ِبـسْمِ الله
ِالرََّحْمَـنِ الرَّحـِيْمِ
حُسْنُ اْلأَعْمَالِ
نَتَائِجُ حُسْنُ اْلأَحْوَالِ وَحُسْنُ اْلأَحْوَالِ مِنَ اْلتَّحَقُّقِ فِي
مَقَامَاتِ اْلإِنْزَالِ
(Amal perbuatan yang baik merupakan
perwujudan atau manifestasi dari sikap mental, sikap hati yang baik; dan sikap
hati atau mental yang baik itu tumbuh dari keadaan manusia itu sadar kepada
Allah SWT - LILLAH BILLAH istilah Wahidiyah).
Amal perbuatan
yang baik, yaitu amal perbuatan yang memenuhi syarat-syarat di terima oleh
Alloh SWT. Yaitu yang tidak kecampuran ujub riyak takkabur. Hatinya betul-betul
menghadap kehadirot Alloh SWT, tidak dipengaruhi oleh nafsu. Pokoknya LILLAH
BILLAH istilah Wahidiyah. Ikhlas semata-mata hanya mengabdikan diri kepada
Alloh. Tanpa ada pamrih ini itu, baik pamrih duniawi atau pamrih ukhrowi.
Beramal semata-mata mengabdikan diri kepada Alloh. Tidak mengharapkan pahala
atau syurga, takut neraka atau siksa, akan tetapi didalam mengharap atau
didalam takutnya itupun didasari melaksanakan perintah supaya mengharap dan
supaya takut. Jadi diarahkan demi untuk pengabdian diri kepada Alloh.
Selanjutnya
yang dimaksud “husnul ahwaal”, sikap mental yang baik, yaitu hati yang selamat
dari pengakuan nafsu. Senantiasa menyadari bahwa ia dapat melakukan amal-amal
ibadah apa saja itu, lahir dan batin adalah semata-mata karena fadlol Alloh
SWT. Dirinya sendiri sama sekali tidak merasa mempunyai kemampuan. Istilah
Wahidiyah BILLAH. LAA HAULA WALAA QUWWATA ILLA BILLAH !. Dan, sikap mental yang
baik, yaitu yang senantiasa sadar BILLAH itu, otomatis karena mendapat sorotan
ilmu-ilmu Tauhid dan Kesadaran. Dengan kata lain mendapat fadlol dan rohmat
dari Alloh SWT.
Dari
kesimpulannya, ilmu (yang bermanfaat maksudnya), membuahkan sikap mental yang
baik (senatiasa sadar BILLAH). Dan sikap mental yang baik itu menghasilkan
amal-amal yang baik pula. Yaitu amal yang ikhlas LILLAAHI TA'ALA. Jadi apabila
sungguh-sungguh sadar BILLAH 100 %, artinya tidak setengah-setengah, otomatis amal-amal
yang LILLAH terisi. Jadi yang paling pokok adalah BILLAH, disamping harus usaha
mengisi LILLAH sebaik mungkin !. Kita yakin, didalam Wahidiyah asal
sungguh-sungguh dan rajin mujahadah-mujahadah Wahidiyah insya Alloh dikaruniai
kesadaran Fafiruu Ilallohi wa Rosulihi saw yang lebih meningkat dan lebih
sempurna dari masa-masa sebelumnya !. Ya mudah-mudahan para hadirin
hadirot, kita dikaruniai kesadaran Fafiruu Ilallohi wa Rosulihi saw yang lebih
meningkat dan lebih sempurna lagi. Begitu juga keluarga kita dan ummat dan
masyarakat semoga dikaruniai kesadaran Fafiruu Ilallohi wa Rosulihi saw dalam
waktu yang tidak lama lagi. Amiin !. Amiin !. Amiin !. Yaa Robbal' Alamiin !.
لاَتَتْرُكِ اْلذِّكْرِ
لِعَدَمِ حُضُورِكَ مَعَ اللهِ فِيْهِ لأَِنَّ غَفْلَتُكَ عَنْ وُجُودٍ ذِكْرِهِ
أَشَدٌ مِنْ غَفْلَتُكَ فِي وُجُودِ ذِكْرِهِ
(Janganlah engkau meninggalkan
ZIKIR dengan alasan hatimu tidak dapat hudlur ketika berzikir. Oleh karena
kelalaianmu dari melakukan dzikir itu lebih berat dari kelalaian di dalam
zikir).
Sekali-kali
jangan meninggalkan zikir, sekalipun hatinya tidak bisa hudlur kepada Alloh.
Zikir atau Mujahadah atau ubudiyah-ubudiyah lain sekalipun hatinya tidak bisa
hudlur, harus dipaksa !
فَإِنَّ اْلذِّكْرُ
أَقْرَبُ اْلطُّرُقَ إِلَى اللهِ
Oleh karena zikir, ingat kepada
Alloh itu adalah jalan yang paling dekat menuju kepada Alloh. Dan, merupakan
setengah dari pada tanda-tanda dikasihi Tuhan.
مَنْ أَحَبُّ شَيْئًا
اَكْثَرُ ذِكْرُهُ
Barang siapa cinta kepada
sesuatu, senantiasa banyak ingatnya kepada yang sesuatu yang dicintai itu.
Kalau orang banyak ingat kepada Alloh, ini otomatis cinta kepada Tuhan. Siapa
yang mencintai Tuhan, otomatis dikasihi Tuhan.
........................................
“Lianna ghoflataka ........................................
Sekalipun Zikir atau Mujahadah
atau ibadah lahiriyah lain-lain itu tidak dengan hati yang hudlur yang khusyuk,
tapi otomatis masih lebih baik dari pada sama sekali tidak beribadah. Asalkan
ibadah-ibadah lahir itu tidak diperalat, disalah gunakan !.
Jadi ibadah-ibadah
lahir seperti sembahyang, mujahadah, tadarus Al Qur’an, baca sholawat dan lain
sebagainya, sekalipun tidak bisa hudlur hatinya, tidak bisa khusyuk, harus
dipaksa, harus dikhusyuk-khusyukkan. Sebab kalau lahirnya tidak beribadah dan
hatinya tidak hudlur tidak khusyuk, ini berarti dua kerugian. Itu ibadah lahir
yang tidak disalahgunakan. Tapi kalau ibadah lahir itu disalahgunakan ..... Ya
lebih baik sama sekali tidak ibadah!. Ibadah untuk pamer umpamanya !. Lebih
baik tidak ibadah sekali dari pada ibadah dipakai pamer atau di salahgunakan
untuk kepentingan-kepentingan yang tidak diridlohi Alloh wa Rosuulihi saw.
Kalau hanya tidak khusyuk ingat sana-sini, ini harus dipaksa !. Kalau timbul
rasa untuk pamer atau penyalahgunaan ya harus dipaksa supaya tidak begitu !
Pokoknya jangan sampai ibadah diperalat !. Lha kalau ada hajat atau
kepentingan, apa juga termasuk memperalat ? asal hajad yang tidak maksiat dan
didasari LILLAH BILLAH, ini bukan memperalat. Atau ya memperalat, tapi
memperalat untuk ibadah. Jadi baik saja. Yang dikecam yaitu apabila
diperalat untuk nafsu !. Misalnya memperbanyak mujahadah, atau
amalan-amalan lain agar diparingi jembar rizki untuk kepuasan nafsunya ini yang
tidak boleh. Namanya memperalat ibadah untuk kepentingan nafsunya. Atau
kasarnya memperalat Tuhan buat menyembah kepada nafsunya !. Ini terkecam
sekali!.
Jadi tidak
mujahadah, tidak ibadah dan tidak hudlur, ini lebih berat daripada ibadah atau
mujahadah yang tidak hudlur tidak khusyuk. Yang lebih sempurna dan ini kita
mampu, mampu usaha, yaitu lahirnya ibadah, dan dalamnya hudlur. Lisannya baca
“ALLOHUMMA YAA WAAHIDU .........” hatinya juga Allohuma yaa waahidu. Lahirya
baca “YAA SYAAFI’AL ........” dalamnya, hatinya juga baca yaa syafi’al .... dan
seterusnya.
Maka kita harus
memperbanyak zikir kepada Alloh !. Sekalipun hatinya dalam keadaan lupa tidak
hudlur. Harus dipaksa !. Ini lebih sedikit kerugiannya dari pada sama sekali
tidak zikir dan hatinya tidak hudlur jadi sekalipun lahimya ibadah atau zikir
dan hatinya tidak hudlur, sekalipun begitu, harus dipaksa !. Insya Alloh lama
kelamaan akan menjadi hudlur!. Jadi harus terus diusahakan memperbanyak zikir
dan istighfar mohon tobat!.
فَعَسَى أَنْ يَرْفَعَكَ
مِنْ ذِكْرِ مَعَ وُجُودِ غَفْلَةٍ إِلَى ذِكْرٍ مَعَ وُجُودٍ يَقْظَةً
Insya Alloh asal sungguh-sungguh,
sekalipun pada pertamanya hatinya kesana kemari, insya Alloh diberi fadlol oleh
Alloh SWT sehingga dapat zikir lahir batin.
وَاْلَّذِيْنَ جَاهَدُوْا
فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا
(Mereka orang-orang yang mau
sungguh-sungguh usaha menuju kepada - KU, pasti aku tunjukkan jalan - KU).
وَمِنْ ذِكْرِ مَعَ وُجُودٍ
يَقْظَةِ إِلَى ذِكْرٍ مَعَ وُجُودِ حُضُورٍ
Dan akan terus ditingkatkan dari
zikir dalam keadaan bangun, bersemangat kepada zikir dalam keadaan hudlur,
khusyuk. Merasa senantiasa dilihat oleh Tuhan. Merasa senantiasa dikuasai oleh
Tuhan.
وَمِنْ ذِكْرِ مَعَ وُجُودِ
حُضُورٍ إِلىَ ذِكْرٍ مَعَ وُجُودِ غَيْبَةٍ عَمَّا سِوَى اْلمَذْكُوْرِ
Dan kalau terus usaha, nantinya
akan lebih ditingkatkan lagi oleh Alloh. Yaitu zikir ma’a wuujudi
ghoibatin’ammaa siwal-mazkuur. Hanya ingat kepada Tuhan, tidak berangan-angan
kepada selain Tuhan. Sekalipun kepada dirinya sendiri tidak ingat, tidak
membuat acara. Pokoknya hanya kepada Tuhan !. Kesadaran TAUHID yang mulus.
Bahkan terhadap ingatnya kepada Tuhan itupun tidak ingat lagi. Pokoknya
hanya ingat kepada Alloh. Selain Alloh tidak menjadi acara didalam hatinya.
Kalau orang
sudah demikian itu ingatnya kepada Tuhan, maka otomatis dia selalu zikir tanpa
disengaja. Bagaimanapun keadaannya dan apapun yang ia lakukan senantiasa dalam
keadaan zikir secara otomatis. وَحِيْنَئِذٍ يَكُوْنُ الْحَق ُّلِسَانِهِ اَّلذِي
يَنْطِقُ بِهِ فَإِنْ بَطَشَ هَذَا الَّذاكِرُ كَانَ يَدِهِ اْلَتِي يَبْطُشُ
بِهَا وَإِنُ سَمِعَ كَانَ سَمْعُهُ اْلَذِي يَسْمِعُ بِهِ
Dan dalam
keadaan seperti diatas, maka dikatakan seperti dalam Hadist Qudsi, dan uraian
diatas juga nukilan dari Hadist Qudsi, yaitu bahwa ketika dia berbicara, Alloh
yang berbicara; jika dia memukul dengan tangannya, maka Alloh yang menjadi tangannya;
dan ketika dia mendengar Alloh yang menjadi telinganya. Maksudnya yaitu BILLAH
istilah Wahidiyah. Ketika berbicara tidak merasa dirinya yang berbicara, tapi
Tuhan yang membuat dia berbicara. Ketika berbuat dengan tangannya begitu juga,
Tuhan yang menggerakannya. Begitu juga ketika mendengar, melihat dan
sebagainya. Pokoknya tenggelam didalam LAUTAN TAUHID.............” hatta laa
naro walaa nasma’a illa bihaa”.
Kecuali BILLAH.
Para
hadirin-hadirot, mari kita mengadakan koreksi pada diri kita masing-masing.
Sudahkah senantiasa sadar BILLAH dalam segala keadaan dan perbuatan kita ?.
Mari kita terus berusaha, jangan berhenti ditengah jalan !. Ibarat anak belajar
naik sepeda, pertama kali yang sering jatuh. Jatuh bangun lagi, jatuh bangun
lagi. Lama kelamaan menjadi prigel, pandai naik sepeda. Bahkan dengan lepas
setirpun tidak jatuh lagi. Maka harus terus berusaha !. Kalau takut jatuh ya
tidak jadi bisa naik sepeda. Begitu juga soal ini, soal kesadaran kepada Alloh
SWT wa Rosuulihi saw !. Ketika lupa atau senantiasa lupa kok lalu putus asa. Ya
tidak akan menjadi orang sadar!. Lupa diingat-ingat lagi, lupa diingat-ingat
lagi, lupa diingat-ingat
lagi
......... dan seterusnya !. Harus tlaten !. Insya Alloh akhirnya diberi oleh
Tuhan. Dan dengan semangat yang berkobar-kobar. Kalau hatinya menyeleweng,
cepat-cepat diarahkan lagi, nyleweng lagi diarahkan lagi ....... dan
seterusnya. Dan terus berdepe-depe kepada Alloh, bertobat memohon maghfiroh,
memohon petunjuk.
Ibarat orang
naik sepeda, mau jatuh kekanan, setirnya dibanting kekanan. Mau jatuh kekiri
dibanting kekiri!. Sehingga tidak jadi jatuh. Bahkan dengan lepas setir
sekalipun tidak jatuh. Begitu juga soal ini. Pokoknya.......”WALLAZIINA
JAAHADUU FIINA LANAHDI YANNAHUM SUBULANAA”.
Mujahadah kok
hatinya ngglambar saja, ingat sana-sini atau malas (aras- arase). Jangan putus
asa !. Teruskan usaha !. Kalau perlu harus dipaksa. Memperbanyak berdepe-depe
kepada Tuhan memohon ampunan, memohon barokah, karomah, nadhroh Ghoutsi Hadhaz
– Zamani wa saairi Ahbaabillahi rodiyallohu Ta’ala ‘anhum!
وَهَذِهِ اْلمَعَالِمِ
وَاْلمَرَاقِى لاَ يَعْرِفُ حَقِيْقَتُهَا إِلاَ اْلسَالِكُوْن
Pengalaman-pengalaman
dan peningkatan batiniyah seperti diatas tidak diketahui dengan persis
melainkan oleh mereka para saalik yang menempuh jalan menuju kesadaran
kepada Alloh sendiri. Orang lain yang tidak mau usaha dalam bidang itu tentu
tidak dapat mengetahui atau merasakannya. Tidak ada kata-kata yang dapat
menguraikan bagaimana hakikat dalam rasa. Rasa gula manis. Tidak ada kata-kata
yang dapat menguraikan rasa manis. Tapi dapat dirasakan oleh orang yang sedang
makan gula. Begitu juga soal kesadaran kepada Alloh wa Rosuulihi saw. Bagaimana
pengalaman-pengalaman batin yang dialami oleh mereka yang sedang dalam
perjalanan peningkatan kesadaran, tidak dapat diuraikan dengan kata-kata. Jadi
siapa yang ingin mengetahui harus juga menempuh jalan menuju kesadaran itu!.
Tanpa begitu tidak bisa mengetahuinya.
وَمَا ذَلِكَ عَلَى اللهِ
بِعَزِيزٍ
Dan hal demikian itu bagi Tuhan
tidak sukar. Mudah semua. Oleh karena itu tidak boleh putus asa. Harus terus
tlaten !. Mengingat-ingat, memperbanyak mujahadah-mujahadah, memperbanyak
berdepe-depe kepada Alloh, berdepe-depe kepada Rosuulillahi saw .... Dan
seterusnya !. Husnuzdon bahkan yakin Alloh Maha Kasih sayang, Maha mengampuni
daso-dosa ...dsb.
Semua ibadah
yang didasari LILLAH BILLAH boleh dinamakan zikir. Siapa yang belum dapat
LILLAH BILLAH harus diusahakan kalau perlu supaya dipaksa !. Jangan sampai
putus asa !.
فَاذْكُرُونِي اُذْكُرْكُمْ
Berzikirlah, ingatlah kepada-KU,
maka AKU pun zikir ingat kepadamu. Artinya senantiasa dilindungi, dibantu oleh
Alloh SWT.
Jika orang
tidak zikir tidak sadar kepada Alloh Ta’ala, dia tidak dilindungi tidak
dijangkung oleh Alloh SWT. Itu jelas. Dan kalau tidak dilindungi oleh Alloh
Ta’ala, otomatis dicaplok oleh imperialis nafsu ! atau, berulang kali dalam
Wahidiyah kita dengar, siapa yang tidak LILLAH BILLAH otomatis LINNAFSI
BINNAFSI !. Orang yang LILLAH BILLAH pasti bahagia dunia akhirot. Sekalipun di
dunia menghadapi bermacam-macam ujian-ujian soal ekonomi, soal kesehatan, soal
hubungan rumah tangga dan sebagainya, tapi bagi orang yang sadar kepada Alloh
SWT senantiasa gembira. Sebaliknya orang yang dikuasai oleh imprialis nafsu,
sekalipun serba mewah serba ada, serba tidak kekurangan soal materi, tapi dia
selalu diliputi oleh kekecewaan, oleh kekuatiran senantiasa ngongso-ongso.
Ingin ini keturutan, timbul ingin itu. Yang itu keturutan ingin yang lain lagi
dan seterusnya, tidak ada puas-puasnya. Terus diliputi keinginan- keinginan
nafsu yang tidak ada habis-habisnya!. Otomatis fikiran dan tenaganya selalu
kepayahan dalam mencapai apa yang menjadi keinginan itu. Dan selalu kuatir apa
yang sudah dimiliki itu lenyap dari tangannya.
Lain halnya
dengan orang yang sadar kepada Alloh Ta’ala. Sekalipun ia dalam keadaan mlarat,
lahirnya kelihatannya menderita tapi dia selalu ridlo kepada Alloh SWT, selalu
puas kepada Alloh SWT. Tidak kuatir tidak cemas. Diwaktu mampu kecukupan
soal rizki lahiriyah, dia tidak sombong dan fikirannya tidak putar-putar
mengurusi hartanya. Dia senantiasa tawakal kepada Alloh SWT. Soal menjaga atau
memelihara harta, atau usaha itu sudah semestinya dan dia kerjakan berdasar
untuk pengabdian diri kepada Alloh Ta’ala. Dan disamping itu, dia sama sekali
tidak menjagakan usahanya. Selalu diserahkan bulat-bulat kepada Alloh Ta’ala.
Kalaupun dia berperhitungan di dalam usahanya, itupun didasarkan demi
menjalankan perintah, yaitu perintah ikhtiar.
Pokoknya orang
yang selalu zikir kepada Alloh SWT, sadar kepada Alloh SWT, bahagia dunia
akhirot. Terutama diakhirot, sebaliknya orang yang tidak sadar kepada Alloh SWT
rugi dunia terutama di akhirot.
Dalam hubungan
ini para hadirin-hadirot, mari kita jangan putus asa !. Kita harus jalan terus.
Pantang mundur, tidak mengenal istirahat. Sekalipun lahirnya, jasmaninya
istirahat, tapi hatinya, batinnya teruus ......FAFIRRUU ILALLOHI WA ROSUULIHI
SAW !. Lebih-lebih, jangan sampai menangguh-nangguhkan !. Besok saja kalau
sudah longgar, kalau sudah selesai menggarap sawah, kalau sudah selesai kerja
lemburan, kalau sudah menyapih anak saya, ...... kalau sudah begini dan begitu
....... Jangan sekali-kali berani begitu !.
Menangguh-nangguhkan !. Malah
justru didalam kita menggarap sawah, didalam mengerjakan usaha atau
pekerjaanya, didalam memelihara putra-putranya, ...........Pokok didalam
kesibukan yang bagaimanapun juga, justru harus kita manfaatkan untuk FAFIRRUU
ILALLOHI WA ROSUULIHI SAW !.
Jika dapat
seperti itu para hadirin dan hadirot, besok ketika diakhirot
banyak yang terkejut, heran dan kagum !. si A si Fulan itu dulu waktu didunia
kelihatannya ya orang biasa, sembahyangnya ya biasa puasa juga biasa, tidak
ada keistimewaan-keistimewaan atau penonjolan-penonjolan. tapi sekarang kok
jaaauh di tempat yang sangat atas dari saya. Sebab ya itu tadi, hatinya selalu
zikir kepada Alloh SWT. Semua perbuatannya senantiasa dipergunakan untuk
ibadah !. Lha lebih-lebih orang yang lahiriyahnya mempeng dan tanpa
mengganggu kepada yang semestinya dan batinnya senantiasa zikir senantiasa
hudlur atau senantiasa FAFIRRUU ILALLOHI WA ROSUULIHI SAW istilah
Wahidiyah, ....... lebih-lebih !.
banyak yang terkejut, heran dan kagum !. si A si Fulan itu dulu waktu didunia
kelihatannya ya orang biasa, sembahyangnya ya biasa puasa juga biasa, tidak
ada keistimewaan-keistimewaan atau penonjolan-penonjolan. tapi sekarang kok
jaaauh di tempat yang sangat atas dari saya. Sebab ya itu tadi, hatinya selalu
zikir kepada Alloh SWT. Semua perbuatannya senantiasa dipergunakan untuk
ibadah !. Lha lebih-lebih orang yang lahiriyahnya mempeng dan tanpa
mengganggu kepada yang semestinya dan batinnya senantiasa zikir senantiasa
hudlur atau senantiasa FAFIRRUU ILALLOHI WA ROSUULIHI SAW istilah
Wahidiyah, ....... lebih-lebih !.
Pokoknya orang
yang sadar kepada Alloh Ta’ala adalah bahagia dunia akhirot !. Dan semua
perbuatannya menjadi ibadah baginya !. Kelihatannya menggendong anaknya yang
masih kecil, tapi sesungguhnya dia ibadah. Kelihatannya dipasar atau dikantor,
tapi sesungguhnya dia ibadah kepada Alloh SWT!. Pokoknya........ ya seperti
sudah kita fahami dan Alhamdu lillah sekalipun harus senantiasa ditingkatkan,
sudah kita alami didalam Wahidiyah ini. Dan mari kita terus usaha yang lebih
baik, lebih sempuma, lebih meningkat dari yang sudah-sudah. Makin banyak
perbuatan atau pekerjaan kita yang didasari LILLAH BILLAH, insya Alloh makin
diridloi Alloh SWT !. Maka ada dawuh:
طُوْبَى لِمَنْ طَالَ
عُمْرُوهُ وَكَثُرَ عَمَلُهُ
Alangkah bahagianya orang yang
umurnya panjang, ibadahnya, amalnya panjang. Itulah orang yang sempurna !. Oleh
karena itu mari segala gerak-gerik tingkah laku kita jadikan ibadah semua !.
Kita bekerja, kita sembahyang, baca Qur’an, puasa, mujahadah lebih-lebih harus
kita jadikan ibadah semua !. Didalam kita mengatur rumah tangga, didalam kita
mengatur ekonomi, mengatur pendidikan, mengatur negara, ..... pokoknya segala
perbuatan ASAL BUKAN MAKSIAT, mari semua itu kita jadikan ibadah kepada
Alloh SWT !. Adapun kalau maksiat ya harus tobat secepat kilat, dan didalam
kita bertobat itu kita jadikan ibadah kepada Alloh SWT!.
Menjadikan segala perbuatan untuk
ibadah itu adalah setengah dari pada ciri khas manusia. Malaikat ibadahnya
hanya sebagian-sebagian. yang zikir, zikir saja. Yang bertasbih, tasbiih saja
dan sebagainya. Tidak ada yang komplit seperti manusia, manusia ya zikir, ya
sembahyang, ya sujud, ya rukuu’, ya puasa, ya mujahadah, ya makan, ya minum, ya
bekerja, ya menolong kawan, .... Ya... banyak sekali, bermacam-macam. Malaikat
berkeinginan menjadi manusia !. Tapi yang sudah Jadi manusia kok
malah,...........bagaimana para hadirin-hadirot ?.
Setengah dari
pada rahasia dari firman Alloh :
لَقَدْ خَلَقْنَا
اْلإِنْسَانُ فِي أَحْسَانِ اْلتَقْوِيْمِ
(Sungguh AKU menciptakan manusia
dalam bentuk yang paling baik). Manusia paling baik, paling sempurna sendiri
diantara rnakhluk-rnakhluk lain. Malaikat sekalipun sempurna tidak berbuat
dosa, tapi terbatas !. Manusia mendapat kesempatan beribadah dalam bidang
tobat, Malaikat tidak, sebab tidak punya dosa. Sekalipun tobat itu akibat dari
maksiat, tapi tobat adalah suatu ibadah Malaikat ingin tapi tidak bisa, sebab
tidak berbuat dosa atau maksiat. Apanya yang ditobati !. Tobat adalah jalan
yang mendekatkan kepada Tuhan. Malaikat tidak mampu atau tidak ada kesempatan
untuk ini.
Itulah setengah
dari pada kasih sayang Tuhan kepada kita sebagai manusia. Pokoknya tidak bisa
digambarkan kasih sayang Tuhan !. Dan mari para hadirin-hadirot, semua ini kita
gunakan untuk FAFIRRUU ILALLOHI WAROSUULI SAW !. Jika kita mau menggunakan
segala hidup kita ini untuk FAFIRRU-ILALLOHI WA ROSUULIHI SAW, bukan hanya
makhluk-makhluk lain saja, tapi juga para malaikat akan menghormat kepada
siapa-siapa yang mencurahkan hidupnya untuk FAFIRRUU ILALLOHI WA ROSUULIHI SAW
!. Menghormat semuanya. Selainnya diridloi Alloh SWT yang tidak dapat
digambarkan !.
Para
hadirin-hadirot, mudah-mudahan pengajian pagi ini benar-benar diridloi Alloh wa
Rosuulihi saw!. Mudah-mudahan sekalipun bagaimana, misalnya ....... sekalipun
gayanya agak menurun dari yang sudah-sudah, mudah-mudahan tetap bertambah
ridlonya Alloh SWT. Hikmahnya, manfaatnya dan maslahahnya, mudah-mudahan
terus meningkat sebanyak-banyaknya!. Ya maaf, kiranya cukup sekian pengajian
ini dan sekali lagi mudah-mudahan membawa manfaat yang sabanyak-banyaknya untuk
FAFIRRUU ILALLOHI WA ROSUULIHI SAW !. Selanjutnya waktu dan tempat
dipersilahkan kepada Penyiar Pusat Wahidiyah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar