(وَحَقُّ الْبَصِيْرَةِ يُشْهِدُكَ وُجُوْدَهُ لاَعَدَمَكَ
وُجُوْدَكَ)
“HAQQUL BASHIROR” = haknya
bashiroh atau penglihatan hati yang baik atau “NUURULRAQQI” atau “IIAQQULYAQIN”
semua maksudnya sama.
“Bashiroh” = penglihatan hati.
“Bashor” = penglihatan mata lahir.
Kalau orang
sungguh-sungguh memiliki “haqid bashiroh” atau “nuurul-haqqi” atau “haqqul
yaqiin”, dia merasa selama memiliki haqqul bashiroh bahwa tuhan yang ada.
Lain-lain tidak menjadi acara dalam
pandangan hatinya “LAA’ADAMAKA WALAA WUJUUDAKA” soal diterima ada atau tida
Abaikan peringatan k ada tidak menjadi acara.
Hanya Tuhan yang wujud titik. Istighroq badannya serdiri atau makhluk
lain-lain lebih-lebih sama sekali tidak menjadi acara tidak nampak oleh
penglihatan mata hatinya.
Hanya tuhan menjadi acara
seperti halnya orang “kami tenggengen” terpesona yang sangat kuat sehingga
tidak mengingat kepada yang lain-lain. Termasuk dirinya sendiripun tidak ingat.
Bahkan tidak terasa. Terpaku oleh,.... hanya satu hal. Dalam hal ini hanya
tuhan. Istighroq. Tenggelam dalam ke-Esaan Tuhan.
Ketiga keyakinan di atas,
“ILMU YAQIN, AINUL YAQIN dan HAQQUL YAQIN, saya gambarkan lagi. Begini. Kita di
sini di serambi mesjid ini. Mengerti meyakini bahwa disebelah timur itu ada
sungai brantas. Di situ memang ada sungai brantas sungguh. Lha ini namanya
“Ilmu-yaqin” Lha kalau kita berada ditebingnya sungai brantas itu, itu
“ainul-yaqin” sedangkan “haqquI yaqin” sudah menjadi air. Hanya air sungai Pen.
Titik. Dirinya sendiri, gampengnya sungai, sungainya dan lain-lain tidak masuk
acara. Sekalipun sudah masuk ke dalam sungai tapi belum menjadi air, ini
namanya masih “alnul yaqin”. Itu tadi gambaran.
Ya mudah-mudahan kita
dikaruniai memiliki haqqul yaqin yang sempurna watamaama ma’rifatika. Kita
kewajiban usaha, berjuang. Kalau kita sungguh-sungguh berjuang, 'WALLAZIINA
JAADUHUU FIINA LANADHIYANNAHUM SUBUULANA. Dan orang-orang yang sungguh-sungguh
bermujahadah berusaha berjuang di dalam jalan-ku, pasti AKU tunjukkan jalan-Ku.
Malah, dalam hadits Qudsi
disebutkan yang maksudnya. JIka seorang hamba mendekat kepada tuhan satu meter
misalnya, Tuhan mendekati dia sepuluh meter paling sedikit. Jika sihamba maju
sepuluh-meter, tuhan maju mendekatinya seratus meter paling sedikit. Itu kalau
digambarkan materi atau dilbaratkan berhadap-hadapan. Begitalah para
hadirin-hadirot, kemurahan Tuhan. Digambarkan
dengan kecepatan misalnya, kalau si hamba mendekatnya kepada Tuhanya
dengan jalan kaki, Tuhan mendekati si hamba dengan berlari kalau sihamba mendekatnya kepada Tuhan dengan
kecepatan 100 itu kalau diibaratkan dengan kendaraan , Tuhan mendekati si hamba
dengan kecepatan seribu minim pokoknya
“bi’asyaroti amsaaiha” dengan sepuluh kali lipat begitu para hadirin-hadirot
kemurahan Tuhan kepada diantara kita, bagaimana para hadirin-hadirot?.
Menyadarikah kemurahan Tuhan itu ! Dan sampai dimana kesadaran kita para
hadirin-hadirot.
Para hadirin-hadirot, kita
bisa ambil sebagai imbangan sebagai
gambaran. Seorang rakyat kecil yang ingin menghadap kepada pejabat tinggi
lebih-lebih presidennya, ini jauh lebih sulit para hadirin-hadirot. Rakyat
jelata yang yang ingin mendapat parhatian dari Kepala Desanya saja, sudah
dengan susah payah usahanya. Dan sunguhpun demikian, hasilnya hanya sedikit
sekali. Pada umumnya tidak sesuai dengan biayanya atau jerih payahnya. Malah,
mungkin jangan-jangan dicurigai para hadirin-hadirot. Malah. para
hadirin-hadirot, sekalipun Bapak Presiden atau Bupati atau Camat mempunyai hak
tarhadap rakyatnya, sekalipun begitu para hadirin-hadirot, jika tidak dikodar
oleh Tuhan, tidak akan terlaksana para hadirin-hadirot. Tuhan tidak kesulitan
menciptakan sebab-sebab yang menjadi gagalnya suatu masalah, sekalipun sudah
diatur serapi-rapinya. Sekalipun ibaratnya tinggal muluk, tinggal “nyendok”,
kalau Tuhan tidak menghendaki, gampang “KUN FAYAKUUNU” Ini kekuasaan Tuhan,
para hadirin-hadirot!.
Tapi para hadirin-hadirot,
kalau didekat oleh Tuhan, tidak ada yang dapat manghalang-halangi para hadirin-hadirot. Dan caranya seperti
disebutkan Hadist Qudsi tadi kalau sihamba mendekat sedangkah, tuhan maju
mendekat sihamba tadi sepuluh jangkah minim.
Para hadirin-hadirot, Mari
belajar, Belajar, belajar menjadi orang dewasa yang memiliki fikiran yang
normal yang pandai menanggapi segala sesuatu dengan semestinya. Mari para
hadirin-hadirot, kalau mulai sekarang kita tidak belajar, tidak berjuang.untuk
itu para hadirin-hadirot, kita sendiri yang rugi besok, terutama kalau sudah
dicabut Isroil para hadirin-hadirot. Mari para hadirin-hadirot Asal kita mau
usaha berjuang yang, sedapat-dapatnya para hadirin-hadirot, kita yakin kelak
akan menemui suatu kebahagiaan abadi yang tidak dapat digambarkan betapa
besaraya para hadirin-hadirot, terutama sesudah berada di kubur, dialam
akhirot.
الْقَبْرُ رَوْضَةٌ مِنْ ِريَاضِ الْجَنَّةِ
أَوْحُفْرَةٌ مِنْ حُفْرَةِ النَّارِ
Alam kubur, atau alam
barzkah bisa merupakan “taman” dari berbagai taman surga, atau bisa juga
merupakan bagian dari pada neraka.
Para hadirin-hadirot,
ketika nyawa dicabut oleh Malaikat lzroil spontan mengalami alam surga atau
alam neraka, para hadirin-hadirot. Dan makin lama makin berat, para
hadirin-hadirot. Apakah menunggu itu, para hadirin-hadirot?. mari para
hadirin-hadirot .
وَالْحَاصِلْ اَنَّ السَّالِكَ يَهْتِفُ عَلَى قَلْبِهِ
أَنْوَارٌ إِلَهَيِّةٌ يُعَبَّرُ عَنْهَا بِهَذِهِ الْعِبَارَاتِ وُيُتَرَتَّبُ
عَلَى كُلِّ وَاحِدٍ ثَمَرَاتٌ وَفَوَائِدُ.
Jadi kesimpulannya, orang
yang sungguh-sungguh mau mendekat kepada Tuhan, dengan mengamalkan atau
memperhatikan apa yang harus diamalkan, apa yang harus diperhatikan, umpama
dalam Wahidiyah ya senantiasa dapat mengadakan mujahadah-mujahadah dalam segala
bidangnya, dan senantiasa mengatur hatinya, senantiasa yah separti sudah kita,
maklumi, otomatis, yah otomatis nanti Alloh akan memberikan buah yang jauh
lebih besar dari pada jerih payahnya hasilnya jauh lebih besar tidak dapat di
perhitungkan minim sepuluh kali lipat. Sepuluh kali... “ila ab’I minati
dli’fin”. Sepuluh kali sampai tujuh ratus kali lipat!. salikang... “ilaa maa
laa yaglmuhu ilafloh”. sampai jumlah lipatan yang tidak bisa diketahui kecuali
oleh Tuhan banyaknya, dari baiknya, dari pokoknya tidak bisa digambarkan.
Yah, pada umumnya “lipat ganda” itu melihat-lihat kuwalitasaya. Kalau
kuwalitasnya sungguh-sungguh baik, otomatis lipat gandanya paling balk. Dan
seterusnya. Paling diridloi. Kalau khusyuknya paling khusyuk, lebih takzim,
lebih rindu, lebih perhatian,... otomatis lehih banyak lipat ganda yang
diparolehnya. Mari para hadirin-hadirot, kita tingkatkan. Disamping kuwantitas,
atau jumlah banyaknya, kuwalitasnya terutama! Mutunya! Mari kita tingkatkan
yang setinggi-tingginya!.
قَالَ بَعْضُهُمْ وَلاَ يَبْلُغُ الْعَبْدُ حَقِيْقَتَهُ
التَّوَاضُعِ اِلاَّ عِنْدَ لَمَعَانِ نُوْرِ الْمُشَهَادَةِ فِى قَلْبِهِ
فَعِنْدَا ذَلِكَ تَذُوْبُ النَّفْشَ وَتَنْطَبِعُ لَلْحَقْ وَلِلْخَقِّ بِمَهْوِ
أَثَارِاهَا وَسُكُوْنِ وَهِجَهَا وَغُبَارِهَا
Badul 'Arifin, setengah
orang Arifin mengatakan. Pokoknya, orang tidak dapat tawadluk yang
sungguh-sungguh dan otomatis menjadi selalu takabbur “tawadluk kebalikan dari
takabbur” orang tidak bisa hilang takabburnya kecuali apabila mendapat sinar
atau sorotan “nur Musyahadah”. Syuhud pada Alloh SWT !. Istilah umum yang
ringan, “sadar” kepada Alloh SWT Apabila orang mendapat sinar atau cahaya
syuhud pada Alloh, pasti hancur nafsunya! Ananiyahnya hancur. BILLAH senantiasa!.
Senantiasa menyerah bongkokan pada Tuhan senantiasa tawadluk, tidak sombong!
Tidak sombong kepada sesamanya hilang, lenyap, ekses atau negatifnya nafsu.
Negatifnya nafsu yang menyebabkan sombong, kikir, dan sebagainya. Lalu diantara
kita bagaimana, mari kita koreksi. Apakah sudah sungguh-sunggub syuhud, sadar
kepada Alloh kah, atau bagaimana, mari kita koreksi diri kita masing-masing.
Kalau orang
sungguh-sungguh sadar kepada Alloh SWT, istilah Wahidiyah LILLAH BILLAH,
otomatis menjadi “DHILLUL-ILAHI”.Menjadi bayangan Tuhan. Akhlaknya selalu
akhlak Tuhan. Antara lain rohman-rohim. Artinya, akhlaknya selalu, merasa kaya.
Kaya tidak membutuhkan orang lain. Hanya butuh kepada Tuhan malah bilamana
perlu, “kun fayakuun”. Dia menjadi orang yang suka pemaaf, suka menolong, dan
sebagainya!.
مَنْ أَكْرَامَهُ فَقَدْ اَكْرَمَ الله َ, وَمَنْ
عَظَّمَهُ فَقَدْ عَظَّمَ الله
Barang siapa menghormat orang lain yang seleri itu sifat-sifatnya,
berarti menghormati Tuhan. Dan barang siapa memulyakannya, berarti mangagungkan
Alloh. Tapi sebaliknya.
مَنْ أَهَانَهُ فَقَدْ اَهَانَ الله
Barang siapa yang menyakiti,
melukai, menghina, mengejek kepadanya, berarti mengejek kepada Tuhan!
Awas nanti !.
وَبَيْنَ الْمُصَنِفُ أَنَّ الَّذِى يَنْكَشِّفُ بِالنُّوْرِ اْلاَوَلِ قُرْبُ
اللهِ مِنْكَ وَثَمْرَاتُ ذَلِكَ وَنَتِيْجَتُهُ مُرَاقَبَتُهُ تَعاَلَى وَاْلاِ
سْتِحْيَاءُ مِنْهُ حَتَى لاَيَرَاكَ حَيْثُ نَهَاك َوَلاَ يَفْتِدَكَ حَيْثُ
اَمَرَاكَ
Selanjutnya Kyai Mushonnef menerangkan Orang yang dikaruniai Nur yang pertama tadi, yang paling redah sendiri Nur yang paling rendah, orang yang di karuniai itu merasa dekat, lebih dekat kepada Alloh SWT, otomatis dia selalu “muroqobah” selalu merasa saya ini senantiasa diincer oleh Tuhan tidak berani berkutik sedikitpun, Karena merasa senantiasa diawali oleh tuhan ibarat materi boleh dikatakan umpamanya saya beharap saudara dengan berdiri atau duduk atau berbaring.sedangkan di kanan-kiri ada jurang yang sangat curam di samping api yang berkobar kobar otomatis tidak berani bergerak sedikitpun bahkan berkedip pun tidak berani. Bahkan bernafas pun sudah “ngempet mbekan” kata bahasa Jawa Itu, para hadirin-hadirot, kalau orang sungguh-sunguh “muroqobah”, merasa senantiasa di bawah pengawasan Tuhan yang Maha Agung Maha Kuasa. Sesungguhnya bahkan jauh dari pada gambaran itu karena sekalipun betapa hebatnya (gambaran saya tadi), itu adalah hanya ciptaan Tuhan. Sedang terhadapTuhan, Tuhan adalah Penciptanya, para hadirin-hadirot jauh sekali!.
Selanjutnya Kyai Mushonnef menerangkan Orang yang dikaruniai Nur yang pertama tadi, yang paling redah sendiri Nur yang paling rendah, orang yang di karuniai itu merasa dekat, lebih dekat kepada Alloh SWT, otomatis dia selalu “muroqobah” selalu merasa saya ini senantiasa diincer oleh Tuhan tidak berani berkutik sedikitpun, Karena merasa senantiasa diawali oleh tuhan ibarat materi boleh dikatakan umpamanya saya beharap saudara dengan berdiri atau duduk atau berbaring.sedangkan di kanan-kiri ada jurang yang sangat curam di samping api yang berkobar kobar otomatis tidak berani bergerak sedikitpun bahkan berkedip pun tidak berani. Bahkan bernafas pun sudah “ngempet mbekan” kata bahasa Jawa Itu, para hadirin-hadirot, kalau orang sungguh-sunguh “muroqobah”, merasa senantiasa di bawah pengawasan Tuhan yang Maha Agung Maha Kuasa. Sesungguhnya bahkan jauh dari pada gambaran itu karena sekalipun betapa hebatnya (gambaran saya tadi), itu adalah hanya ciptaan Tuhan. Sedang terhadapTuhan, Tuhan adalah Penciptanya, para hadirin-hadirot jauh sekali!.
Ibaratnya lagi, saudara
mempunyai senjata tajam atau senjata yang paling ampuh sekalipun, tapi kalau
tidak saudara pergunakan tidak ada gunanya, tidak berarti sama sekali sekalipun
ampuh sekali kalau tidak digunakan tidak ada artinya senjata atom sekalipm
kalau tidak ada orangnya yang menggunakam, sama sekali tidak memberi manfaat
atau menjadikan bahaya. Sesungguhnya yang harus di takuti orangnya, para
hadirin-hadirot Sebab dia yang
menentukan kalau tidak ada orangnya sama sekali tidak ada gunanya baik guna
yang menguntungkan atau menghancurkan.
Yah. Itu tadi hanya
gambaran. Gambaran itu Maya sekedar untuk mendekatkan pengertian sehingga mudah
diterima, mudah dimengerti. Didalam Al-Qur'an sendiripun banyak
gambaran-gambaran supaya manusia mudah memahaminya.
Jadi, kembali kalau orang
memiliki Nur yang pertama tadi yaitu “syu’aa-ul bashiroh”, dia selalu dalam
keadaan “moroqobah”. Menerjang atau membangkang ketentuan Tuhan otomatis tidak
berani. Sekalipun tidak ada orang lain yang melihatnya. Sebab dia senantiasa
merasa diincar. Diincar dengan incaran yang tidak dapat digambarkan tajam dan
telitinya Ya mudah-mudahan kita dikaruniai seperti itu para hadirin-hadirot.
Kalau orang dikaruniai seperti itu, otomatis dekat yang saya maksud dekat di
sini, dikasihi disayangi diridloi oleh Alloh SWT.
وَالَّذِى يَنْكَشِفُ بِالثَّانِىعَدَمِّيْةُ كُلِّ
مَوْجُوْدٍ فِى وُجُوْدٍ الْحَقِّ تَعَالَى فَيُشْهِدُ اْلأَكْوَانَ عَدَمًا ..
Orang yang memiliki
bashiroh yang kedua tadi, yaitu “ainul bashiroh” atau “ainul-yaqiin” atau
“nuurui-ilmi”, otomatis dia senantiasa merasa bahwa yang wujud hanya Tuhan Semuanya ini selain Tuhan tidak ada.
فَيُشْهِدُ اْلأَكْوَانَ عَدَمًا فَلاَيَعْبَأُ بِهَا
وَلاَ يَلْتَفِتُ اِلَيْهَا اِذْ وُجُوْدُهَا عَارِيَةٌ
Dia hanya Tuhan yang nampak dalam pandangan hatinya. Dirinya sendiri dan
makhluq yang lain-lain ini hanya wujud bayangan. Oleh karena itu dia tidak
ambil perduli tidak terpengaruh oleh makhluq yang wujud bayangan itu. Tidak
gentar, tidak takut, tidak kepencut, tidak terpengaruh mengapa ditakut, mengapa
pengaruhi. Sekalipun kelihatannya mengkilat, itu hanya bayangan. Sekalipun
kelihatan seram dan menakutkan, sesungguhnya hanya bayangan Sekalipun kelihatan
menggiurkan begini begitu, apabila orang dikaruniai bashiroh yang kedua tadi,
dia tidak kepencut sama sekali tidak terpengaruh tidak takut, tidak kawatir,
tidak menjagakan tidak menjagakan sawahnya, pasarnya, gajihnya sendiri,
kepandaiannya, kemampuannya, keahliannya sama sekali tidak menjagakan. Oleh
karena itu semua adalah bayangan dan ini bayangan ini sesungguhnya hanyalah
bayangan. Sesungguhnya bayangan nyocoki dengan keadaan yang sesungguhnya
bayangan.
Oleh karena misalnya
sawahnya sungguhlah luas, subur, tapi terkena hama wereng sudah qiamat? Apa itu
mau di jagakan? Sekalipun menguntungkan, hanya bayangan, sekalipun merugikan,
mari kita koreksi masing-masing pandangan kita seperti itu atau tidak, kalau
tidak ini namanya tidak nyocoki dengan keadaan sesungguhnya, para
hadirin-hadirot keadaan sesungguhnya semuanya ini adalah bayangan para
hadirin-hadirot, bayangan!.
lbaratnya di muka kita ada
gelas yang sesungguhnya berisi racun. Tapi oleh karena didorong dan terpengaruh
oleh rasa haus dan terpengaruh oleh isi gelas yang kita duga minuman Iezat yang
menghilangkan rasa haus, lalu kita minum. Waktu minum mungkin belum merasa itu
sesungguhnya racun. Tapi setelah itu para hadirin-hadirot, kita menjadi
sekarat, karena minum racun kita semua akan mangalami kelak di kemudian hari
ketika didunia peranan kita itu hanya bayangan yang nyocoki dengan keadaan
sesungguhnya ataukah hanya perasaan begitu saja, ini semua kita masing-masing
akan mengalami kelak dikemudian hari para hadirin-hadirot. Ketika nyawa dicabut
Izroil, merasakan Pandangan kita ketika
minum misaInya, apakah yang kita minum dulu itu sungguh-sungguh sirup atau
racun, nanti ketika Izroil datang mengalami para hadirin-hadirot, keadaan yang
sesungguhnya kalau racun, merasakan beratnya sakit akibat keracunan para
hadirin-hadirot tapi kalau benar sirup juga akan merasakan lezatnya pada ketika
Izroil mencabut roh kita para hadirin-hadirot. Alangkah lezatnya ya
mudah-mudahan para hadirin-hadirot pandangan kita selama didunia ini
sungguh-sungguh nyocoki dengan keadaan sesungguhnya para hadirin-hadirot.
Racun, kita tahu bahwa itu racun, dan kalau strup kita juga tabu itu sirup Ya
mudah-mudahan tidak keliru pandangan kita ini. Kalau pandangan terlanjur
keliru, salah pasti nanti akan merasakan betapa beratnya kalau tepat cocok,
kita akan merasakan lezatnya
Mudah-mudahan kita senantiasa dilindungi oleh Alloh SWT Amiin!.
Jadi, kembali lagi, orang
yang memiliki “bashiroh” pandangan hati seperi nomer dua yaitu “ainul bashiro”,
otomatis memandang makhluq termasuk dirinya sendiri hanya sebagai bayangan.
Sama sekali tidak terpengaruh! Tidak selalu ngresulo ketika mlarat atau
menghadapi musibah atau ujian. Melainkan senantiasa ridlo kepada Alloh SWT.
Kaya tidak sombong, ini hanya bayangan! kalau saya salah gunakan otomatis
mencekik leher ini. Racun ini otomatis kalau orang mempumyai pandangan begitu
para hadirin-hadirot yang wujud dan kekal hanya Alloh SWT. Adapun makhluq,
“KULLU SYAIIN HAALIKUN ILLA WAJHAHU”. Segala sesuatu pasti hancur kecuali hanya
tuhan yang kekal abadi tidak hancur dan tidak berubah. Dan selain itu, fakta
dalam pengalaman banyak terjadi. Kemarin masih sehat segar bugar gagah perkasa,
sekarang sudah menjadi layatan. Kemarin masih kaya masih lincah, sekarang sudah
berteriak-teriak minta tolong. Ini pengalaman, para hadirin-hadirot coba itu
lihat yang sebaya dengan Saudara. lebih tua atau lebih muda di bawah saudara.
Ini semua harus kita manfaatkan.
Banyak sekali
kejadian-kejadian yang mengejutkan, yang datangnya secara mendadak. Ini semua,
sesungguhnya kita selalu diperingatkan oleh Alloh SWT para hadirin-hadirot.
Tapi lalu bagaimana?. Kita terima dengan penuh perhatian ataukah kita masa
bodoh begitu saja, para hadirin-hadirot?. Karena hanya belas kasihan Alloh SWT
senantiasa memperingatkan kepada hamba-Nya para hadirin-hadirot. Lalu diantara
kita bagaimana tanggapan kita diwelasi disayang oleh Alloh SWT?. Alloh SWT
senantiasa memberi peringatan dengan bermacam-macam keadaan! Baik keadaan
menggelisahkan, keadaan mengejutkan, keadaan megecewakan, keadaan-keadaan
menggembirakan malah, dan keadaan-keadaan, banyak para hadirin-hadirot !.
Saking kasih sayangnya Alloh SWT! Tapi pada umumnya para hadirin-hadirot, yang
disayangi ini yang tidak merasa! Malah acuh tak acuh, mempermainkan dan
sombong.
Masih baik pohon-pohonan!
Pohon mangga atau pohon jambu misaInya, biar dilempari batu malah membalas
dengan buah mangga atau buah jambu. Kok lebih baik pohon mangga atau pohon
jambu pada umumnya para hadirin-hadirot!. Maaf, ditolong mentung malah memukul
pada umumnya para hadirin-hadirot! dalam keadaan ini! AL Fatihah.
وَثَمْرَةُ ذَلِكَ أَنَ لاَيَبْقَى فِىنَظْرِكَ مَا
تَسْقَنِدُ إِلَيْهِ وَ لاَ مَا تَسْتَأْنِسُ بِهِ فَيَتِمُّ لَكَ التَّوَكُلُ
وَالتَّفْوِيْضُ وَالرِّضَا وَاْلاِ سْتِسْلاَمُ
Buahnya, apabila kita
senantiasa begitu otomatis kita tidak terpengaruh oleh segala sesuatu yang
menguntungkan yang menyenangkan atau yang merugikan sekalipun!. Karena yakin
bahwa sekalipun itu menguntungkan tapi hanya sementara! Malah, sekalipan
wujudnya menguntungkan, tapi bisa juga merugikan apabila kita salah gunakan!
Dia senantiasa tidak jenak, tidak bisa mesra diwaktu berhadapan atau jagongan
dengan siapapun. Karena kesemuanya itu hanya merugikan. Kecuali hanya berhadap
Tuhan, sowan di hadapan Tuhan, dia merasa jenak, merasa tenang dan merasa
mesra. Sebab hanya Tuhan yang memberi dan membawa keuntungan dan kebahagiaan!
Semuanya itu, selain Tuhan, merugikan! otomatis!. Berkumpul atau bersama-sama
dengan apa-apa yang diridloi Alloh SWT otomatis sama dengan barada dihadapan
Aloh SWT. Dia menjadi tenang tentram asyik diwaktu berkumpul dengan apa-apa dan
siapa-siapa orang yang diridloi Alloh SWT.
اْلأَخِلآءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ
إِلاَّ الْمُتَّقِيْنَ {الزحرف ٦٧}
Orang-orang yang berkawan,
bersaudara yang saling berhubungan, besok pada yaumul qiyamah saling
bermusuhan, para hadirin-hadirot!. Kecuali mereka yang di dalam melakukan.
Saling tuntut menuntut. berkawan bersaudara itu berdasarkan taqwa, LILLAH
BILLAH. LIRROSUL BIRROSUL istilah
Wahidiyah!. Kalau tidak berdasar atas taqwa, LILLAH BILLAH LIRROSUL
BIRROSUL otomatis besok saling bermusuhan satu sama lain!. Pasti para
hadirin-hadirot!. Baik itu hubungan antar keluarga sama keluarga., Anak orang
tua, orang tua-anak! atau kawan atau tetangga pokoknya semua hubungan di dunia.
“ILLAL MUTTAQIN” para hadirin-hadirot!. Besok saling dorong mendorong ke
neraka. Mana yang kalah mana yang menang!. Atau keduanya salah, semuanya masuk
bersama-sama ke dalam neraka, para hadirin-hadirot!.
Mari para hadirin-hadirot,
kita menaruh perhatian yang sungguh-sungguh yang sebanyak-banyaknya!. Kalau
orang memiliki “ainul bashiroh” otomatis senantiasa tawakkal, senantiasa ridlo.
Diantara kita sudah begitu ataukah belum, mari para hadirin-hadirot kita
lihat!.
وَالَّذِى يَنْكَشِفُ بِالثَّالِثِ الذَّاتُ
الْمُقَدَسَةِ ,وَثَـمْرَةُ ذَلِكَ الْفَنَاءُ الْكَامِلُ الَّذِى هُوَ دِهْلِيْزُ
الْبَقَآءِ فَيَفْنَى عَنْ فَنَآئِهِ وَعَدَمِهِ اِسْتِهْلاَكاً فِى وُجُوْدِ
سَيِّدِهِ ,وَنَاهِيْكَ بِمَا يَحْصُلُ لَهُ حِيْنَئِذٍ مِنَ الْمَوَاهِبِ
والاَسْرَارِ اْْلإِلَهِيَّةِ فَإِذًا تَرَقَّى عَنْ ذَلِكَ حَلَّ فِى مَقَامِ
الْبَقَآءِ
Orang yang dikaruniai “bashiroh” jenis nomer tiga, Yaitu “haqqul bashiroh”
atau “haqqul yaqiin” atau “nuurul haqqii”, dan ini yang paling sempurna
sendiri, buahnya yaitu difanak pada Alloh SWT. Hilang lenyap ANANIYAH-nya.
Ke-akuan-nya, egoisnya hilang sama sekali. Tidak mengaku! Tidak ujub tidak
takabbur! Riya’ dan sebagainya otomatis lenyap dari dirinya. Tidak merasa “saya
bisa saya kuasa” dan sebagainya.
FANAK ada tiga macam.
FANAK SIFAT : Saya
tidak merasa mempunyai kemampuan atau kepandaian!. ini semua Alloh yang punya
yang menggerakkan, yang ... yang... yang...
semua Alloh! Saya tidak bisa berjuang begini begitu, ini Tuhan!. Saya
tidak ada. Ini Tuhan “WANAHIIKA” ditanyakan lagi, buahnya! Jangan ditanya lagi
Alloh SWT yang senantiasa diberikan orang seperti itu!. Pokoknya tidak bisa
diketahui kecuali hanya Tuhan yang Maha mengetahui segala-galanya! Ya
mudah-mudahan para hadirin-hadirot kita
dikaruniai Alloh SWT fadlol yang sebanyak-banyaknya! yang sempurna-sempurnanya!
kalau orang sudah seperti yang diterangkan di atas ini, dia memiliki tingkatan
atau martabah, MARTABATUL WAHIDIYAH namanya. Yaitu BILLAH. Atau MARTABAH
MOHAMMADIYAH. Orang yang seperti itu, seperti saya kemukakan tadi, “DHILLUL
ILLAHI. Bayangan Tuhan, atau orang seperti itu, adalah “KHOLILFATULLOH” wakil
Tuhan.
Para hadirin-hadirot, tidak bisa dibayangkan, keadaan dia
besok diakhirot! Dikagumi oleh makhluq-makhluq lain! ya mudah-mudahan para
hadirin-hadirot, pengajian pagi ini benar-benar diridloi oleh Alloh SWT
Rosuulihi SAW !
{كَانَ الله ُوَلاَ شَئَ مَعَهُ وَهُوَ
اْلآَنَ عَلَى مَاعَلَيْهِ كَانَ }
Orang yang fanak, orang yang hilang ananiyahnya, hanya Alloh “KAANA LLOHU
WALA SYAIAMAI’AHUM”. Hanya Alloh Pentitik “WA HUWAL-AAN ‘ALA MA ‘ALAIHI KAANA”.
Dia sekarang baru merasakan, bahwa sesungguhnya hanya Tuhan yang ada! Baru
merasakan!.
Orang yang belum fanak,
belum hilang ananiyahnya, belum merasakan. Paling-paling hanya ilmiyah! Yah,
tapi minim harus ilmiyah! Sekalipun belum merasakan. Kalau sudah merasakan baru
menyadari bahwa sesugguhnya yang ada hanya Tuhan. ibarat orang tidur sedang
bermimpi semua
النَّاسُ نِيَامٌ
Umat manusia itu semua tidur nyeyak pada umumnya!. Mimpi dan
mengigau-nglindur!
فَإِذَا مَاتُوْا اَنْتَبَهُوْا
Nanti kalau sudah dicabut
Izroil terkejut, ketika bermimpi seperti sungguh-sungguh terjadi. Tapi setelah
bangun, tidak ada apa-apa! ini para hadirin-hadirot. Ya untung kalau hanya
seperti mimpi saja. Sesungguhnya keadaan kita ini jauh dari pada itu! Dikiranya
tidak apa-apa, dikiranya menguntungkan. Tapi nanti ketika dicabut rohnya oleh
izroil, tidak dapat dibayangkan beratnya para hadirin-hadirot !.
Seperti sering saya utarakan, atau juga oleh pusat,
ketika orang menghadapi lzroil, jenggelel, ndrodog, lumpuh, para
hadirin-hadirot!. baik orang tidak sakit, lebih-lebih kalau sakit, kok
tahu-tahu jenggelek Izroil, lumpuh sama sekali! Lemas dia merengek-rengek
ngrepo-ngrepo pada Izroil. Sudilah ditunda sehari saja ya Izroil, saya bertobat!
“Tidak ada hari”!
“Setengah hari saja”.
“satu jam saja, satu menit, setengah menit. Tidak digubris oleh Izroil para
hadirin-hadirot! Dalam keadaan yang sangat gawat sekali ini para
hadirin-hadirot, andai kata kita mempunyai emas se-Jagad dan minta diundur
sehari saja dikabulkan, bungahnya tidak bisa digammbarkan para hadirin-hadirot!
tapi mana boleh jadi, para hadirin-hadirot !
Qodarnya Allob SWT tidak
bisa dirobah merasakan bagaimana beratnya para hadirin-hadirot!. Apakah kita
harus menunggu keadaan begitu para hadirin-hadirot ?.
Ya muda-mudahan para
hadirin-hadirot, kita di ampuni oleh SWT. Di karuniai hidayah dan taufiq yang
sebanyak-banyaknya diberi syafaat Tarbiayah barokah karomah nadroh oleh
Rosulihi SAW, oleh Ghousi Hadhaz Zamani
wa A’waanihi asaairi Ahbaa Billahi radiyaallohu Ta’ala ‘anhum.
Para hadirin-hadirot.
Pengajian kiranya cukup sekian saja. Dan sekali lagi mudah-mudahan benar-henar
diridloi Alloh SWT wa Rosuulihi SAW. Benar-benar bermafaat berbarokah
bermaslahah, dan membawa kemajuan yang sebesar-besarnya bagi kita bersama.
Selanjutnya waktu dan tempat dipersilahkan kepada beliau dari pusat.