Wahidiyah

Minggu, 21 Februari 2016


umumnya orang yg dijajah imperialis nafsu - al hikam oleh muallif sholawat wahidiyah

وَلَمَّا كَانَ الرِّضَا عَنِ النَّفْسٍ شَأْنُ مَنْ يَتَعَاطَى الْعُلُوْمَ الظَّاهِرِيَةِ الَّتِى لَا تَدْلُّ عَلَى عُيُوْبِ النَّفْسِ نَهَى الْمُصَنِّفُ عَنْ صُحْبَتِهِمْ وَمُخَالَطَتِهِمْ

            Ini pada umumnya orang-orang yang berkecimpung dalam ilmiyah lahiriyah secara umum “keistimewaan”. Keistimewaan secara umum disini disebutkan yaitu orang-orang yang berkecimpung dalam hanya ilmiyah lahiriyah yang tidak hubungan dengan bagaimana ganasnya nafsu, itu umumnya orang yang terlihat atau dijajah imperialis nafsu !..

Atau secara umum, pada umumnya orang yang tidak ada perhatian kepada nafsu, tidak senantiasa curiga kepada nafsu, otomatis lebih banyak dirugikan oleh nafsunya.dia tidak merasa !

Senin, 15 Februari 2016




berkawan dg si bejad - al hikam oleh muallif sholawat wahidiyah

{وَلَأَنْ تَصْحَبَ جَاهِلاً لاَ يَرْضَى عَنْ نَفْسِهِ خَيْرً لَكَ مِنْ أَنْ تَصْحَبَ عَالِـمًا يَرْضَى عَنْ نَفْسِهِ}

            Dan sekiranya engkau berkawan dengan orang bodoh, buta huruf tapi anti terhadap nafsunya, itu lebih dari pada berkawan dengan orang yang alim orang cerdik orang pandai tapi masih dijajah oleh imperialis nafsunya.

            Oleh karena, berkawan itu nular atau mempengaruhi, anak yang berkawan dengan anak lain yang nakal, dia ketularan menjadi anak nakal. Berkawan dengan orang yang bejad akhlaqnya, sedikit banyak ketularan. Berkawan dengan orang yang senaiatiasa dikuasai oleh nafsu, LINNAFSI BINNAFSI, ketularan ! oleh karena itu di sini diperingatkan jangan sampai berkawan dengan orang yang akhlaqnya bejad, orang yang tidak senantiasa LILLAH BILLAH !. Tetapi berkawanlah dengan orang yang baik akhlaqnya yang anti pada nafsunya.

            Itu dalam bidang peningkatan kesadaran kecuali dalam bidang penyiaran, bidang penyiaran malah harus mempergauli orang-orang yang bejad untuk di tolong di selamatkan dari kebejatanya!. Bidang berkawan harus dari orang-orang yang akhlaq-akhalqnya lebib baik !. Jadi dalam bidang penyiaran justru kita  harus banyak mempergauli orang-orang bejad untuk ditolong di selamatkan dari kebejatanya!. Bidang berkawan harus dari orang-orang yang akhlaq-akhalqnya lebib baik !. Jadi dalam bidang penyiaran justru kita  harus banyak mempergauli orang-orang yang rusak-rusak. Ibarat orang sakit yang parah harus didahulukan selak keburu mati otomatis jika ada kemungkinan dan terutama mereka-mereka yang masih ada harapan. Harapan untuk sembuh dari kebejatan akhlaqnya. Insya Allah dalam bidang penyiaran ini asal sungguh-suagguh Insya Allah tertolong. Asal kita sungguh-sungguh didalam kita menolong mereka yang sangat parah itu.

            Jadi kembali lagi, “ WA LAANTASHAB JAAHILAN LA YARDLO 'AN NAFSIHI KHOIRUN MIN AN TASHAB ‘AALIMAN   YARDLO 'AN NAFSIHI’'. Berkawan dengan orang bodoh, yang buta huruf yang tidak dikuasai nafsunya malah dapat menguasai mengarahkan nafsunya, itu lebih baik dari pada berkawan dengan orang alim orang pandai tetapi masih dikuasai oleh nafsunya, yang senantiasa nuruti nafsunya. Yang senantiasa LINNAFSI BINNAFSI yang senantiasa berbuat perbuatan yang dikecam oleh Alloh SWT, perbuatan yang merugikan pada umat dan masyarkat sekalipun alim, tapi ilmunya itu berbahasa, tidak manfaat !.
كُلُّ عَالِمٍ لاَ يَنْفَعُ بِعِلْمِهِ هُوَ وَإِبْلِيْسُ سَوَآءٌ

            Semua orang alim, orang yang tahu, tapi tidak memanfaatkan ilmunya, tidak memanfaatkan apa yang dia ketahui, itu sama dengan iblis. Diantara kita para hadirin-hadirot, sudah tahu LILLAH BILLAH itu apa. Sampai di manakah konsekwensinya kita para hadirin-hadirot terhadap apa yang kita ketahui itu mari para hadirin-hadirot, kita koreksi. Kita tahu ilmu LILLAH  BILLAH LIROSUUL BIRROSUL, tahu LINNAFSI BINNAFSI.apa sudah konsekwen!. Semua orang alim orang yang berilmu yang tidak konsekwen dengan ilmunya, itu sama dengan iblis bahkan lebih sesat dan lebih menyesatkan  dari pada iblis!.

            Para hadirin-hadirot, ini sungguh soal yang ... menguntungkan apabila kita sungguh-sungguh, dan merugikan atau menghancurkan apabila kita tledor, glonjom ...!.

            Para hadirin-hadirot, umumnya dari kita, dari masyarakat, dari kita bangsa Indonesia, balikan dari sebagian besar umat manusia sedunia, pada umumnya banyak sekali soal-soal yang pokok yang prinsip yang sudah diketahui oleh mereka. Tahu itu baik, ini buruk, tapi justru sebagian besar umat manusia malah menjalankan yang buruk, menjalankan perbuatan-perbuatan yang merugikan orang lain, menjalankan soal-soal yang dikecam oleh Alloh SWT Ini pada umumnya. Diantara kita para hadirin-hadirot, bagaimana ?. Apakah ya idem seperti itukah, atau bagaimana. Dan di samping itu, kita semua harus bertanggung jawab para hadirin-hadirot. Bertanggung jawab!.

            Pada minggu yang lalu, atau dua minggu yang latu kalau saya tidak salah pernah saya utarakan ada peringatan batiniyah dari salah seorang kawan pengamal wahidiyah sendiri. Yaitu, maksudnya sayang…….!. Kalau Pengamal Wahidiyah terutama di dalam bermujahadahnya kurang bersungguh-sungguh, hanya sambil lalu saja !.
            oleh Alloh SWT.  Sayangnya di dalam mereka berjuang kurang bersungguh-sungguh. Ini peringatan dari .....dari ghoib para hadirin-hadirot. Lha ini apakah cocok dengan fakta dan kenyataan kita, ini terserah kepada Seandainya sungguh-sungguh mereka di dalam mujahadah-mujahadahnya, sudah dulu-dulu diberi pertolongan yang gilang-gemilang kita masing-masing.
           
            Di dalam kita Mujahadah berdepe-depe pada Alloh SWT wa Rosulihi SAW sudah sungguh-sungguh atau belum para hadirin-hadirot. Kita lillah billah, lirrosul birrosul, didalam kita berjuang apakah sudah sungguh-sungguh atau sambil lalu para hadirin-hadirot ! Mari kita koreksi !...

            Sayangnya, para Pengamal Wahidiyah di dalam mereka berjuang, didalam mereka berdepe-depe di hadapan Alloh SWT wa Rosuulihi SAW hanya maaf, hanya “tulak sumpah”  Masih kurang sekali Ya mudah mudahan pengajian pagi ini benar-benar dirdloi Alloh SWT, membawa kemajuan besar yang sebanyak-banyaknya!.




Kamis, 11 Februari 2016



orang alim, yang ridlo kepada nafsunya - al hikam oleh muallif sholawat wahidiyah
{فَأَيُّ عِلْمٍ لِعَالَمٍ يَرْضَى عَنْ نَفْسِهِ}
Apakah boleh dikatakan “ilmu-ilmunya” orang alim, yang ridlo kepada
nafsunya, yang senantiasa dikuasai imperialis nafsunya.

            Dus, orang punya ilmu yang masih dikuasi nafsu, otomatis tidak konsekwen kepada ilmunya yang baik masalah ditinggalkan, yang jelek malah dilanggar diterjang. Atau kalau pada suatu tempo berbuat kebaikan, tapi justru malah buat kedok saja, Atau ada latar belakangnya. Karena ingin dihormat orang lain. Takut tidak terhormat kalau tidak berbuat menjalankan kebaikan. Begitu juga meningalkan barang jelek atau merugikan karena takut. Pokoknya selalu ada latar belakangnya. Yaitu keuntungan pribadi atau nafu!.

            Sekalipun buta huruf tapi dia tidak dikuasai oleh nafsu, otomatis segala perbuatannya senantiasa diridloi Alloh SWT. Otomatis senantiasa membawa manfaat bagi orang lain. Sekalipun ujudnya itu tidak ada hubungan, tidak memanfaati kepada umat dan masyarakat atau kepada lainnya. Sebaliknya, apabila orang dikuasai oleh imperialis nafsu, sekalipun alimnya sundul langit, tapi justru ilmunya itu disalahgunakan untuk keuntungan pribadi atau nafsunya! sama sekali tidak membuahkan manfaat bagi umat dan masyarakat!.

            Itu tidak berarti kita harus menjadi orang bodoh orang buta huruf, jangan menjadl orang alim orang pandai, tidak begitu! yang penting jangan sampai kita menyalahgunakan ilmu kita. Disalahgunakan hanya untuk kepentingan pribadi kita harus konsekwen. Konsekwen terhadap llmu yang kita miliki!.

            Para hadirin-hadirot, ya mudah-mudahan pengajian pagi ini sekali lagi diridloi Alloh SWT wa Rosuulihi SAW, membawa kemajuan yang sebesar-besarnya bagi kemajuan perjuangan Fafirruu ilallohi wa Rosuulihi SAW.

           


Selasa, 09 Februari 2016

cancut tali wondo - al hikam oleh muallif sholawat wahidiyah

Umat dan masyarakat keadaannya sama-sama kita maklumi. Sebagian besar wasyarakat masih banyak yang dikuasai imperialis nafsu. Sebagian besar umat dan masyarakat tidak sadar kepada Alloh SWT. Mereka senantiasa nikmatullah Alloh Ta'ala tapi mereka tidak merasa diberi. Diberi hidup, diberi makan, minum, bekerja, bernafas, berflkir, ... tidak merasa bahwa mereka itu diberi oleh Alloh SWT Ini sebagian besar diberi kekuatan tidak merasa diberi kekuatan oleh Alloh SWT. Malah, disalahgunakan untuk melakukan perbuatan yang dan diancam oleh Alloh SWT yang memberi kekuatan itu. Sebagian besar begitu para hadirin-hadirot. Kita bersama kalau hanya ungkang-ungkang dengkul tidak memperdulikan soal itu para hadirin-hadirot, pasti dituntut oleh Alloh SWT. Dikumpulkan di dalam “naarul jahannam” bersama masyarakat yang menyalahgunakan, malah mungkin sekali malah lebih berat dari pada masyarakat ltu sendiri para hadirin-hadirot. Itu kalau kita tidak segera “cancut tali wondo” menyelamatkan umat dan wasyarakat dari imperialis nafsu yang ganas sekali para hadirin-hadirot. Mari para hadirin-hadirot. Mengadakan kemajuan yang sebanyak-banyaknya dan kita maju dalam ini para hadirin-hadirot, tidak akan megganggu bidang yang lain, bidang rumah tangga, ekonomi dan lain-lain. Insya Allah malah kita maju di dalam berjuang Fafiruu Ilalloh wa Rosuulihi SAW. Insya Alloh ekonomi kita diberi barokah. Para hadirin-hadirot !.


وَمَنْ يَتَقِ الله َ يَجْعَلَ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَيَحْتَسِبْ (الطلاق : ٢-٣ )

Siapa yang sungguh-sungguh takwa pada Alloh SWT pasti dikeluarkan dia dari jalan buntu, dari kesulitan-kesulitan, dan diberi yang sehanyak-banyaknya, dari jurusan yang tidak diduga-duga. Itu para hadirin-hadirot, sumpahnya Alloh SWT kepada kita para manusia .

Senin, 08 Februari 2016


dekatnya tuhan - al hikam oleh muallif sholawat wahidiyah

ِبسْمِ اللهِ الرَّحْـمَنِ الرَّحِيْمِ

( شُعَاعُ الْبَصِيْرَةِ يُشْهِدُكَ قُرْبَهُ مِنْكَ , وَعَيْنُ الْبَصِيْرَةِ يُشْهِدُكَ عَدَمَكَ لِوُجُدِهِ , وَحَقُّ الْبَصِيْرَةِ يُشْهِدُكَ وُجُوْدَهُ لاَعَدَمَكَ وُجُوْدَكَ )

            SYU’ AAUL- BASHIROTl’’ = Penglihatan hati istilah lain “Nurul Aqli” atau “ILMUYAQIIN” satu makna. Kalam orang yang mempunyai ilmul-yaqiin, atau nuurul aqli, akal yang sehat, atau “sorotan hati”, pasti orang yang berilmul yaqiin itu memiliki keyakinan yang tidak mamang lagi, tidak ayak lagi, pasti dia merasa bahwa Alloh dekat. Sebab dia senantiasa merasa dihidupkan, diberi nikmat-nikmat lahir maupun batin. Tidak mungkin atau mustahil T uhan jauh dari dirinya. Sebah Tuhan senantiasa memberi. Memberi hidup, memberi perasaan, memberi pendengaran, penglihatan dan sebagainya otomatis dekat. Dekat, dalam arti... lebih dekat seperti difirmankan dalam AI-Our'an :

وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيْدِ(ق: ١٦)

(... dan KAMI lebib dekat kepadanya dari pada urat nadi…).

            Artinya, Sebelum orang melihat misaInya, Tuhan sudah lebih dahulu Maha Mengetahui. Dan justru tahunya, melihatnya manusia itu justru ditahukan, dimelihatkan oleh Tuhan. Jadi dekat itu ada bagi istilah moril atau materiil. Si fulan dekat kepada Pak Lurah, atau pemerintah, atau presiden. Ini tidak herarti dekat fisik atau materinya. Hubungan dengan Tuhan, mustahil kalau yang dimaksud “dekat” itu dekat materi. Sebab Tuhan tidak dan bukan materi bukan seperti benda. Jadi yang dimaksud “dekat” di atas, ialah Tuhan senantiasa tahu dan lebih tahu dari pada kita terhadap kita sendiri. Tuhan lebih menguasai kepada kita. Ini berarti lebih dekat dari pada kita. Tuhan lebih “menghendaki” “WANAATASYAAUUNA ILLA AN YASYAA-ALLOH”. Kamu sekalian tidak dapat berkehendak, kecuali kalau dikehendakkan oleh Alloh. Dibuat punya kehendak atau dalam istilah syari’at sering kita dengar, biar orang melonjak setinggi langit, tapi kalau tidak dikehendaki oleh Alloh, tidak akan sukses lni berarti lebih dekat. Atau dalam dunia aqiqot, justru kehendaknya orang itu digerakkan oleh Alloh. Berarti lebih dekat.

Adapun dekat zatnya,....

            Ini tidak bisa diperhandingkan. Sebab makhluk itu hanya “bayangan” Adanya makhluq hanya bayangan. Sedanglcan KHOLIQ pasti ada, wujud. Apa mungkin bisa diperbandingkan ?.

            Jadi sekali lagi yang dimaksud “dekat” bukan berarti dekatnya dua jenis barang yang berdekatan satu sama lain. Tapi ya itu tadi, Alloh lebih dekat kepada manusia dari pada manusia itu sendiri. Sekalipun manusia itu biberi kehendak, kemampuan dan sebagainya, akan tetapi jika kehendak itu berlawanan dengan kehendak Tuhan, pasti kehendak Tuhan yang menang yang menentukan. Itu pengertian syari’at. Dalam bidang haqiqot, justru kehendak manusia itu adanya karena dikehendaki oleh Alloh. Diciptakan Tuhan bahwa dia mempunyai kehendak. Begitu juga soal lain-lain. Ilmu, pengetahuan kemampuan dan sebagainya. Kalau orang mempunyai fikiran yang sehat, memIliki “syu’aa-ul bashiiroh” atau  “ilmul yaqiin” atau “nuurul’aqli” pasti merasa seperti di dalam kita Mujahadah berdepe-depe di itu merasa bahwa Alloh lebih dekat dari pada dirinya sendiri. Dirasa dalam hati, bukan sekedar pengertian ilmiah saja.

            Orang yang tidak merasa seperti itu, ini berarti dia, hatinya gelap atau buta, kalau hatinya tidak buta, otomatis pandangan hatiya sesuai dan nyocoki dengn keadaan yang sesungguhnya. Dapatklah keadaan sesungguhnya. Yaitu tadi, Tuhan lebih dekat kepada kita dari pada kita terhadap kita sendiri.          

            Istilah “dekat”. Dikasihi, ini berarti dekat. “Minal muqorrobiin”, artinya orang-orang yang dikasihi Tuhan, yang didekati oleh Tuhan.

طُوْبىَ لِلْمُصْلِحِِِِيْنَ بَيْنَ النَّاسِ هُمْ الْمُقَرَّبُوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ .الحديث

            (Alangkah bahagianya mereka orang-orang yang mau memperbaiki ummat dan masyarakat, mereka kelak adalah menjadi orang-orang yang didekat, artinya orang-orang yang dikasihi oleh Alloh).
            Jadi dalam arti hadis ini yang dimaksud di dekat, dikasihi. Dekatnya Tuhan pada makhluq, ini dekat dalam arti menciptakan. Semuanya tidak pandang bulu. Baik itu yang terkecam atau yang tidak, ini semuanya dekat kepada Alloh, lebih dekat ini yang dimaksud “dekat” dalam pengajian ini.

            Kalau orang kok merasa dekat dalam arti merasa dikasihi, lalu merasa orang baik-baik, ini namanya takabbur ini. Oleh karena itu ada pepatah atau kata-kata :
رُؤْيَةُ الْقُرْبِ بُعْدِ

            (Merasa dekat (dalam arti dikasihi atau disayangi dipercaya), itu sesungguhnya “budaku”jauh). Lha di sini “dekat” berarti dikasihi, dan jauh berarti tidak dirldloi, Alloh SWT. Dalam Pengajian ini yang dimaksud yaitu seperti yang pertama tadi, Alloh lebih dekat kepada makhluqnya dari pada makhluq itu sendiri kepada makhluq itu sendiri. Artinya lebih menguasai secara mutlak dalam segala bidang. Dan tidak terbatas. Segala makluk diliputi oleh ilmu Tuhan. Tidak ada barang seatom pun betapa kecil dan halusnya yang di luar pengetahuan Tuhan, yang di luar kekuasaan Tuhan semuanya. Dan secara. Mendetail sekecil-kecilnya, tidak ada yang keliwatan.

{ وَعَيْنُ الْبَصِيْرَةِ يُشْهِدُكَ عَدَمَكَ لِوُجُدِهِ}

            “AINUL BASHIIROH” = mata dari penglihatan hati Atau “NUURUL- ILMI” ISTILAH LAIN. Cahayanya ilmu. Atau “AINUL YAQIIN” = kenyataan dari kayakinan. Itu sama maknanya semua.

            Orang yang memiliki “ainul bashiiroh”, atau ilmunya hati bersinar, atau mempunyai “ainul yaqiin” pasti dia merasa bahwa yang ada hanya Tuhan. Dirinya sendiri dan makhluq lain-lain tidak ada. Yang ada hanya Alloh. Itu kalau orang sungguh-sungguh mata hatinya melek dan sehat. Merasa yang ada hanya Tuhan. Saya dan makhluq-makhluq lain sama sekali tidak ada. Karena yang wujud haqiqi yang sungguh-sungguh wujud itu hanya Tuhan. Adapun makhluq, adanya itu karena diwujudkan istilah diwujudkan atau diadakan, berarti tidak wujud atau tidak ada sendiri. Berarti tidak ada dan tidak wujud. Jelas yang wujud hanya Tuhan.Kalau yang mempunyai “ainul bashiiroh atau nuurul ilmi atau ainul yaqiin”, otomatis begitu pandangan hatinya atau perasaannya. Selama dia memiliki ainul yaqiin itu. Makhluq diadakan, diwujudkan oleh Tuhan. Sedang Tuhan wujud dengan sendirinya. Tidak ada yang mewujudkan Tuhan. Malah di samping Alloh wujud, DIA mewujudkan yang lain-lain. Ini namanya “QOYYUUM”. Wujud dan mewujudkan. Atau berdiri tegak dan menegakkan. Ini “qoyyum”. Disebut juga “ismul-a’kdhom”. Hayyun-qoyyum !.

            Sebagai gambaran sering saya menggambarkan. Seorang anak kecil yang belum bisa berdiri sendiri sedang diberdirikan oleh ibunya misalnya. Sekalipun sesungguhnya itu anak kecil kelihatannya berdiri, tapi karena diberdirikan oleh ibunya. Anak kecil itu belum bisa berdiri sendiri, Kalau andai kata dilepaskan oleh ibunya, tentu dia tidak kelihatan berdiri. Namanya sianak kecil itu tidak bisa berdiri. Kelihatanya berdiri karna diberdirikan. Begitu juga mahkluk ini sesungguhnya tidak wujud tidak ada. Kelihatannya wujud, karena diwujudkan. Umpama tidak diwujudkan, pasti tidak ada. Istilah lain namanya “wujud majazi” = wujud bayangan. Wujud haqiqi hanya Tuhan. Kalau orang memiliki “ainul bashiroh”, mata hatinya sehat, otomatis merasa begitu.


Jumat, 05 Februari 2016

i'tiqod itu hanya ilmu - al hikam oleh muallif sholawat wahidiyah

            Ini paling-paling harus menjadi merupakan I'tqod itu hanya ilmiah. Saya mengutip pendapatnya Imam ghozali.

اِذَ مُجَرَدُ اْلاِعْتِقَادِ أَىْ مُجَرَدُ الْتَوْحِيْدِ بِاْلاِ عْتِقَادِ........لاَيُوْرِثُ الْتَّوَكُلَ.
         
            Tauhid yang hanya dengan iktikat saja, ini.. “Laa yuurisut- tawakkul” tidak membuahkan tawakal pasrah bongkokan pada Tuhan. Oleh karena, “iz al-I’tiqod al ilmu” iktiqod itu hanya merupakan ilmu. Ilmu tidak bisa menghasilkan rasa menyerah bongkokan pada Tuhan. Yang dapat membuahkan rasa menyerah bongkokan adalah “al a’maal” amal-amal ibadah. Mujahadah yang dapat merubah sikap itu, sikap batin terutama, adalah amal atau mujahadah istilah Wahidiyah. Ilmu atau pengertian ilmiah hanya boleh dikatakan sebagai pengantar atau arah-arah saja. Dan dalam keadaaa yang sangat terbatas sekali.

            Perjuangan Wahidiyah bukan hanya timbulnya iktiqod saja, tapi pengalaman yang diutamakan. Pengalaman atau perasan hati terhadap kesadaran kepada Alloh SWT wa Rosuulihi SAW. Pengalaman atau perasaan “zauqon” ini yang diutamakan. Yang diperjuangkan oleh Wahidiyah. Adapun soal ilmiah, ya alhamdu  lillah kita umumnya ummat Islam, sudah memiliki iktiqod atau ilmiah-ilmiah. Kalau ditanya tentu begitu jawabnya. Tapi mengenai haliyah atau zauqon ini yang perlu diusahakan diperjuangkan. Pada umumnya soal haliyah ini kita masih sayang sekai.
Masih, sangat dibutuhkan!.

            Para hadirin-hadirot, mari kita adakan koreksi pengalaman kita atau zouqiyah, apakah sudah begitu ?. Artinya merasa, seperti yang kita bahas itu tadi. Ataukah baru merupakan “iktikat” saja ? kalau baru iktikat atau pengertian tauhid, ini gampang sekali lenyapnya. Jauh lebih gampang dari pengalaman dalam rasa atau zauqiyah tersebut!. Terutama dalam keadaan-keadaan yang kritis! terutama dalam menghadapi sakarotul maut! ilmiyah atau tauhid seperti itu, teka-teki sekali.

            Pernah saya utarakan. Antara lain pada minggu yang lalu yaitu soal tauhid, atau iman. Ini ada dua atau tiga macam . Antara lain dasarnya bukan dari ilmu pengetahuan. Melainkan pereaya begitu saja, dari orang tuanya, atau dari gurunya, atau dari situasi lingkungannya yang meyakini bahwa Tuhan itu Satu dan sebagainya. Iman seperti ini adalah yang paling lemah sendiri. Jika tidak senantiasa dipupuk dengan ubudiyah-ubudiyah, dengan mujahadah-mujahadah, dalam keadaan-keadaan yang berbabaya terutama, gampang sekali hilang lenyap. Terutama dalam menghadapi sakarotul maut, mudah sekali lenyapnya iman yang hanya begitu itu.

            Bentuk iman atau tauhid yang kedua, lebih kuat dari yang pertama tadi. Yaitu iman yang berdasarkan ilmiyah, yang didasarkan aqliyah. Yaitu seperti yang dibicarakan antara lain dalam kitab Kifayatul-Awam dan lain-lain kitab tauhid. Alloh SWT kok wujud, itu apa dalilnya, apa buktinya. Dalilnya atau buktinya ya adanya makhluq ini. Atau lebih positif lagi, yaitu “mungkinnya adanya makhluq”. Kalau hanya wujudnya makhluq ini, kalau tidak wujud berarti Alloh tidak ada. Tapi dengan kata-kata “imkannya wujudnya makhluq” ini, sekalipun makhluq ini tidak ada, tidak diwujudkan, tapi “kemungkinan” adanya, ini yang menjadi atau dalil atau bukti adanya Tuhan. lni yang dibahas dalam kitab kifayatul-Awam atau kitab-kitab tauhid lainya. Iman golongan kedua ini sudah lebih kuat dari yang pertama tadi. Tapi juga masih ada lagi tingkat iman yang lebih kuat lagi yaitu tingkat ketiga. Yaitu iman seperti yang diperjuangkan didalam wahidiyah ini. Yaitu perasaan zauqon, memiliki rasa dalam hati yang sunguh-sungguh. Setiap saat setiap detik bahkan dalam segala keadaan. Ini yang paling kuat dari pada yang pertama dan yang kedua tadi.

            Ya mudah-mudahan para hadirin-hadirot, kita dikaruniai memiliki tauhid yang terakhir ini tadi, yang membaja!. Tidak bisa berubah sekalipun menghadapi suatu peristiwa yang dasyat sekali!. Ujian-ujian atau tantangan atau godaan yang begaimanapun dahsyatnya, dalam menhadapi sakarotil maut sekalipun, tidak akan berubah keadaannya!. Dalam sakarotil maut, dimana iblis dengan segala kemampuan yang ada padanya dikerahkan untuk menggelincirkan iman seseorang!. Biarpun begitu,iman bentuk ketiga ini, iman dengan sungguh-sungguh zauqiyah rasa dalam hati tidak akan mengalami perubaban sedikitpun!. Mudah-mudahan kita dikaruniai seperti itu para hadirin-hadirot !.



Kamis, 28 Januari 2016

haqqul yaqiin - al hikam oleh muallif sholawat wahidiyah

(وَحَقُّ الْبَصِيْرَةِ يُشْهِدُكَ وُجُوْدَهُ لاَعَدَمَكَ وُجُوْدَكَ)

            “HAQQUL BASHIROR” = haknya bashiroh atau penglihatan hati yang baik atau “NUURULRAQQI” atau “IIAQQULYAQIN” semua maksudnya sama.

“Bashiroh” = penglihatan hati.

“Bashor”  = penglihatan mata lahir.

            Kalau orang sungguh-sungguh memiliki “haqid bashiroh” atau “nuurul-haqqi” atau “haqqul yaqiin”, dia merasa selama memiliki haqqul bashiroh bahwa tuhan yang ada. Lain-lain tidak  menjadi acara dalam pandangan hatinya “LAA’ADAMAKA WALAA WUJUUDAKA” soal diterima ada atau tida Abaikan peringatan k ada tidak menjadi acara.

Hanya Tuhan yang wujud titik. Istighroq badannya serdiri atau makhluk lain-lain lebih-lebih sama sekali tidak menjadi acara tidak nampak oleh penglihatan mata hatinya.

            Hanya tuhan menjadi acara seperti halnya orang “kami tenggengen” terpesona yang sangat kuat sehingga tidak mengingat kepada yang lain-lain. Termasuk dirinya sendiripun tidak ingat. Bahkan tidak terasa. Terpaku oleh,.... hanya satu hal. Dalam hal ini hanya tuhan. Istighroq. Tenggelam dalam ke-Esaan Tuhan.

            Ketiga keyakinan di atas, “ILMU YAQIN, AINUL YAQIN dan HAQQUL YAQIN, saya gambarkan lagi. Begini. Kita di sini di serambi mesjid ini. Mengerti meyakini bahwa disebelah timur itu ada sungai brantas. Di situ memang ada sungai brantas sungguh. Lha ini namanya “Ilmu-yaqin” Lha kalau kita berada ditebingnya sungai brantas itu, itu “ainul-yaqin” sedangkan “haqquI yaqin” sudah menjadi air. Hanya air sungai Pen. Titik. Dirinya sendiri, gampengnya sungai, sungainya dan lain-lain tidak masuk acara. Sekalipun sudah masuk ke dalam sungai tapi belum menjadi air, ini namanya masih “alnul yaqin”. Itu tadi gambaran.

            Ya mudah-mudahan kita dikaruniai memiliki haqqul yaqin yang sempurna watamaama ma’rifatika. Kita kewajiban usaha, berjuang. Kalau kita sungguh-sungguh berjuang, 'WALLAZIINA JAADUHUU FIINA LANADHIYANNAHUM SUBUULANA. Dan orang-orang yang sungguh-sungguh bermujahadah berusaha berjuang di dalam jalan-ku, pasti AKU tunjukkan jalan-Ku.

            Malah, dalam hadits Qudsi disebutkan yang maksudnya. JIka seorang hamba mendekat kepada tuhan satu meter misalnya, Tuhan mendekati dia sepuluh meter paling sedikit. Jika sihamba maju sepuluh-meter, tuhan maju mendekatinya seratus meter paling sedikit. Itu kalau digambarkan materi atau dilbaratkan berhadap-hadapan. Begitalah para hadirin-hadirot, kemurahan Tuhan. Digambarkan  dengan kecepatan misalnya, kalau si hamba mendekatnya kepada Tuhanya dengan jalan kaki, Tuhan mendekati si hamba dengan berlari  kalau sihamba mendekatnya kepada Tuhan dengan kecepatan 100 itu kalau diibaratkan dengan kendaraan , Tuhan mendekati si hamba dengan kecepatan  seribu minim pokoknya “bi’asyaroti amsaaiha” dengan sepuluh kali lipat begitu para hadirin-hadirot kemurahan Tuhan kepada diantara kita, bagaimana para hadirin-hadirot?. Menyadarikah kemurahan Tuhan itu ! Dan sampai dimana kesadaran kita para hadirin-hadirot.

            Para hadirin-hadirot, kita bisa ambil sebagai  imbangan sebagai gambaran. Seorang rakyat kecil yang ingin menghadap kepada pejabat tinggi lebih-lebih presidennya, ini jauh lebih sulit para hadirin-hadirot. Rakyat jelata yang yang ingin mendapat parhatian dari Kepala Desanya saja, sudah dengan susah payah usahanya. Dan sunguhpun demikian, hasilnya hanya sedikit sekali. Pada umumnya tidak sesuai dengan biayanya atau jerih payahnya. Malah, mungkin jangan-jangan dicurigai para hadirin-hadirot. Malah. para hadirin-hadirot, sekalipun Bapak Presiden atau Bupati atau Camat mempunyai hak tarhadap rakyatnya, sekalipun begitu para hadirin-hadirot, jika tidak dikodar oleh Tuhan, tidak akan terlaksana para hadirin-hadirot. Tuhan tidak kesulitan menciptakan sebab-sebab yang menjadi gagalnya suatu masalah, sekalipun sudah diatur serapi-rapinya. Sekalipun ibaratnya tinggal muluk, tinggal “nyendok”, kalau Tuhan tidak menghendaki, gampang “KUN FAYAKUUNU” Ini kekuasaan Tuhan, para hadirin-hadirot!.

            Tapi para hadirin-hadirot, kalau didekat oleh Tuhan, tidak ada yang dapat manghalang-halangi  para hadirin-hadirot. Dan caranya seperti disebutkan Hadist Qudsi tadi kalau sihamba mendekat sedangkah, tuhan maju mendekat sihamba tadi sepuluh jangkah minim.
            Para hadirin-hadirot, Mari belajar, Belajar, belajar menjadi orang dewasa yang memiliki fikiran yang normal yang pandai menanggapi segala sesuatu dengan semestinya. Mari para hadirin-hadirot, kalau mulai sekarang kita tidak belajar, tidak berjuang.untuk itu para hadirin-hadirot, kita sendiri yang rugi besok, terutama kalau sudah dicabut Isroil para hadirin-hadirot. Mari para hadirin-hadirot Asal kita mau usaha berjuang yang, sedapat-dapatnya para hadirin-hadirot, kita yakin kelak akan menemui suatu kebahagiaan abadi yang tidak dapat digambarkan betapa besaraya para hadirin-hadirot, terutama sesudah berada di kubur, dialam akhirot.

الْقَبْرُ رَوْضَةٌ مِنْ ِريَاضِ الْجَنَّةِ أَوْحُفْرَةٌ مِنْ حُفْرَةِ النَّارِ

            Alam kubur, atau alam barzkah bisa merupakan “taman” dari berbagai taman surga, atau bisa juga merupakan bagian dari pada neraka.
            Para hadirin-hadirot, ketika nyawa dicabut oleh Malaikat lzroil spontan mengalami alam surga atau alam neraka, para hadirin-hadirot. Dan makin lama makin berat, para hadirin-hadirot. Apakah menunggu itu, para hadirin-hadirot?. mari para hadirin-hadirot .

وَالْحَاصِلْ اَنَّ السَّالِكَ يَهْتِفُ عَلَى قَلْبِهِ أَنْوَارٌ إِلَهَيِّةٌ يُعَبَّرُ عَنْهَا بِهَذِهِ الْعِبَارَاتِ وُيُتَرَتَّبُ عَلَى كُلِّ وَاحِدٍ ثَمَرَاتٌ وَفَوَائِدُ.

            Jadi kesimpulannya, orang yang sungguh-sungguh mau mendekat kepada Tuhan, dengan mengamalkan atau memperhatikan apa yang harus diamalkan, apa yang harus diperhatikan, umpama dalam Wahidiyah ya senantiasa dapat mengadakan mujahadah-mujahadah dalam segala bidangnya, dan senantiasa mengatur hatinya, senantiasa yah separti sudah kita, maklumi, otomatis, yah otomatis nanti Alloh akan memberikan buah yang jauh lebih besar dari pada jerih payahnya hasilnya jauh lebih besar tidak dapat di perhitungkan minim sepuluh kali lipat. Sepuluh kali... “ila ab’I minati dli’fin”. Sepuluh kali sampai tujuh ratus kali lipat!. salikang... “ilaa maa laa yaglmuhu ilafloh”. sampai jumlah lipatan yang tidak bisa diketahui kecuali oleh Tuhan banyaknya, dari baiknya, dari pokoknya tidak bisa digambarkan.
Yah, pada umumnya “lipat ganda” itu melihat-lihat kuwalitasaya. Kalau kuwalitasnya sungguh-sungguh baik, otomatis lipat gandanya paling balk. Dan seterusnya. Paling diridloi. Kalau khusyuknya paling khusyuk, lebih takzim, lebih rindu, lebih perhatian,... otomatis lehih banyak lipat ganda yang diparolehnya. Mari para hadirin-hadirot, kita tingkatkan. Disamping kuwantitas, atau jumlah banyaknya, kuwalitasnya terutama! Mutunya! Mari kita tingkatkan yang setinggi-tingginya!.

قَالَ بَعْضُهُمْ وَلاَ يَبْلُغُ الْعَبْدُ حَقِيْقَتَهُ التَّوَاضُعِ اِلاَّ عِنْدَ لَمَعَانِ نُوْرِ الْمُشَهَادَةِ فِى قَلْبِهِ فَعِنْدَا ذَلِكَ تَذُوْبُ النَّفْشَ وَتَنْطَبِعُ لَلْحَقْ وَلِلْخَقِّ بِمَهْوِ أَثَارِاهَا وَسُكُوْنِ وَهِجَهَا وَغُبَارِهَا

            Badul 'Arifin, setengah orang Arifin mengatakan. Pokoknya, orang tidak dapat tawadluk yang sungguh-sungguh dan otomatis menjadi selalu takabbur “tawadluk kebalikan dari takabbur” orang tidak bisa hilang takabburnya kecuali apabila mendapat sinar atau sorotan “nur Musyahadah”. Syuhud pada Alloh SWT !. Istilah umum yang ringan, “sadar” kepada Alloh SWT Apabila orang mendapat sinar atau cahaya syuhud pada Alloh, pasti hancur nafsunya! Ananiyahnya hancur. BILLAH senantiasa!. Senantiasa menyerah bongkokan pada Tuhan senantiasa tawadluk, tidak sombong! Tidak sombong kepada sesamanya hilang, lenyap, ekses atau negatifnya nafsu. Negatifnya nafsu yang menyebabkan sombong, kikir, dan sebagainya. Lalu diantara kita bagaimana, mari kita koreksi. Apakah sudah sungguh-sunggub syuhud, sadar kepada Alloh kah, atau bagaimana, mari kita koreksi diri kita masing-masing.

            Kalau orang sungguh-sungguh sadar kepada Alloh SWT, istilah Wahidiyah LILLAH BILLAH, otomatis menjadi “DHILLUL-ILAHI”.Menjadi bayangan Tuhan. Akhlaknya selalu akhlak Tuhan. Antara lain rohman-rohim. Artinya, akhlaknya selalu, merasa kaya. Kaya tidak membutuhkan orang lain. Hanya butuh kepada Tuhan malah bilamana perlu, “kun fayakuun”. Dia menjadi orang yang suka pemaaf, suka menolong, dan sebagainya!.

مَنْ أَكْرَامَهُ فَقَدْ اَكْرَمَ الله َ, وَمَنْ عَظَّمَهُ فَقَدْ عَظَّمَ الله

            Barang siapa menghormat orang lain yang seleri itu sifat-sifatnya, berarti menghormati Tuhan. Dan barang siapa memulyakannya, berarti mangagungkan Alloh. Tapi sebaliknya.

مَنْ أَهَانَهُ فَقَدْ اَهَانَ الله

            Barang siapa yang menyakiti, melukai, menghina, mengejek kepadanya, berarti mengejek kepada Tuhan!
Awas nanti !.
وَبَيْنَ الْمُصَنِفُ أَنَّ الَّذِى يَنْكَشِّفُ بِالنُّوْرِ اْلاَوَلِ قُرْبُ اللهِ مِنْكَ وَثَمْرَاتُ ذَلِكَ وَنَتِيْجَتُهُ مُرَاقَبَتُهُ تَعاَلَى وَاْلاِ سْتِحْيَاءُ مِنْهُ حَتَى لاَيَرَاكَ حَيْثُ نَهَاك َوَلاَ يَفْتِدَكَ حَيْثُ اَمَرَاكَ

    Selanjutnya Kyai Mushonnef menerangkan Orang yang dikaruniai Nur yang pertama tadi, yang paling redah sendiri Nur yang paling rendah, orang yang di karuniai itu merasa dekat, lebih dekat kepada Alloh SWT, otomatis dia selalu “muroqobah” selalu merasa saya ini senantiasa diincer oleh Tuhan tidak berani berkutik sedikitpun, Karena merasa senantiasa diawali oleh tuhan ibarat materi boleh dikatakan umpamanya saya beharap saudara  dengan berdiri atau duduk atau berbaring.sedangkan di kanan-kiri ada jurang yang sangat curam di samping api yang berkobar kobar otomatis tidak berani bergerak sedikitpun bahkan berkedip pun tidak berani. Bahkan bernafas pun sudah “ngempet mbekan” kata bahasa Jawa  Itu, para hadirin-hadirot, kalau orang sungguh-sunguh “muroqobah”, merasa senantiasa di bawah pengawasan Tuhan yang Maha Agung Maha Kuasa. Sesungguhnya bahkan jauh dari pada gambaran itu karena sekalipun betapa hebatnya (gambaran saya tadi), itu adalah hanya ciptaan Tuhan. Sedang
terhadapTuhan, Tuhan adalah Penciptanya, para hadirin-hadirot jauh sekali!. 

            Ibaratnya lagi, saudara mempunyai senjata tajam atau senjata yang paling ampuh sekalipun, tapi kalau tidak saudara pergunakan tidak ada gunanya, tidak berarti sama sekali sekalipun ampuh sekali kalau tidak digunakan tidak ada artinya senjata atom sekalipm kalau tidak ada orangnya yang menggunakam, sama sekali tidak memberi manfaat atau menjadikan bahaya. Sesungguhnya yang harus di takuti orangnya, para hadirin-hadirot  Sebab dia yang menentukan kalau tidak ada orangnya sama sekali tidak ada gunanya baik guna yang menguntungkan atau menghancurkan.

            Yah. Itu tadi hanya gambaran. Gambaran itu Maya sekedar untuk mendekatkan pengertian sehingga mudah diterima, mudah dimengerti. Didalam Al-Qur'an sendiripun banyak gambaran-gambaran supaya manusia mudah memahaminya.

            Jadi, kembali kalau orang memiliki Nur yang pertama tadi yaitu “syu’aa-ul bashiroh”, dia selalu dalam keadaan “moroqobah”. Menerjang atau membangkang ketentuan Tuhan otomatis tidak berani. Sekalipun tidak ada orang lain yang melihatnya. Sebab dia senantiasa merasa diincar. Diincar dengan incaran yang tidak dapat digambarkan tajam dan telitinya Ya mudah-mudahan kita dikaruniai seperti itu para hadirin-hadirot. Kalau orang dikaruniai seperti itu, otomatis dekat yang saya maksud dekat di sini, dikasihi disayangi diridloi oleh Alloh SWT.

وَالَّذِى يَنْكَشِفُ بِالثَّانِىعَدَمِّيْةُ كُلِّ مَوْجُوْدٍ فِى وُجُوْدٍ الْحَقِّ تَعَالَى فَيُشْهِدُ اْلأَكْوَانَ عَدَمًا ..

            Orang yang memiliki bashiroh yang kedua tadi, yaitu “ainul bashiroh” atau “ainul-yaqiin” atau “nuurui-ilmi”, otomatis dia senantiasa merasa bahwa yang wujud hanya Tuhan  Semuanya ini selain Tuhan tidak ada.
فَيُشْهِدُ اْلأَكْوَانَ عَدَمًا فَلاَيَعْبَأُ بِهَا وَلاَ يَلْتَفِتُ اِلَيْهَا اِذْ وُجُوْدُهَا عَارِيَةٌ

Dia hanya Tuhan yang nampak dalam pandangan hatinya. Dirinya sendiri dan makhluq yang lain-lain ini hanya wujud bayangan. Oleh karena itu dia tidak ambil perduli tidak terpengaruh oleh makhluq yang wujud bayangan itu. Tidak gentar, tidak takut, tidak kepencut, tidak terpengaruh mengapa ditakut, mengapa pengaruhi. Sekalipun kelihatannya mengkilat, itu hanya bayangan. Sekalipun kelihatan seram dan menakutkan, sesungguhnya hanya bayangan Sekalipun kelihatan menggiurkan begini begitu, apabila orang dikaruniai bashiroh yang kedua tadi, dia tidak kepencut sama sekali tidak terpengaruh tidak takut, tidak kawatir, tidak menjagakan tidak menjagakan sawahnya, pasarnya, gajihnya sendiri, kepandaiannya, kemampuannya, keahliannya sama sekali tidak menjagakan. Oleh karena itu semua adalah bayangan dan ini bayangan ini sesungguhnya hanyalah bayangan. Sesungguhnya bayangan nyocoki dengan keadaan yang sesungguhnya bayangan.

            Oleh karena misalnya sawahnya sungguhlah luas, subur, tapi terkena hama wereng sudah qiamat? Apa itu mau di jagakan? Sekalipun menguntungkan, hanya bayangan, sekalipun merugikan, mari kita koreksi masing-masing pandangan kita seperti itu atau tidak, kalau tidak ini namanya tidak nyocoki dengan keadaan sesungguhnya, para hadirin-hadirot keadaan sesungguhnya semuanya ini adalah bayangan para hadirin-hadirot, bayangan!.

            lbaratnya di muka kita ada gelas yang sesungguhnya berisi racun. Tapi oleh karena didorong dan terpengaruh oleh rasa haus dan terpengaruh oleh isi gelas yang kita duga minuman Iezat yang menghilangkan rasa haus, lalu kita minum. Waktu minum mungkin belum merasa itu sesungguhnya racun. Tapi setelah itu para hadirin-hadirot, kita menjadi sekarat, karena minum racun kita semua akan mangalami kelak di kemudian hari ketika didunia peranan kita itu hanya bayangan yang nyocoki dengan keadaan sesungguhnya ataukah hanya perasaan begitu saja, ini semua kita masing-masing akan mengalami kelak dikemudian hari para hadirin-hadirot. Ketika nyawa dicabut Izroil, merasakan  Pandangan kita ketika minum misaInya, apakah yang kita minum dulu itu sungguh-sungguh sirup atau racun, nanti ketika Izroil datang mengalami para hadirin-hadirot, keadaan yang sesungguhnya kalau racun, merasakan beratnya sakit akibat keracunan para hadirin-hadirot tapi kalau benar sirup juga akan merasakan lezatnya pada ketika Izroil mencabut roh kita para hadirin-hadirot. Alangkah lezatnya ya mudah-mudahan para hadirin-hadirot pandangan kita selama didunia ini sungguh-sungguh nyocoki dengan keadaan sesungguhnya para hadirin-hadirot. Racun, kita tahu bahwa itu racun, dan kalau strup kita juga tabu itu sirup Ya mudah-mudahan tidak keliru pandangan kita ini. Kalau pandangan terlanjur keliru, salah pasti nanti akan merasakan betapa beratnya kalau tepat cocok, kita akan merasakan lezatnya  Mudah-mudahan kita senantiasa dilindungi oleh Alloh SWT Amiin!.

            Jadi, kembali lagi, orang yang memiliki “bashiroh” pandangan hati seperi nomer dua yaitu “ainul bashiro”, otomatis memandang makhluq termasuk dirinya sendiri hanya sebagai bayangan. Sama sekali tidak terpengaruh! Tidak selalu ngresulo ketika mlarat atau menghadapi musibah atau ujian. Melainkan senantiasa ridlo kepada Alloh SWT. Kaya tidak sombong, ini hanya bayangan! kalau saya salah gunakan otomatis mencekik leher ini. Racun ini otomatis kalau orang mempumyai pandangan begitu para hadirin-hadirot yang wujud dan kekal hanya Alloh SWT. Adapun makhluq, “KULLU SYAIIN HAALIKUN ILLA WAJHAHU”. Segala sesuatu pasti hancur kecuali hanya tuhan yang kekal abadi tidak hancur dan tidak berubah. Dan selain itu, fakta dalam pengalaman banyak terjadi. Kemarin masih sehat segar bugar gagah perkasa, sekarang sudah menjadi layatan. Kemarin masih kaya masih lincah, sekarang sudah berteriak-teriak minta tolong. Ini pengalaman, para hadirin-hadirot coba itu lihat yang sebaya dengan Saudara. lebih tua atau lebih muda di bawah saudara. Ini semua harus kita manfaatkan.
            Banyak sekali kejadian-kejadian yang mengejutkan, yang datangnya secara mendadak. Ini semua, sesungguhnya kita selalu diperingatkan oleh Alloh SWT para hadirin-hadirot. Tapi lalu bagaimana?. Kita terima dengan penuh perhatian ataukah kita masa bodoh begitu saja, para hadirin-hadirot?. Karena hanya belas kasihan Alloh SWT senantiasa memperingatkan kepada hamba-Nya para hadirin-hadirot. Lalu diantara kita bagaimana tanggapan kita diwelasi disayang oleh Alloh SWT?. Alloh SWT senantiasa memberi peringatan dengan bermacam-macam keadaan! Baik keadaan menggelisahkan, keadaan mengejutkan, keadaan megecewakan, keadaan-keadaan menggembirakan malah, dan keadaan-keadaan, banyak para hadirin-hadirot !. Saking kasih sayangnya Alloh SWT! Tapi pada umumnya para hadirin-hadirot, yang disayangi ini yang tidak merasa! Malah acuh tak acuh, mempermainkan dan sombong.

            Masih baik pohon-pohonan! Pohon mangga atau pohon jambu misaInya, biar dilempari batu malah membalas dengan buah mangga atau buah jambu. Kok lebih baik pohon mangga atau pohon jambu pada umumnya para hadirin-hadirot!. Maaf, ditolong mentung malah memukul pada umumnya para hadirin-hadirot! dalam keadaan ini! AL Fatihah.

وَثَمْرَةُ ذَلِكَ أَنَ لاَيَبْقَى فِىنَظْرِكَ مَا تَسْقَنِدُ إِلَيْهِ وَ لاَ مَا تَسْتَأْنِسُ بِهِ فَيَتِمُّ لَكَ التَّوَكُلُ وَالتَّفْوِيْضُ وَالرِّضَا وَاْلاِ سْتِسْلاَمُ

            Buahnya, apabila kita senantiasa begitu otomatis kita tidak terpengaruh oleh segala sesuatu yang menguntungkan yang menyenangkan atau yang merugikan sekalipun!. Karena yakin bahwa sekalipun itu menguntungkan tapi hanya sementara! Malah, sekalipan wujudnya menguntungkan, tapi bisa juga merugikan apabila kita salah gunakan! Dia senantiasa tidak jenak, tidak bisa mesra diwaktu berhadapan atau jagongan dengan siapapun. Karena kesemuanya itu hanya merugikan. Kecuali hanya berhadap Tuhan, sowan di hadapan Tuhan, dia merasa jenak, merasa tenang dan merasa mesra. Sebab hanya Tuhan yang memberi dan membawa keuntungan dan kebahagiaan! Semuanya itu, selain Tuhan, merugikan! otomatis!. Berkumpul atau bersama-sama dengan apa-apa yang diridloi Alloh SWT otomatis sama dengan barada dihadapan Aloh SWT. Dia menjadi tenang tentram asyik diwaktu berkumpul dengan apa-apa dan siapa-siapa orang yang diridloi Alloh SWT.
اْلأَخِلآءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلاَّ الْمُتَّقِيْنَ {الزحرف ٦٧}

            Orang-orang yang berkawan, bersaudara yang saling berhubungan, besok pada yaumul qiyamah saling bermusuhan, para hadirin-hadirot!. Kecuali mereka yang di dalam melakukan. Saling tuntut menuntut. berkawan bersaudara itu berdasarkan taqwa, LILLAH BILLAH. LIRROSUL BIRROSUL istilah  Wahidiyah!. Kalau tidak berdasar atas taqwa, LILLAH BILLAH LIRROSUL BIRROSUL otomatis besok saling bermusuhan satu sama lain!. Pasti para hadirin-hadirot!. Baik itu hubungan antar keluarga sama keluarga., Anak orang tua, orang tua-anak! atau kawan atau tetangga pokoknya semua hubungan di dunia. “ILLAL MUTTAQIN” para hadirin-hadirot!. Besok saling dorong mendorong ke neraka. Mana yang kalah mana yang menang!. Atau keduanya salah, semuanya masuk bersama-sama ke dalam neraka, para hadirin-hadirot!.

            Mari para hadirin-hadirot, kita menaruh perhatian yang sungguh-sungguh yang sebanyak-banyaknya!. Kalau orang memiliki “ainul bashiroh” otomatis senantiasa tawakkal, senantiasa ridlo. Diantara kita sudah begitu ataukah belum, mari para hadirin-hadirot kita lihat!.
وَالَّذِى يَنْكَشِفُ بِالثَّالِثِ الذَّاتُ الْمُقَدَسَةِ ,وَثَـمْرَةُ ذَلِكَ الْفَنَاءُ الْكَامِلُ الَّذِى هُوَ دِهْلِيْزُ الْبَقَآءِ فَيَفْنَى عَنْ فَنَآئِهِ وَعَدَمِهِ اِسْتِهْلاَكاً فِى وُجُوْدِ سَيِّدِهِ ,وَنَاهِيْكَ بِمَا يَحْصُلُ لَهُ حِيْنَئِذٍ مِنَ الْمَوَاهِبِ والاَسْرَارِ اْْلإِلَهِيَّةِ فَإِذًا تَرَقَّى عَنْ ذَلِكَ حَلَّ فِى مَقَامِ الْبَقَآءِ
 
Orang yang dikaruniai “bashiroh” jenis nomer tiga, Yaitu “haqqul bashiroh” atau “haqqul yaqiin” atau “nuurul haqqii”, dan ini yang paling sempurna sendiri, buahnya yaitu difanak pada Alloh SWT. Hilang lenyap ANANIYAH-nya. Ke-akuan-nya, egoisnya hilang sama sekali. Tidak mengaku! Tidak ujub tidak takabbur! Riya’ dan sebagainya otomatis lenyap dari dirinya. Tidak merasa “saya bisa saya kuasa” dan sebagainya.

            FANAK ada tiga macam.

            FANAK SIFAT : Saya tidak merasa mempunyai kemampuan atau kepandaian!. ini semua Alloh yang punya yang menggerakkan, yang ... yang... yang...  semua Alloh! Saya tidak bisa berjuang begini begitu, ini Tuhan!. Saya tidak ada. Ini Tuhan “WANAHIIKA” ditanyakan lagi, buahnya! Jangan ditanya lagi Alloh SWT yang senantiasa diberikan orang seperti itu!. Pokoknya tidak bisa diketahui kecuali hanya Tuhan yang Maha mengetahui segala-galanya! Ya mudah-mudahan para hadirin-hadirot  kita dikaruniai Alloh SWT fadlol yang sebanyak-banyaknya! yang sempurna-sempurnanya! kalau orang sudah seperti yang diterangkan di atas ini, dia memiliki tingkatan atau martabah, MARTABATUL WAHIDIYAH namanya. Yaitu BILLAH. Atau MARTABAH MOHAMMADIYAH. Orang yang seperti itu, seperti saya kemukakan tadi, “DHILLUL ILLAHI. Bayangan Tuhan, atau orang seperti itu, adalah “KHOLILFATULLOH” wakil Tuhan.

            Para hadirin-hadirot, tidak bisa dibayangkan, keadaan dia besok diakhirot! Dikagumi oleh makhluq-makhluq lain! ya mudah-mudahan para hadirin-hadirot, pengajian pagi ini benar-benar diridloi oleh Alloh SWT Rosuulihi SAW !


{كَانَ الله ُوَلاَ شَئَ مَعَهُ وَهُوَ اْلآَنَ عَلَى مَاعَلَيْهِ كَانَ }
Orang yang fanak, orang yang hilang ananiyahnya, hanya Alloh “KAANA LLOHU WALA SYAIAMAI’AHUM”. Hanya Alloh Pentitik “WA HUWAL-AAN ‘ALA MA ‘ALAIHI KAANA”. Dia sekarang baru merasakan, bahwa sesungguhnya hanya Tuhan yang ada! Baru merasakan!.

            Orang yang belum fanak, belum hilang ananiyahnya, belum merasakan. Paling-paling hanya ilmiyah! Yah, tapi minim harus ilmiyah! Sekalipun belum merasakan. Kalau sudah merasakan baru menyadari bahwa sesugguhnya yang ada hanya Tuhan. ibarat orang tidur sedang bermimpi semua
النَّاسُ نِيَامٌ

Umat manusia itu semua tidur nyeyak pada umumnya!. Mimpi dan mengigau-nglindur!

فَإِذَا مَاتُوْا اَنْتَبَهُوْا

            Nanti kalau sudah dicabut Izroil terkejut, ketika bermimpi seperti sungguh-sungguh terjadi. Tapi setelah bangun, tidak ada apa-apa! ini para hadirin-hadirot. Ya untung kalau hanya seperti mimpi saja. Sesungguhnya keadaan kita ini jauh dari pada itu! Dikiranya tidak apa-apa, dikiranya menguntungkan. Tapi nanti ketika dicabut rohnya oleh izroil, tidak dapat dibayangkan beratnya para hadirin-hadirot !.

            Seperti sering saya utarakan, atau juga oleh pusat, ketika orang menghadapi lzroil, jenggelel, ndrodog, lumpuh, para hadirin-hadirot!. baik orang tidak sakit, lebih-lebih kalau sakit, kok tahu-tahu jenggelek Izroil, lumpuh sama sekali! Lemas dia merengek-rengek ngrepo-ngrepo pada Izroil. Sudilah ditunda sehari saja ya Izroil, saya  bertobat!

 “Tidak ada hari”!

“Setengah hari saja”.

“satu jam saja, satu menit, setengah menit. Tidak digubris oleh Izroil para hadirin-hadirot! Dalam keadaan yang sangat gawat sekali ini para hadirin-hadirot, andai kata kita mempunyai emas se-Jagad dan minta diundur sehari saja dikabulkan, bungahnya tidak bisa digammbarkan para hadirin-hadirot! tapi mana boleh jadi, para hadirin-hadirot !

            Qodarnya Allob SWT tidak bisa dirobah merasakan bagaimana beratnya para hadirin-hadirot!. Apakah kita harus menunggu keadaan begitu para hadirin-hadirot ?.

            Ya muda-mudahan para hadirin-hadirot, kita di ampuni oleh SWT. Di karuniai hidayah dan taufiq yang sebanyak-banyaknya diberi syafaat Tarbiayah barokah karomah nadroh oleh Rosulihi SAW, oleh Ghousi  Hadhaz Zamani wa A’waanihi asaairi Ahbaa Billahi radiyaallohu Ta’ala ‘anhum.
           
            Para hadirin-hadirot. Pengajian kiranya cukup sekian saja. Dan sekali lagi mudah-mudahan benar-henar diridloi Alloh SWT wa Rosuulihi SAW. Benar-benar bermafaat berbarokah bermaslahah, dan membawa kemajuan yang sebesar-besarnya bagi kita bersama. Selanjutnya waktu dan tempat dipersilahkan kepada beliau dari pusat.