidak ada orangnya sama sekali tidak ada gunanya baik guna yang menguntungkan atau menghancurkan.

            Yah. Itu tadi hanya gambaran. Gambaran itu Maya sekedar untuk mendekatkan pengertian sehingga mudah diterima, mudah dimengerti. Didalam Al-Qur'an sendiripun banyak gambaran-gambaran supaya manusia mudah memahaminya.

            Jadi, kembali kalau orang memiliki Nur yang pertama tadi yaitu “syu’aa-ul bashiroh”, dia selalu dalam keadaan “moroqobah”. Menerjang atau membangkang ketentuan Tuhan otomatis tidak berani. Sekalipun tidak ada orang lain yang melihatnya. Sebab dia senantiasa merasa diincar. Diincar dengan incaran yang tidak dapat digambarkan tajam dan telitinya Ya mudah-mudahan kita dikaruniai seperti itu para hadirin-hadirot. Kalau orang dikaruniai seperti itu, otomatis dekat yang saya maksud dekat di sini, dikasihi disayangi diridloi oleh Alloh SWT.

وَالَّذِى يَنْكَشِفُ بِالثَّانِىعَدَمِّيْةُ كُلِّ مَوْجُوْدٍ فِى وُجُوْدٍ الْحَقِّ تَعَالَى فَيُشْهِدُ اْلأَكْوَانَ عَدَمًا ..

            Orang yang memiliki bashiroh yang kedua tadi, yaitu “ainul bashiroh” atau “ainul-yaqiin” atau “nuurui-ilmi”, otomatis dia senantiasa merasa bahwa yang wujud hanya Tuhan  Semuanya ini selain Tuhan tidak ada.
فَيُشْهِدُ اْلأَكْوَانَ عَدَمًا فَلاَيَعْبَأُ بِهَا وَلاَ يَلْتَفِتُ اِلَيْهَا اِذْ وُجُوْدُهَا عَارِيَةٌ

Dia hanya Tuhan yang nampak dalam pandangan hatinya. Dirinya sendiri dan makhluq yang lain-lain ini hanya wujud bayangan. Oleh karena itu dia tidak ambil perduli tidak terpengaruh oleh makhluq yang wujud bayangan itu. Tidak gentar, tidak takut, tidak kepencut, tidak terpengaruh mengapa ditakut, mengapa pengaruhi. Sekalipun kelihatannya mengkilat, itu hanya bayangan. Sekalipun kelihatan seram dan menakutkan, sesungguhnya hanya bayangan Sekalipun kelihatan menggiurkan begini begitu, apabila orang dikaruniai bashiroh yang kedua tadi, dia tidak kepencut sama sekali tidak terpengaruh tidak takut, tidak kawatir, tidak menjagakan tidak menjagakan sawahnya, pasarnya, gajihnya sendiri, kepandaiannya, kemampuannya, keahliannya sama sekali tidak menjagakan. Oleh karena itu semua adalah bayangan dan ini bayangan ini sesungguhnya hanyalah bayangan. Sesungguhnya bayangan nyocoki dengan keadaan yang sesungguhnya bayangan.

            Oleh karena misalnya sawahnya sungguhlah luas, subur, tapi terkena hama wereng sudah qiamat? Apa itu mau di jagakan? Sekalipun menguntungkan, hanya bayangan, sekalipun merugikan, mari kita koreksi masing-masing pandangan kita seperti itu atau tidak, kalau tidak ini namanya tidak nyocoki dengan keadaan sesungguhnya, para hadirin-hadirot keadaan sesungguhnya semuanya ini adalah bayangan para hadirin-hadirot, bayangan!.

            lbaratnya di muka kita ada gelas yang sesungguhnya berisi racun. Tapi oleh karena didorong dan terpengaruh oleh rasa haus dan terpengaruh oleh isi gelas yang kita duga minuman Iezat yang menghilangkan rasa haus, lalu kita minum. Waktu minum mungkin belum merasa itu sesungguhnya racun. Tapi setelah itu para hadirin-hadirot, kita menjadi sekarat, karena minum racun kita semua akan mangalami kelak di kemudian hari ketika didunia peranan kita itu hanya bayangan yang nyocoki dengan keadaan sesungguhnya ataukah hanya perasaan begitu saja, ini semua kita masing-masing akan mengalami kelak dikemudian hari para hadirin-hadirot. Ketika nyawa dicabut Izroil, merasakan  Pandangan kita ketika minum misaInya, apakah yang kita minum dulu itu sungguh-sungguh sirup atau racun, nanti ketika Izroil datang mengalami para hadirin-hadirot, keadaan yang sesungguhnya kalau racun, merasakan beratnya sakit akibat keracunan para hadirin-hadirot tapi kalau benar sirup juga akan merasakan lezatnya pada ketika Izroil mencabut roh kita para hadirin-hadirot. Alangkah lezatnya ya mudah-mudahan para hadirin-hadirot pandangan kita selama didunia ini sungguh-sungguh nyocoki dengan keadaan sesungguhnya para hadirin-hadirot. Racun, kita tahu bahwa itu racun, dan kalau strup kita juga tabu itu sirup Ya mudah-mudahan tidak keliru pandangan kita ini. Kalau pandangan terlanjur keliru, salah pasti nanti akan merasakan betapa beratnya kalau tepat cocok, kita akan merasakan lezatnya  Mudah-mudahan kita senantiasa dilindungi oleh Alloh SWT Amiin!.

            Jadi, kembali lagi, orang yang memiliki “bashiroh” pandangan hati seperi nomer dua yaitu “ainul bashiro”, otomatis memandang makhluq termasuk dirinya sendiri hanya sebagai bayangan. Sama sekali tidak terpengaruh! Tidak selalu ngresulo ketika mlarat atau menghadapi musibah atau ujian. Melainkan senantiasa ridlo kepada Alloh SWT. Kaya tidak sombong, ini hanya bayangan! kalau saya salah gunakan otomatis mencekik leher ini. Racun ini otomatis kalau orang mempumyai pandangan begitu para hadirin-hadirot yang wujud dan kekal hanya Alloh SWT. Adapun makhluq, “KULLU SYAIIN HAALIKUN ILLA WAJHAHU”. Segala sesuatu pasti hancur kecuali hanya tuhan yang kekal abadi tidak hancur dan tidak berubah. Dan selain itu, fakta dalam pengalaman banyak terjadi. Kemarin masih sehat segar bugar gagah perkasa, sekarang sudah menjadi layatan. Kemarin masih kaya masih lincah, sekarang sudah berteriak-teriak minta tolong. Ini pengalaman, para hadirin-hadirot coba itu lihat yang sebaya dengan Saudara. lebih tua atau lebih muda di bawah saudara. Ini semua harus kita manfaatkan.
            Banyak sekali kejadian-kejadian yang mengejutkan, yang datangnya secara mendadak. Ini semua, sesungguhnya kita selalu diperingatkan oleh Alloh SWT para hadirin-hadirot. Tapi lalu bagaimana?. Kita terima dengan penuh perhatian ataukah kita masa bodoh begitu saja, para hadirin-hadirot?. Karena hanya belas kasihan Alloh SWT senantiasa memperingatkan kepada hamba-Nya para hadirin-hadirot. Lalu diantara kita bagaimana tanggapan kita diwelasi disayang oleh Alloh SWT?. Alloh SWT senantiasa memberi peringatan dengan bermacam-macam keadaan! Baik keadaan menggelisahkan, keadaan mengejutkan, keadaan megecewakan, keadaan-keadaan menggembirakan malah, dan keadaan-keadaan, banyak para hadirin-hadirot !. Saking kasih sayangnya Alloh SWT! Tapi pada umumnya para hadirin-hadirot, yang disayangi ini yang tidak merasa! Malah acuh tak acuh, mempermainkan dan sombong.

            Masih baik pohon-pohonan! Pohon mangga atau pohon jambu misaInya, biar dilempari batu malah membalas dengan buah mangga atau buah jambu. Kok lebih baik pohon mangga atau pohon jambu pada umumnya para hadirin-hadirot!. Maaf, ditolong mentung malah memukul pada umumnya para hadirin-hadirot! dalam keadaan ini! AL Fatihah.

وَثَمْرَةُ ذَلِكَ أَنَ لاَيَبْقَى فِىنَظْرِكَ مَا تَسْقَنِدُ إِلَيْهِ وَ لاَ مَا تَسْتَأْنِسُ بِهِ فَيَتِمُّ لَكَ التَّوَكُلُ وَالتَّفْوِيْضُ وَالرِّضَا وَاْلاِ سْتِسْلاَمُ

            Buahnya, apabila kita senantiasa begitu otomatis kita tidak terpengaruh oleh segala sesuatu yang menguntungkan yang menyenangkan atau yang merugikan sekalipun!. Karena yakin bahwa sekalipun itu menguntungkan tapi hanya sementara! Malah, sekalipan wujudnya menguntungkan, tapi bisa juga merugikan apabila kita salah gunakan! Dia senantiasa tidak jenak, tidak bisa mesra diwaktu berhadapan atau jagongan dengan siapapun. Karena kesemuanya itu hanya merugikan. Kecuali hanya berhadap Tuhan, sowan di hadapan Tuhan, dia merasa jenak, merasa tenang dan merasa mesra. Sebab hanya Tuhan yang memberi dan membawa keuntungan dan kebahagiaan! Semuanya itu, selain Tuhan, merugikan! otomatis!. Berkumpul atau bersama-sama dengan apa-apa yang diridloi Alloh SWT otomatis sama dengan barada dihadapan Aloh SWT. Dia menjadi tenang tentram asyik diwaktu berkumpul dengan apa-apa dan siapa-siapa orang yang diridloi Alloh SWT.
اْلأَخِلآءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلاَّ الْمُتَّقِيْنَ {الزحرف ٦٧}

            Orang-orang yang berkawan, bersaudara yang saling berhubungan, besok pada yaumul qiyamah saling bermusuhan, para hadirin-hadirot!. Kecuali mereka yang di dalam melakukan. Saling tuntut menuntut. berkawan bersaudara itu berdasarkan taqwa, LILLAH BILLAH. LIRROSUL BIRROSUL istilah  Wahidiyah!. Kalau tidak berdasar atas taqwa, LILLAH BILLAH LIRROSUL BIRROSUL otomatis besok saling bermusuhan satu sama lain!. Pasti para hadirin-hadirot!. Baik itu hubungan antar keluarga sama keluarga., Anak orang tua, orang tua-anak! atau kawan atau tetangga pokoknya semua hubungan di dunia. “ILLAL MUTTAQIN” para hadirin-hadirot!. Besok saling dorong mendorong ke neraka. Mana yang kalah mana yang menang!. Atau keduanya salah, semuanya masuk bersama-sama ke dalam neraka, para hadirin-hadirot!.

            Mari para hadirin-hadirot, kita menaruh perhatian yang sungguh-sungguh yang sebanyak-banyaknya!. Kalau orang memiliki “ainul bashiroh” otomatis senantiasa tawakkal, senantiasa ridlo. Diantara kita sudah begitu ataukah belum, mari para hadirin-hadirot kita lihat!.
وَالَّذِى يَنْكَشِفُ بِالثَّالِثِ الذَّاتُ الْمُقَدَسَةِ ,وَثَـمْرَةُ ذَلِكَ الْفَنَاءُ الْكَامِلُ الَّذِى هُوَ دِهْلِيْزُ الْبَقَآءِ فَيَفْنَى عَنْ فَنَآئِهِ وَعَدَمِهِ اِسْتِهْلاَكاً فِى وُجُوْدِ سَيِّدِهِ ,وَنَاهِيْكَ بِمَا يَحْصُلُ لَهُ حِيْنَئِذٍ مِنَ الْمَوَاهِبِ والاَسْرَارِ اْْلإِلَهِيَّةِ فَإِذًا تَرَقَّى عَنْ ذَلِكَ حَلَّ فِى مَقَامِ الْبَقَآءِ
 
Orang yang dikaruniai “bashiroh” jenis nomer tiga, Yaitu “haqqul bashiroh” atau “haqqul yaqiin” atau “nuurul haqqii”, dan ini yang paling sempurna sendiri, buahnya yaitu difanak pada Alloh SWT. Hilang lenyap ANANIYAH-nya. Ke-akuan-nya, egoisnya hilang sama sekali. Tidak mengaku! Tidak ujub tidak takabbur! Riya’ dan sebagainya otomatis lenyap dari dirinya. Tidak merasa “saya bisa saya kuasa” dan sebagainya.

            FANAK ada tiga macam.

            FANAK SIFAT : Saya tidak merasa mempunyai kemampuan atau kepandaian!. ini semua Alloh yang punya yang menggerakkan, yang ... yang... yang...  semua Alloh! Saya tidak bisa berjuang begini begitu, ini Tuhan!. Saya tidak ada. Ini Tuhan “WANAHIIKA” ditanyakan lagi, buahnya! Jangan ditanya lagi Alloh SWT yang senantiasa diberikan orang seperti itu!. Pokoknya tidak bisa diketahui kecuali hanya Tuhan yang Maha mengetahui segala-galanya! Ya mudah-mudahan para hadirin-hadirot  kita dikaruniai Alloh SWT fadlol yang sebanyak-banyaknya! yang sempurna-sempurnanya! kalau orang sudah seperti yang diterangkan di atas ini, dia memiliki tingkatan atau martabah, MARTABATUL WAHIDIYAH namanya. Yaitu BILLAH. Atau MARTABAH MOHAMMADIYAH. Orang yang seperti itu, seperti saya kemukakan tadi, “DHILLUL ILLAHI. Bayangan Tuhan, atau orang seperti itu, adalah “KHOLILFATULLOH” wakil Tuhan.

            Para hadirin-hadirot, tidak bisa dibayangkan, keadaan dia besok diakhirot! Dikagumi oleh makhluq-makhluq lain! ya mudah-mudahan para hadirin-hadirot, pengajian pagi ini benar-benar diridloi oleh Alloh SWT Rosuulihi SAW !


{كَانَ الله ُوَلاَ شَئَ مَعَهُ وَهُوَ اْلآَنَ عَلَى مَاعَلَيْهِ كَانَ }
Orang yang fanak, orang yang hilang ananiyahnya, hanya Alloh “KAANA LLOHU WALA SYAIAMAI’AHUM”. Hanya Alloh Pentitik “WA HUWAL-AAN ‘ALA MA ‘ALAIHI KAANA”. Dia sekarang baru merasakan, bahwa sesungguhnya hanya Tuhan yang ada! Baru merasakan!.

            Orang yang belum fanak, belum hilang ananiyahnya, belum merasakan. Paling-paling hanya ilmiyah! Yah, tapi minim harus ilmiyah! Sekalipun belum merasakan. Kalau sudah merasakan baru menyadari bahwa sesugguhnya yang ada hanya Tuhan. ibarat orang tidur sedang bermimpi semua
النَّاسُ نِيَامٌ

Umat manusia itu semua tidur nyeyak pada umumnya!. Mimpi dan mengigau-nglindur!

فَإِذَا مَاتُوْا اَنْتَبَهُوْا

            Nanti kalau sudah dicabut Izroil terkejut, ketika bermimpi seperti sungguh-sungguh terjadi. Tapi setelah bangun, tidak ada apa-apa! ini para hadirin-hadirot. Ya untung kalau hanya seperti mimpi saja. Sesungguhnya keadaan kita ini jauh dari pada itu! Dikiranya tidak apa-apa, dikiranya menguntungkan. Tapi nanti ketika dicabut rohnya oleh izroil, tidak dapat dibayangkan beratnya para hadirin-hadirot !.

            Seperti sering saya utarakan, atau juga oleh pusat, ketika orang menghadapi lzroil, jenggelel, ndrodog, lumpuh, para hadirin-hadirot!. baik orang tidak sakit, lebih-lebih kalau sakit, kok tahu-tahu jenggelek Izroil, lumpuh sama sekali! Lemas dia merengek-rengek ngrepo-ngrepo pada Izroil. Sudilah ditunda sehari saja ya Izroil, saya  bertobat!

 “Tidak ada hari”!

“Setengah hari saja”.

“satu jam saja, satu menit, setengah menit. Tidak digubris oleh Izroil para hadirin-hadirot! Dalam keadaan yang sangat gawat sekali ini para hadirin-hadirot, andai kata kita mempunyai emas se-Jagad dan minta diundur sehari saja dikabulkan, bungahnya tidak bisa digammbarkan para hadirin-hadirot! tapi mana boleh jadi, para hadirin-hadirot !

            Qodarnya Allob SWT tidak bisa dirobah merasakan bagaimana beratnya para hadirin-hadirot!. Apakah kita harus menunggu keadaan begitu para hadirin-hadirot ?.

            Ya muda-mudahan para hadirin-hadirot, kita di ampuni oleh SWT. Di karuniai hidayah dan taufiq yang sebanyak-banyaknya diberi syafaat Tarbiayah barokah karomah nadroh oleh Rosulihi SAW, oleh Ghousi  Hadhaz Zamani wa A’waanihi asaairi Ahbaa Billahi radiyaallohu Ta’ala ‘anhum.
           
            Para hadirin-hadirot. Pengajian kiranya cukup sekian saja. Dan sekali lagi mudah-mudahan benar-henar diridloi Alloh SWT wa Rosuulihi SAW. Benar-benar bermafaat berbarokah bermaslahah, dan membawa kemajuan yang sebesar-besarnya bagi kita bersama. Selanjutnya waktu dan tempat dipersilahkan kepada beliau dari pusat.










Kamis, 21 Januari 2016

orang khusus - al hikam oleh muallif sholawat wahiiyah

ِبسْمِ اللهِ الرَّحْـمَنِ الرَّحِيْمِ
لاَ تَتَعَدِّى نِيَةُ هِمَتِكَ إِلَى غَيْرِهِ
بِأَنْ تَتَوَجَّهَ إِلَى غَيْرِهِ لِتَحْصِيْلِ حَاجَتِكَ بَلْ أُطْلُبْ حَوَائِجَكَ مِنْهُ

            Jangan sekali-kali niatmu, himmahmu atau maksudmu engkau tujukan kepada selain TUHAN, menjagakan kepada selain TUHAN, artinya orang lain, atau dirinya sendiri, usahannya, kekayaannya, sawahnya, pasarnya, perusahannya, ilmunya, keahliannya dan sebagainya dan sebagainya, jangan sekalli-kali engkau jadikan pegangan!. Sebab apa saja selain TUHAN itu tidak bisa dibuat pegangan, tidak bisa dijagakan,. Sekalipun wujudnya kelihatannya bisa, bisa menjagakan sawahnya, pasarnya, usahanya dan lain-lain sebagainya itu, tetapi sesungguhnya kesemuanya itu tergantung pada Alloh SWT. Jadi dalam segi hakikot kita tidak boleh menjagakan selain Tuhan. Tidak boleh menuju selain Tuhan. Sebab, ya itu tadi, tidak semestinya dan apa saja selain Tuhan itu sesungguhnya tergantung pada Tuhan. Dibuat berhasil ya berhasil, dibuat hancur ya hancur, tidak ya tidak.

            Itu tadi dalam bidang haqiqot harus begitu perasaan kita adapun dalam bidang syariat kita harus usaha, harus ikhtiar begini begitu, dan harus ada perhitungen dan sebagainya dam sebagainya.

التَّدْبِيْرُ نِصْفُ الْمَعِيْشَةِ
Berpenghitungan dan mengatur menurut syarat-syarat yang semestinya. Itu adalah separo dari ma’isyah, separo dari perhitungan. Dalam syariatnya kesemuanya itu harus kita laksanakan. Tapi dalam bidang haqiqot harus, ... harus hanya Alloh SWT yang kita jagakan yang kita tuju. Sebab kesemuanya itu adalah BILLAH  Tuhan yang mencipta dan menitahkan!
{فَالْكَرِيْمُ لاَ تَتَخَطَاهُ اْلأَمَالُ}
            Disamping itu, karena yang maha loman adalah hanya Alloh, sedangkan lainnya, seandainya ada yang loman, itu karena mendapat tetesan dari lautan kelomananya Tuhan. Istilah lain dilontankan oleh Alloh Ta'ala :
“FAL KARIIM LAA TATAKHOTHTHOOHUL AAMAAL”
Dzat yang Maha Loman, fikiran, perhitungan, angan-angan tidak bisa menggambarkan betapa itu!

فَالْهِمَّةُ الْعَالِيَّةُ تَأْنَفُ مِنْ رَفْعِ حَوَائِجِكَ إِلَى غَيْرِ كَرِيْمٍ وَلاَ كَرِيْمَ  فِى الْحَقِيْقَةِ اِلاَّ اللهُ
           
            Orang yang sehat Pikirannya, yang tinggi cita-citanya otomatis tidak menjagakan kepada siapapun yang tidak punya sifat loman-pemberi. Melainkan menggantungkan tujuan dam harapan hanya kepada Tuhan Yang Maha Loman. Yang Maha Loman hanya Alloh SWT!.
اِذَ الْكَرِيْمُ هُوَ الَّذِى إِذَاقَدَّرَ عَفَا وَاِذَا وَعَدَ وَفِى وَاِذَا أَعْطَى زَادَ عَلَى مُنْتَهَى الرِّجَا وَلاَ يُبَالِى كَمْ أَعْطَى وَلَا لِمَنْ أَعْطَى

            Definisi “KARIM”, ta’rif “KARIM” yaitu “IDZII QODARO” mampu menghukum tapi memberi maaf umpamanya, diejek atau dirugikan orang lain. Dia mampu menghukum atau mengambil tindakan, tetapi dia memberi maaf padahal umumnya orang, terutama yang masih dikuasai oleh nafsu, ibarat dipukul sekali membalasnya berpuluh kali pukulan. Tapi Alloh SWT senantiasa memberi, ... memberi, .... memberi. Memberi rizqi, memberi nikmat, memberi fadlol, memberi   tak dapat dihitung banyaknya!. Tapi anehnya, hamba-Nya yang diberi, makin banyak menerima pemberian dari Tuhannya, makin merajalela menyakitkan melukai kepada Si-Pemberi. Sunggupun begitu Alloh Ta’ala tidak mengambil ketegasan melainkan memberi maaf!. Itu Alloh SWT Itu “KARIM”. Sekalipun yang diberi itu melukai begitu yang tidak bisa digambarkan terlalunya, kalau dia mau minta maaf mohon ampun sekali saja, biar betapapun terlatunya didalam melukai, masih saja berkenan memberi ampun memberi maaf!. inilah “KARIM” WA IDZAA WA’ADA WAFA”.  Jika memberi janji dipenuhi. Malah lebih dari pada itu. “WA IDZAA AKHTO ZAADA ‘ALA MUTAHAR ROJA”. Jika memberi, jauh lebih banyak dari apa yang diharapkan oleh si penerima. Inilah sifat “KARIIM”, sifatnya zat yang Maha Loman. “WALA YUBALI KAM AKHTOO WALA LIMAN AKHTO”  dan tidak peduli, berapa banyaknya yang diberikan dan siapa saja yang tidak pandang orang. Sekalipun senantiasa disalahgunakan, tetap masih diberi. Terus diberi senantiasa, dalam segala bidang!. “WA IDZAA JUFIA’AATABA WA MASTAQHTO” Jika si-penerima pemberian tidak man tahu, tidak terima kasih, malah mengecam, diperingatkan dan tidak diambil ketegasan seketika!. “WALAA YUDLOYYTU MAN LAADZA BIHI”  dan tidak menyia-nyiakan tidak akan mengecewakan orang yang mengungsi orang yang membutuhkan padanya. Malah pemberiannya itu jauh lebih banyak lebih baik. Baik... dari apa yang diinginkan dan apa yang diperhitungkan oleh yang  membutuhkan itu. “WA YUGHNIHI AMIL WASAAILI WAS SYUFA’A” dan tidak mensyaratkan, harus ada perantara harus ada syafaat!. Langsung, ada pada Alloh SWT.

فَيَنْبَغِى اَنْ لَا تَتَحَطَاهُ أَمَالَ الْمُؤَمِلِيْنَ إِلَى غَيْرِهِ

            Maka dari itu jangan sekali-kali kita menuju, jangan sekali-kali kita menjagakan selain Alloh SWT !.

            Para hadirin-hadirot ini perlu adanya pengetrapan!. Bagaimana keadaan sehari-hari kita. Sekalipun tidak menjagakan orang lain, kawan dan sebagainya, apakah sudah sungguh-sungguh nyocoki dengan apa yang diperingatkan oleh Muallif Hikam ini. Kita boleh saja lahirnya menjagakan kepada orang lain atau kepada apa saja, tapi dalam hati kecil kita harus, ... harus itu tadi, hanya kepada Alloh SWT.

الْكَامِلُ مَنْ يَكُوْنُ الْجَمْعُ فِى بَاطِنِهِ مَشْهُوْدًا وَالْفَرْقَ فِى ظَاهِرِهِ مَوْجُوْدًا

            Orang yang Kaamil, yang sempurna, batinnya, hatinya, jiwanya senantiasa “jam,u”, kumpul, senantiasa syuhud, nglesot, berdepe-depe di hadapan Alloh SWT. LILLAH BILLAH istilah Wahidiyah. Sedangkan keadaan lahiriyahnya, ya seperti pada lazimnya menurut tingkatan dan kedudukannya di dalam masyarakat. Ya bekerja ya usaha ini itu dan sebagainya. Tapi batinnya senantiasa LILLAH BILLAH LIRROSUL BIRROSUL istilah Wahidiyah. Dan senantiasa berdepe-depe mengharap kepada Alloh SWT.

            Kita semua mampu untuk itu para hadirin-hadirot !... adalah nikmat Alloh  SWT yang harus disyukuri! Mensyukurinya, ialah menyadari dan digunakan menurut apa mestinya. Mudah-mudahan  para. Hadirin-hadirot kita diridloi Alloh SWT, diberi hidayah dan taufiq di beri syafaat dan tarbiyah oleh Rosuulillahi SAW, barokah karomah nadhroh Ghoutsi Hadzaz Zaman wa A’waanihi wasaairi Abbaabillahi rodiyallohhu Ta’ala 'anhum. Sehingga dapat melaksanakan apa yang diridloi Alloh SWT Khususnya seperti apa yang diuraikan dalam pengajian pagi ini.

وَاعْلَمْ أَنَّ الطَّـلَبَ مِنَ الْخَلْقِ الْمُنَافِى لِلْعُبُوْدِيَةِ هُوَ الطَّلَبُ مِنْهُمْ عَلَى وَجْهِ اْلإِعْـتِمَادِ عَلَيْهِمْ وَاْلاِسْتِنَادِ إِلَيْهِمْ وَالْغَفْلَةِ فِى حَالِ الطَّـلَبِ عَنِ اللهِ تَعَالَى

            Di sini diberi, penjelasan meminta atau menjagakan atau mengharapkan dari siapa saja, orang lain atau benda lain atau dirinya sendiri, kemampuannya, keahliannya, usahanya dan sebagainya. Yang terkecam yang bertentangan dengan 'ubudiyah pengabdian diri kepada Alloh Ta’ala,  yaitu “AT THOLAB 'ALA WAJHIL I’TIMAAD”. Menjagakan, mengharapkan sungguh menjagakan. Pokoknya lahir batin ya hanya mandeg menjagakan kepada hal-hal tersebut. Tidak Menyadari kepada Alloh SWT.

أَمَا الطَّلَبُ مِنْهُمْ مِنْ حَيْثُ كَوْنِهِمْ أَسْبَابًا وَوَسَآئِطَ مَعَ اْلاعْتِمَادِ فِى نَيْلِ الْمَطْلُوْبِ عَلَى اللهِ وَرُؤْيَةِ أَنَهُ الْمُعْطِى فَلَيْسَ مُنَافِيًا لِلْعُبُوْدِيَةِ

Adapun menjagakan kepada lain-lain tersebut hanya sebagai sebab,

وَجَعَلْنَا لِكُلِّ شَيْئٍ سَبَبًا{سورة الكهف ٨٥}
           
            Alloh menciptakan segala sesuatu dengan menciptakan sebabnya, dan menyakini bahwa Alloh SWT sekalipun ada sebab, tetapi tetap Alloh SWT. Atau ketika memberi atau menerima pemberian. tidak menekatkan bahwa dirinya yang memberi atau yang memberi. Melainkan merasa bahwa Alloh SWT yang memberi. Mudahnya BILLAH jika demikian keadaannya, ini tidak mengganggu kepada ubudiyah. Malah seharusnya begitu terjadinya. Dengan ada sebab-sebabnya yang hubungan. Jadi mudahnya, ya sebab dan ya sebab ya tawakal. Ini malah lebih baik dari pada hanya tawakal tidak memakai sebab. Junjungan kita Rosuulillahi SAW sendiri juga tidak meninggalkan sebab. Tapi tawakal senantiasa menjiwai.

            Caranya mengetrapkan yaitu tadi, ...mudahnya LILLAH BILLAH istilah Wahidiyah. Mari jika diantara kita ada yang belum tepat mari usaha ditepatkan setepat-tepatnya.

            Disini, nanti Insya Allah dibahas, ada istilah “ORANG KHUSUS” dan ada lagi “ORANG UMUM”.

            Yang dimaksud “ORANG KHUSUS” itu lahiriyahnya ya biasa, tidak mesti harus nggetu tekun di dalam masjid saja. Melainkan ya kelihatan begini begitu. Usaha ini usaha itu. Menjalankan begini dan begitu, dan sebagainya seperti umumnya orang.

Tapi yang menjadi ciri khasnya. Hatinya yang pokok. sekalipun dia diberi “Khoriqul ‘adah” kramat istilah umum, siapa yang kelihatan khoriquI ‘adah disebut “keramat”. Orang yang begitu, jika hatinya. tidak seperti yang diutarakan tadi ya tetap terkecam. Malah, kalau perlu lebih berat. Pokoknya, pemberian atau keadaan yang luar biasa khoriquI ‘adah, di luar perhitungan, umpamanya dapat menempuh jarak ratusan atau ribuan kilometer hanya dalam tempo sejangkah, atau mengetahui hati kawan atau orang lain, tapi kok tidak mengecakkan ajaran ini ajaran yang baru kita bahas ini, itu tetap terkecam dan otomatis itu merupakan “lstidroj” penglulu. Pokoknya moril atau materiil, itu sama ketentuannya. Dikaruniai keadaan biasa, kok tidak mengecakan ajaran ini, ajaran yang baru kita bahas ini, itu menyalahgunakan dan merupakan beban baginya, justru dia di karuniai soal itu, malah memberatkan orang yang di karuniai satu macam nikmat misalnya  kok tidak mensyukuri lagi  itu dia makin berat lagi  pokoknya makin banyak nikmat yang di terimanya dia bertanggung jawab di karuniai dua nikmat dan tidak mensyukurinya lagi pokoknya makin banyak nikmat yang di terimanya, baik itu nikmat materi, nikmat lahir atau nikmat moril atau nikmat batin jika tidak disyukuri, makin berat makin berat. Nikmat materi misalnya, makin banyak harta bendanya, jika tidak digunakan semestinya, berarti makin banyak disalahgunakan. Begitu juga nikmat batini seperti ilmu, ilmiyah apa saja, ilmiyah agama atau ilmiyah umum, jika tidak di syukuri di atas tadi, ya tetap makin banyak, makin bertambah besar penyelewengan dan penyalahgunaannya.

{لاَ تَرَفَعنَ إِلَى غَيْرِهِ حَاجَةٌ هُوَ مُوْرَدُهَا عَلَيْكَ فَكَيْفَ يَرْفَعُ غَيْرَهُ مَا كَانَ هُوَ لَهُ وَاضِعَا}

            Ada anu pengertian atau istilah “musyrik” minta-minta ke kubur. Minta kepada orang yang sudah mati musyrik. Sesungguhnya tidak hanya minta kepada orang mati saja yang musyrik. Biar minta kepada orang
hidup sekalipun kalau diyakini seperti yang kita bahas ini tadi, juga musyrik. Hatinya bagaimana, itu yang antara lain menentukan. Hati kecilnya kemana arahnya. Berhenti kepada sebab itu sendiri sajakah, atau langsung kepada Alloh SWT. Ini yang menentukan, maka disini diperingatkan ole Muallif AI-Hikam ini, ...”LAA TARFA ‘ANILA GFOIRIHI HAAJATAN”. Diperingatkan, jangan sekali-kali, dalam hati kecil maksudnya, ini bidang, haqiqot harus dapat menempatkan segala sesutu ditempatnya masing-masing YUKTI KULLA DZII HAQQIN HAQQAH. Mengisi segala bidang masing-masing. Semua bidang harus kita isi. Bidang-bidang, bidang syariat, bidang haqiqot lha disini maksunya bidang haqiqat jangan sekali-sekali engkau minta hajatmu kepada selainnya Tuhan. Sebab yang menciptakan itu Tuhan. Jangan sekali-kali engkau sambat kepada selain Tuhan. Mengalami  kecelakaan atau musibah misalnya, ini yang menurunkan musibah ini adalah Tuhan. Karena itu engkau juga harus mohon kepada Tuhan, Yah adanya musibah ini karena keburukan atau karena kesalahanku dan sebagainya. Itu harus kita sadari dari sifat adilnya Tuhan. Dari sifat wenangnya Tuhan, bebasnya Tuhan. dan dalam bidang syari'atnya harus merasa karena keburukan dirinya, jangan sekali-sekali sambat kepada lain.

            Sekarang ini banyak ujian-ujian. Soal ekonomi makin seret misalnya, kaum tani banyak sawahnya diserang hama wereng. Di daerah Bekasi Jawa Barat kata seorang Pengamal Wahidiyah di sana, lebih dari 90 % katanya sawah yang dimakan wereng, sehingga pada umumnya tidak mampu membeli beras. Makan hanya seadanya. Begitu juga di daerah lain-lain, Kerawang dan lain-lain. Disamping itu akhir-akhir banyak daerah yang kekurangan air. Ini semua yang menurunkan Tuhan. Kok lalu sambat-sambat kepada lainnya, atau lebih-lebih ngresulo, menyesali keadaan, ini terkecam sekali. Berarti bunuh diri orang yang begitu itu.

            “FAKAIFA YARFA'U GHOIRUHU MAAKAANA HUWA LAHU WAADLI'AN” apakah mungkin barang yang diciptakan oleh Alloh bisa dirubah oleh selainnya Alloh! Jangankan meruhah barang lain, merubah dirinya sendiripun tidak dapat. Jangankan merubah, berubah sajapun tidak bisa. Segalanya Alloh yang merubah, Yang menggerakkan. BILLAH.

اِذْهُوَ الْغَالِبُ الَّذِى لاَ يَغْلِبُهُ شَئٌ

            Jika Alloh memiliki sifat QUDROT, otomatis lainnya tidak mempunyai sifat qudrot. Adanya bisa atau mampu, itu karena dimampukan. Jelas yang bisa menghilangkan segala kesulitan atau musibah adalah Tuhan. Kok cari-cari lainnya Tuhan, itu jelas orang yang tidak normal. Mari kita lihat diri kita masing-masing, sudah begitukah atau belum?. Kalau masih menjagakan itu ini, masih ngresulo, itu ada peringatan seperti tertulis di atas pengimaman masjid itu.
آنَا الله ُ ِلآإِلَهَ اِلاَّأَنَا مَنْ لَمْ يَشْكُرْ نَعْمَآئِى وَلَمْ يَصْبِرْ عَلَى بَلآئِى وَلَمْ يَرْضَ بِقَضَآئِى فَلْيَتَّخِذْ رَبَّا سِوَآئىِ{الحديث القدس}

            AKU ALLOH, Tuhan, tidak ada Tuhan selain AKU, siapapun juga yang tidak mau syukur, AKU beri nikmat malah berlarut-larut disalahgunakan untuk melukai AKU, AKU beri ujian tidak mau bersabar, malah ngresulo mencaci AKU, dia selalu maido, mengecam tidak rela tidak mau menerima atas qodar-KU,...carilah Tuhan selain AKU. Pergi dari bumi-KU!. Mau keluar negeri-itu luar negeri-KU. AKU yang punya! Mau ke bulan ?, Itu bulan-KU!

            Mari para hadirin-hadirot kita koreksi keadaan kita. Ini soal yang pokok, soal yang prinsip. Jika sampai kita tidak atau kurang mengambil perhatian, tahu sendiri nanti akibatnya, bagaimana pedihnya. Sebentar lagi Izroil datang oleh karena itu mari kita perangi nafsu kita yang senantiasa mende-mende menangguh-nangguhkan dengan alasan begini begitu. Nafsu memang begitu kelakuannya. Selalu berat-beratan, selalu nanti-nanti besok-besok. Mari jangan sampai kita jemu-jemu.
 
Sekarang kalah, bangun lagi. Jatuh-bangun, jatuh-bangun-dan seterusnya. Jangan menyerah sekalipun bagaimana kepada nafsu. Harus terus maju pantang mundur.

{مَنْ لاَ يَسْتَطِيْعُ أَنْ يَرْفَعَ حَاجَةً عَنْ نَفْسِهِ ,فَكَيْفَ يَسْتَطِيْعُ أَنْ يَكُوْنَ لِغَيْرِهِ رَافِعًا}

            Yang menguji Tuhan. Apakah mungkin isianya Tuhan bisa menghilangkannya. Tentu tidak mungkin, disamping itu tidak ada orang yang dapat mengatasi, sehingga bebas sama sekali dari apa yang menjadi kesulitan atau ujiannya. Menolak balaknya sendiri. Menyelamatkan diri saja tidak dapat lebih-lebih mari menyelamatkan orang lain. Jauh mustahil, tidak mungkin, maka satu-satunya jalan hanyalah Fafirruu Ilallohi wa Rosuulihi SAW.

اَلَمْ يَأْنِ لِلذِّيْنَ آمَنُوْا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوْبُهُمْ لِذِكْرِ اللهِ {الحديد:١٦}

            Apakah belum saatnya orang-orang yang beriman itu cepat-cepat lari mengungsi dan menundukkan hatinya kepada Alloh?. Sudah jauh terlambat sesungguhnya para hadirin-hadirot. Tapi sekalipun begitu, sekalipun terlambat asal mau cepat-cepat lari dan bersungguh-sungguh bermujahadah, sifat kemurahan Alloh tidak mengenal istilah terlambat. Asal sungguh-sungguh mau kembali, pasti Alloh akan membuka dan menunjukkan jalan-NYA yang diridloinya. Mari para hadirin-hadirot kita jangan enak-enak bermalas-masalan, jangan menganggap enteng masalah ini.

وَحَاصِلُهُ أَنَ لِلْمَرْفُوْعِ إِلَيْهِ حَوَائِجُ لَمْ يَتَوَصَلْ إِلَيْهَا وَلَوْكَانَ مَلِكًا - وَلاَ شَكَّ....

            Jadi kesimpulanya orang juga sama-sama punya kepentingan menyelesaikan dan mengatasi kepentingannya sendiri saja tidak bisa, lebih-lebih mengatasi kesulitan orang lain. Seandainya bisa mengatasi satu persoalan lain timbul lagi persoalan lain lagi, timbul lagi masalah lain lagi, timbul lagi masalah lain, makin banyak, makin kaya makin banyak membuat dirinya makin repot mlarat begitu juga Dus, orang tidak bisa bebas sama sekali. Sekalipun raja malah presiden atau raja atau pejabat tinggi yang bagaimanapun makin banyak persoalan-persoalannya yang tidak bisa diatasi.  Sebahagian bisa diatasi, timbul yang lain. Diselesaikan  tumbuh sepuluh diatasi yang sepuluh tumbuh seratus, diatasi seratus tumbub seribu, dan seterusnya. Selalu timbul persoalan-persoalan yang makin banyak, makin banyak makin tidak bisa mengatasi. Begitu kok mau dimintai tolong untuk mengatasi persoalan kita oleh karena itu hanya Alloh saja yang mampu mengatasi segala persoalan. Mari para  hadirin-hadirot, selalu mengungsi kepada Alloh SWT. Yang sudah  mengungsi mari kita usaha mengungsi yang lebih sempurna dan yang lebih meningkat. Kita masih kurang sekali mengungsi kita kepada Tuhan, para hadirin-hadirot. Lebih-lebih yang belum mengungsi. Sekalipun sudah mengungsi sudah berdepe-depe, tapi kurang jauh. Jauuuh sekali kemampuan kita masih banyak untuk mengungsi yang lebih kuat lagi, lebih dekat lagi, lebih ... meningkat lagi. Lebih-lebih jika dilihat dari ke-Maha Rajaannya Alloh Ta’ala, Ke-Maha Agungnya Alloh Ta'ala, ke-Maha... Maha ... Maha, dan dari arah lain kita keapesan kita, kemelaratan kita, kebutuhan kita lebih-lebih, masih jauuuh para hadirin-hadirot.

            Mari para hadirin-hadirot kita perhatikan yang sungguh -sungguh.

            Zaman banjir bandangnya Nabi Nuh ada suatu kejadian, yaitu seorang Ibu. Ya pernah diutarakan dari pusat. Seorang Ibu dengan anaknya yang masih kecil karena ada banjir bandang anaknya diajak lari menyelamatkan diri. naik ke atas puncak bukit. Tapi sang banjir terus mengejar makin dalam makin dalam,. Puncak bukit akhirnya tegenang..banjir makin dalam makin dalam. Untuk menyelamatkan anaknya. anaknya digendong. Banjir terus naik sampa ke punggung sang lbu. Anaknya lalu di sunggi. Banjir  terus makin tinggi air sampai pada leher sang Ibu, ...anaknya yang yang dijadikan ancik-ancik. Di bawah telapak kakinya! untuk menyelamatkan dirinya sendiri, para hadirin-hadirot. Tapi toh akhirnya hanyut kedua-duanya. Tidak bisa menyelamatkan anak juga tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri.

Ini para hadiria hadirot !.

Sesunggunya manusia itu hanya memikirkan dirinya sendiri Kecuali, mereka yang mendapat taufiq Hidayah pertolongan Alloh SWT. Dalam keadaaa yang sudah kritis, sudah sangat terjepit, dirinya sendiri yang berusaha mencari selamat, biar sekalipun mengorbankan anak darah dagingnya sendiri yang masih kecil seperti cerita di atas. Ini para terutama bagi kaum Ibu betapa bengisnya manusia hadirin-hadirot, biar bagaimanapun juga, toh tidak berhasil menyelamatkan diri, tapi terkecuali para hadirin-hadirot, terkecuali... yaitu mereka yang mau mencari keselamatan dengan lari mengungsi kepada Alloh SWT. Alloh SWT pasti menolong hamba-NYA yang sungguh-suagguh mau kembali mengungsi kepada-NYA dengan sepenuh-penuhnya mengungsi. Malah, para hadirin-hadirot, sesunggunya Alloh SWT senantiasa memanggil-mauggil hamba-NYA agar mereka menjadi selamat, tidak celaka, tidak sengsara !!!.  Fafirruu Ilallooh !. Fafirruu Ilallooh !. Fafirruu Ilallooh !.

{اِنْ لَمْ تُحَسِّنْ ظَنَكَ بِهِ ِلاَجْلِ حُسْنِ وَصْفِهِ فَحَسِنْ ظَنَّكَ بِهِ لِوُجُوْدِ مُعَامَلَتِهِ مَعَكَ}

            Jika engkau tidak bisa husnudhon atau yang lebih tepat kalau terhadap Tuhan “Husnul yaqin” jika engkau tidak bisa husnul yaqin kepada Tuhan berdasar kebaikan sifat-sifat Tuhan, maka berkhusnul yaqinlah kepada-NYA berdasarkan adanya perlakuan Tuhan terhadap dirimu.

            Berdasar sitat Tuhan, Maha Loman-Pemberi. Aku kok melarat umpamanya, aku kok sengsara, tapi aku yakin, yakin pasti akan diberi oleh Tuhan. Sebab Tuhan senantiasa memberi dan menolong hamba-NYA. Tuhan adalah “AR ROJAQ”, “AL JAWAAD”, “AL WAHHAAB ROUF ROHIM”. Jadi yang baik berdasarkan sifatnya. Tidak mungkin Maha Loman.kok tidak memberi. Adapun sekarang tidak diberi, yah, memang belum. Atau sesungguhnya ini sudah diberi tapi aku tidak sadar bahwa diberi. Melarat ini adalah pemberian yang baik. Sebab seandainya aku kaya, mungkin malah berlarut-larut. Ini suatu pertolongan yang baik sekali. aku kok terus-terusan sakit-sakitan, kok tidak lekas sembuh?. Yah ini pemberian Tuhan yang baik bagiku. Seandainya aku waras-wiris, aku makin terus menerus larut berlarut-larut!. Selalu merugikan orang lain! selalu berbuat apa yang dikecam Alloh SWT, atau mungkin saking belas kasihnya Tuhan, saya di dunia dalam keadaan melarat compang-camping, agar tidak kalong, agar jauh lebih baik kelak di akhirat. Husnudhon ataupun husnul yaqin seperti itu lebih baik. Lebih baik.

            Pokoknya para hadirin-hadirot, segala keadaan baik yang diinginkan, menguntungkan atau merugikan, supaya semuanya itu dimanfaatkan untuk... “FAFIRRUU ILALLOOH WA ROSULIHI SAW”.

            Jangan sampai berani-berani menyalahgunakan, bahkan maksiat sekalipun, harus kita manfaatkan untuk “FAFIRRUU ILALLOOH WA ROSULIHI SAW”. Antara lain diikuti dengan tobat yang sungguh-sungguh orang yang tidak bersalah kok minta maaf, apa mungkin?. Adanya minta ampun itu karena, dosa ini setengah dari murahnya Tuhan!

            Sekalipun maksiat kita tidak boleh memasuki maksiat, tapi... harus kita manfaatkan aku mau memasuki maksiat, nanti toh bisa mandi yang bersih, inilah yang namanya menyalahgunakan.

            Syekh  Hasan Basyri mengatakan orang tidak ada yang ibadahnya lebih baik daripada maksiat. Artinya dari pada akibatnya maksiat. Dalam kitab ini juga, ada keterangan yang hampir sama maksudnya dengan dawuhnya Syekh Hasan Basyri tersebut :

مَعْصِيَةٌ أَوْرَثَتْ ذَلاَ وَانْكِسَارًا خَيْرٌ مِنْ طَاعَةٍ أَوْرَثَتْ عِزًا وَا سْتِكْبَارًا
            Maksiat yang menyebabkan dia nelongso, merana, merasa jelek, merasa dosa berlarut-larut, ini lebih dari pada thoat yang mengakibatkan sombong, merasa baik, takabbur itu contohnya para hadirin-hadirot, Iblis sebelumnya ibadahnya sebagai kepala para malaikat, 80.000 tahun non stop ... seperti kita maklumi. Tapi karena sombong tidak mau sujud kepada Nabi Adam Aalaihissalam,....akhirnya dila'nat menjadi Iblis itu para hadirin-hadirot. Itu lagi kanjeng Nabi Adam 'Alaihissalam sendiri. Suatu kesalahan atau ma'siat membawa akibat bertobat sampai seratus tahun menangisnya. Dan, dalam bidang syari'atnya tapi ini, andai kata beliau tidak berbuat ma'siat melanggar larangan Tuhan di surga, tentu kehidupan dunia ini tidak ada kita manusia, Ya ma'af para ambiya wal mursalin, junjungan kita Rosulillahi SAW, juga akibat dari pada ma'siatnya kanjeng Nabi Adam 'Alihissalam. Begitu para hadirin-hadirot sebagai anak cucu Nabi Adam, seharusnya kita dapat memanfa'atkan ma'siat kita seperti halnya Beliau Nabi Adam 'Alaihissalam. !

            Kalau tidak bisa, ya, ma'af....! lbarat anak kambing ya harus bisa suara lembek. Babonnya bisa mengembek, anaknya juga harus bisa menggembek kalau babonnya suara lembek, kok anaknya “hung-hung… Anak iblis para hadirin-hadirot. Ataukah  “hung-hung” para hadirin-hadirot mari kita koreksi anak kambing jadi kambing, anak anjing juga jadi anjing, Ya maaf  kita harus prihatin dan harus ….ngedoki para hadirin-hadirot, ummat dan masyarakat pada umumnya ya maaf  istilah anak kambing, ya seharuanyaya “embek-embek”. Tapi nyatanya, pada umumnya bukan “embek-embek” tapi kok “hung-hung”, para hadirin-hadirot “embek-embek” malah tidak bisa. Ummat masyarakat pada umumaya atau sebagian besar tidak mengikuti Nabi Adam ‘Alaihissalam, memanfaatkan dosa maksiatnya, melainkan malah seperti Iblis para hadirin-hadirot. Mari para hadirin-hadirot kita tanggung jawab mari kita daki. Andai kata saya bersungguh-sungguh, tentu tidak begitu keadaannya. Mari para hadirin-hadirot, kita prihatin. AL-FAATIHAH…  AL-FAATIHAH...

            Ada suatu sabda yang menerangkan, ada seseorang yang kerena baiknya, negara dan masyarakat menjadi baik. Tapi juga sebaliknya, ada seseorang yang karena buruknya negara dan masyarakat atau menjadi buruk, menjadi bejad, Lha Diantara kita di mana letaknya mari sekali lagi! AL FAATIHAH…

            Diantara kita mampu “FAMAN SYAA-A FAL YUKMIM, WAMAN SYAA-A FAL YAKFUR”. Mampu kita akan menguntungkan membuat baik masyarakat, mampu akan merugikan menghancurkan mampu. Aku kita mempunyai akal yang sehat sungguh-sungguh manusia, tentu memilih yang menguntungkan: para hadirin-hadirot. Kita tingkatkan yang sebanyak-banyaknya jauh masih, banyak sekali kemampuan kita yang belum kita pergunakan.

            Kita harus husnudhon yakin, bahwa Alloh SWT senantiasa sayang, senantiasa memberi jika terpaksa tidak dapat husnudhon berdasarkan sifat Tuhan  harus berdasar perbuatan perlakuan Tuhan. Tuhan senantiasa bisa memberi kita bisa begini bisa dan seterusnya. Mari kita sadari ketika kita masih berada dalam kandungan, tidak bisa apa-apa. Kemudian dilahirkan, dibuat oleh Alloh SWT bisa bergerak-gerak, bisa menangis, bisa menetek dan seterusnya sampai besar, menjadi besar, menjadi besar bertambah pula kepandaian dan kecakapan yang dibuat Tuhan kepada kita. Bertambah besar, bertambah umur  bertambah pula pemberian Tuhan kepada kita. Mari kita sadari pemberian Tuhan ini. Padahal semua pemberian-pemberian yang evolotif dan sistimatis dan justru kita butuhkan itu, tanpa ada permintaan dari kita manusia, para hadirin-hadirot. Mengapa kita manusia tidak mau husnudhon bahkan husnudhon bahkan-husnul yaqin kepada Tuhan?. Perbuatan Tuhan terhadap kita sudah fakta dan jelas kita rasakan!. Itulah kasih sayang Tuhan, kepada kita manusia! Bahkan Alloh SWT menciptakan matahari, bulan, bintang, bumi, daratan, lautan, pohon-pohonan, gunung, air, angin dan sebagainya justru dipergunakan kita manusia, para hadirin-hadirot.

            Sekalipun seseorang mengalami suatu kesulitan atau kesupekan, tapi kalau mau menggali sesunggunya dalam pada itu membawa keuntungan dan faedah serta manfaat yang besar sekali. Tidak ada yang 100% merugikan, jadi sesungguhnya yang akan datang, lebih banyak. Lebih banyak pemberian Tuhan, Berdasarkan perbuatan Tuhan yang telah merupakan fakta dan kita rasa itu. Terus meningkat bertambah-tambah pemberian-pemberian Tuhan!. Dan, sekalipun dalam satu bidang terasa merugikan, tapi kalau mau meninjau secara keseluruhan, sesungguhnya menguntungkan.

            Husnudhon atau husnul-yaqin berdasarkan kedua-duanya tersebut, kita mampu. Sifat Tuhan yang senantiasa kasih sayang, mampu. Berdasarkan perbuatan Tuhan atas kita yang sudah jelas dalam fakta, kita mampu. Ya berdasarkan sifat-Nya, ya berdasarkan perbuatan-Nya. Dan kita mampu untuk itu.

أَنَّ النَّاسَ فِى حُسْنِ الظَّنِ عَلَى قِسْمَيْنِ خَاصَةٍ وَعَامَةٍ فَالْخَاصَّةُ حُسْنُوا الظَّنِ بِهِ لِمَا هُوَ مِنَ النُّعْوْتِ السَّنِيَةِ وَالصِّفَاتِ الْعَلِيَةِ.

Di sini diterangkan, hubungan husnudhon, manusia dibagi dalam dua bagian “KHOSSOH” orang khusus, dan “AAMMAH” orang umum. Yang dimaksud orang khusus di sini yaitu orang yang pengetrapkan seperti apa yang diuraikan di atas. Sekalipun buta huruf umpamanya, asal mengetrapkan seperti yang dibicarakan dalam pengajian ini, itulah orang khusus. Istilah WAHIDIYAH senantiasa LILLAH-BILLAH LIRROSUL-BIRROSUL. Tapi ini tidak berarti bahwa seorang pengamal Wahidiyah lalu merasa lebih-lebih mengaku dirinya orang khusus atau seorang yang LILLAH BILLAH. Ini terbalik kalau begini perasaannya keblasuk. Malah sebagai Pengamal Wahidiyah harus justru merasa dirinya hina. Banyak dosa banyak berbuat dholim, senantiasa merugikan dan sebagainya seperti yang kita alami ini pokoknya.

            Orang khusus di sini yaitu tadi orang yang senantiasa mengabdikan diri kepada Alloh Ta’ala. Senantiasa sabar ridlo, tawakal tidak menjagakan kepada selain Alloh, tansah ... banyak kelau diperinci. Sekalipun dia buta huruf !.

            Adapun orang umum yang dimaksud orang umum di sini bukan rakyat jelata, tapi orang yang tidak mengetrapkan seperti orang khusus tadi. Sekalipun mempunyai keistimewaan, 'allamah ilmunya banyak, ibadahnya giat, tidak henti-hentinya mujahadah atau sembahyangnya, atau ngebleng terus-terusan di dalam masjid sekalipun begitu, kalau hatinya tidak mengetrapkan seperti itu tadi, LILLAH-BILLAH LIRROSUL-BIRROSUL mudahnya orang umum atau menjadi orang khusus istilah di sini, Kemampuan adalah nikmat yang harus kita syukuri.

            “FAL KHOSSHOH”... Orang khusus, berhusnudhon husnul yaqiin bahwa Tuhan Maha Pemurah, Maha Pemberi, Maha Kasih Sayang itu memang sifat  Tuhan. Sekalipun aku sekarang menderita, tapi Tuhan tetap kasih sayang padaku. Alhamdullilah orang khusus. Sedangkan orang umum, sehabis makan enak Alhamdulillah nanti agak lapar .... Innaalillah !. Bingung !.  mereka hanya berdasar pada perlakuan Tuhan atas dirinya yang di alami dasarnya kenyataan. Sekalipun sakit atau melarat dan sebagainya itu sesungguhnya nikmat, atau saking kasih sayang Tuhan tapi karena dia orang umum istilah di sini pandangannya saya itu sudah biasa!. Sudah maklum!. Soal materi, menjadi ngresulo, putus asa begini begitu. Hanya ketika mampu atau keadaan normal, dia ... Alhamdullilah  Itu sudah biasa!. Sudah maklum!.
كَلاَ ,إِنَ اْلاِنْسَانِ لَيَطْغَى ,أَنْ رَآهُ اَسْتَغْنَى {علق}

            Manusia!. Ketika mampu, kaya ... berlarut-larut!. Malah kalau dia merasa kaya, ini lebih berat lagi!. Menggasap haknya Tuhan!. Yang kaya hanya Tuhan!. Kok dia berani-berani mengaku kaya merasa mampu ?. Larut, berlarut-larut untuk, untuk nuruti nafsunya. Untuk kepuasan nafsunya!. Sekalipun ujudnya untuk ibadah untuk perjuangan, tapi itu hanya lahirnya saja!. sesungguhnya itu ada pamrihnya!. Sedang lahirnya kelihatan ibadah,... Lebih-lebih kalau maksiat Lebih larut,... jaauuh berlarut-larut…!.

            Para hadirin-hadirot, diantara kita di mana letaknya dan kita mampu. Tapi kalau orang berkhusnudhon berdasar sifat Tuhan, dalam segala bidang dia senantiasa alhamdulillah, senantiasa memuja, senantiasa berterima kasih kepada Alloh SAW. Sedangkan yang berkhusnudhon berdasarkan perbuatan, ...yaitu tadi,... ketika keadaan jembar atau berlebih dia alhamdulillah. Dan menggunakan kejembarannya itu untuk kebaikan. Tapi hanya sebagian Tapi kalau keterlaluan, ... yaitu tadi...“KALLAA” INNAL-INSAANA LAYATHGHO AN ROAAHUS TAGHNA...”.

Manusia kalau keadaan kaya. Istilah umum istilah khusus kalau merasa kaya senantiasa berlacu berlarut larut !. ini sudah maklum!.

            Kalau itu tidak heran ada hadits Rosulullooh SAW yang menerangkan bahwa orang fakir masuk syurga lebih dahulu dari pada orang-orang kaya 500 tahun lebih dahulu ini maksud dawuh ini ya soal lahiriyah soal materi tapi yang dimaksud dengan Fakir yaitu fakir yang sabar dan ridlo.
Ada lagi anu, tafsiran dari hadist ini

أَكْثَرَ أَهْلِ الْجَنَّةِ اْلفُقَرَآءِ {أوكما قال}

Sebahagian besar penghuni surga adalah fuqorok orang-orang miskin, melarat, melarat dari amal, dari ibadah. Coba kita lihat bangsa Indonesia 90% umat Islam pengakuannya. Tapi yang beramal yang konsekwen hanya berapa persen!. sekalipun dihukum di neraka terlebih dahulu, tapi akhirnya dimasukkan surga juga. Lha yang kaya akan amal-amal ibadah bagaimana?. Mereka jadi raja di akhirat!. lebih-lebih amal batiniyah disamping amal lahiriyah!.

            Nuwun sewu para hadirin-hadirot, jika saudara ungguh-sungguh LILLAH BILLLAH LIRROSUL BIRROSUL pasti jadi raja nanti di akhirat! LILLAH BILLLAH LIRROSUL BIRROSUL !. Tapi jika kita merasa LILLAH BILLLAH, berarti kita belum LILLAH BILLLAH, masih merasa LILLAH BILLLAH.

            Ya mudah-mudahan para hadirin-hadirot, pengajian pagi hari ini membawa manfaat maslahah dan kemajuan yang sebanyak-banyaknya maaf kiranya cukup sekian pengajian ini dan, mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada hadirin-hadirot. Sekali lagi mudah-mudahan pengajian pagi hari ini dikaruniai manfaat yang sebanyak-banyaknya. Sebab akhir-akhir ini para hadirin-hadirot, banyak sekali atau sebagian besar ilmu tidak bermanfaat. Sebagian besar, zaman akhir ini ilmunya tidak bermanfaat. Tahu itu buruk, itu jelek dan ini baik. Tapi yang dikerjakan yang buruk. Ini berarti ilmunya tidak manfaat. Mari kita doki diri kita sendiri para hadirin-hadirot. Tahu yang itu buruk yang ini baik tapi yang dipilih justru yang buruk. Sebagian besar umat manusia begitu para hadirin-hadirot !. Bahkan kita sendiripun terutama… mari kita aku para hadirin-hadirot. Mari kita prihatin. Terutama mari kita kaui hal-hal seperti itu.

            Pengajian cukup sekian, mudah-mudahan diberi manfaat yang sebanyak-banyaknya !. Amin, amin, amin. Waktu dan tempat dipersilahkan kepada beliau dari pusat.