Wahidiyah

Kamis, 21 Januari 2016

sungguh mengherankan - al hikam oleh muallif sholawat wahidiyah


ِبـسْمِ الله ِالرََّحْمَـنِ الرَّحـِيْمِ
{اَلْعُجْبُ كُلَّ اْلعُجْبِ مِمَّنْ يَهْرَبُ مِمَّنْ لاَانْفِكَاكَ لَهُ عَنْهُ وَيَطْلُبُ مَالاَبَقآءَ لَهُ مَعَهُ}

Heran yang sungguh-sungguh mengherankan yaitu orang yang lari, melarikan diri dari perkara yang sesungguhnya tidak bisa pisah darinya. Tidak dapat terpisah, tapi kok usaha memisahkan diri, ini hal yang sangat mengherankan sekali. Suatu hal yang sangat janggal !.  Memisahkan diri, dan usaha mencari barang yang tidak tetap baginya. Paling-paling hanya sementara. Ini sungguh suatu kejanggalan.

Orang tidak pisah dari Tuhan. Artinya tidak bisa pisah dari pertolongan Tuhan. Dari keadaan membutuhkan kepada Tuhan. Lari memisahkan diri, dengan memperturutkan hawa nafsunya. Ngujo nafsu !. Orang yang memperturutkan nafsunya, LINNAFSI BINNAFSI, boleh dikatakan dia lari dari Tuhannya. Memisahkan diri dari Tuhannya. Padahal sama sekali tidak bisa menjauh!. Orang yang begitu adalah orang-orang tidak normal!. Janggal.

Satu contoh. Misalnya ada seseorang ditolong oleh orang lain. Lebih-lebih soal yang sangat dibutuhkan. Lebih-lebih lagi dalam situasi yang sangat kritis. Kalau tidak mendapatkan pertolongan itu pasti mati atau akan menghadapi persoalan yang lebih berat lagi. Lalu ada orang lain yang menolongnya. Lha ini otomatis dia sangat berterima kasih, dan tidak bisa menggambarkan seberapa besar arti pertolongan tersebut baginya. Kalau tidak mendapat pertolongan itu, dia pasti ........ mati misalnya.Lha ini berarti dia tidak bisa pisah dari orang yang menolong itu. Artinya tidak bisa pisah dari adanya pertolongan yang justru sangat dia butuhkan itu. Otomatis terima kasihnya bukan main !. Orang naik kapal laut misalnya. Kapalnya ditiup angin topan yang sangat dahsyat, sehingga kapal terombang ambing dan akhirnya pecah atau terdampar pada batu karang di tengah-tengah lautan bebas. Lalu tahu-tahu ada kapal lain datang memberi pertolongan sehingga para penumpang kapal yang hancur tadi bisa diselamatkan. Lha ini otomatis dia para penumpang kapal yang diselamatkan itu gembiranya bukan main. Berterima kasih tidak terhingga. Andaikata disuruh mengganti ongkos-ongkos pertolongan berapa juta sajapun jumlahnya, asal dia mampu, pasti dibayarnya !. Lha itu. Mereka yang mengalami bencana maut tadi, tidak bisa lepas dari kapal penolong, artinya kalau tidak mendapat pertolongan pasti ...... Menemui maut yang menyedihkan !. Otomatis terima kasihnya tidak dapat digambarkan !. Begitu juga orang diatas padang pasir lepas, jauh dari tempat berteduh, dan panas matahari membakar, dia sangat haus. Kalau dalam beberapa detik lagi tidak memperoleh air, mudahnya tidak mendapat pertolongan, pasti dia menemui ajalnya. Lalu ada orang lain datang dengan memberikan segelas air diberikan kepadanya. Betapa gembiranya orang itu !. Otomatis terima kasihnya tidak bisa digambarkan !. Seandainya harus mengganti dengan harta, sekalipun hanya satu gelas air, berani membayar jutaan, bahkan puluhan juta, bahkan ratusan juta sekalipun asal mampu. Berani membayar. Itu para hadirin hadirot, orang yang dalam keadaan seperti itu nasibnya sangat tergantung kepada si pemberi pertolongan, boleh dikatakan tergantung pada segelas air, ibarat orang yang kehausan dipadang pasir tadi.

Para hadirin hadirot !. Kita senantiasa diberi oleh Alloh SWT !. Diberi apa-apa yang justru sangat kita butuhkan sekali. Umur atau hidup misalnya. Kita di beri hidup oleh Alloh SWT !. Tanpa di beri hidup oleh Alloh SWT kita pasti mati !. Mari  kita membuat penilaian sekarang terhadap hidup kita pemberian Tuhan ini!. Bolehkah hidup kita ini ditukar dengan sekian juta atau bahkan sekian milyar rupiah ?. Itu misalnya pasien-pasien orang sakit. Untuk kesembuhan penyakitnya dia berani membayar berapa saja kepada dokter atau thobib. Ini tidak lain karena justru untuk mempertahankan kehidupannya. Berani membayar berapa saja atau bagaimana pun juga asal mampu.

Para hadirin hadirot !. Kita senantiasa mendapat rohmat Alloh SWT sehingga kita dapat melihat. Bisa melihat itu putih, itu hijau ... dan seterusnya. Sehingga kita dapat mendengar, dapat merasa, dapat membau, dapat berfikir berangan-angan .... dan sebagainya dan sebagainya !. Itu semua rohmat pemberian Tuhan, para hadirin hadirot. Jika umpamanya dicabut dihilangkan, .... mau apa para hadirin hadirot!. Jika Tuhan berkehendak tidak ada yang dapat menghalang-halangi. Padahal kesemuanya itu tadi justru kita butuhkan. Kita butuhkan bagi kelangsungan hidup yang normal.

Lalu bagaimana tanggapan kita para hadirin hadirot ?, sedangkan terhadap sesama hidup saja, jika kita menerima suatu bantuan dari orang lain, lebih-lebih soal yang kita butuhkan, pasti kita terima dengan dua tangan, kita berterima kasih tak terhingga atas pemberian pertolongan itu, mustahil kita menghindar lari dari si pemberi pertolongan itu !.
Para hadirin hadirot, mari kita renungkan, apakah pemberian Tuhan itu sudah kita terima dengan kedua belah tangan kita ?. Sudahkah kita sungguh-sungguh merasa menerima pemberian Tuhan itu ?. Dan sudahkah kita pergunakan pemberian itu sesuai dengan maksud atau kehendak si Pemberinya?. Mari para hadirin hadirot!.  Padahal dalam hal bantuan dari sesama hidup tersebut, adalah hanya bayangan !. Kalau tidak digerakkan oleh Tuhan dalam membantu tadi, tidak bisa dia membantu !. Malah, dia sendiri butuh bantuan !. Bantuan dari  Tuhan !. Lha kita ini menerima bantuan secara langsung dari Tuhan, .... Kok tidak merasa, tidak terima kasih, lalu dimana letak fikiran kita para hadirin hadirot ?.

Kita diberi minuman dari sesama hidup misalnya, kita terima dan kita minum. Diberi rokok, kita terima dan kita merasa. Kita merokok dan seterusnya. Berterima kasih. Itu kalau kita normal. Ataukah kita diberi minuman, lalu kita lemparkan kembali kepada yang memberi ?.

Orang yang melarikan diri dari Tuhan, yang padahal sesungguhnya tidak bisa pisah dari pada-Nya, sebab senantiasa dia membutuhkannya, ini ibarat kita di beri minum tadi, minuman itu setelah kita terima lalu kita lemparkan kepada yang memberi minuman !. Ini, sungguh keterlaluan !. Otomatis si pemberi berfikir dimana otak pikiran orang ini !. Saya beri kok malah digunakan untuk melempari aku !.

Mari para hadirin hadirot, hubungan dengan Tuhan kita koreksi !. Kita diberi mata diberi bisa melihat, malah untuk maksiat, untuk perbuatan yang justru tidak disenangi Tuhan !. Bukankah ini sama dengan contoh kita diberi minuman lalu kita temparkan kepada si pemberi ?. Bukankah ini suatu ejekan, suatu penghinaan?. Kita diberi dapat ...... mendengar, dapat ..... berjalan, dapat berfikir, dapat berbuat .... dan sebagainya dan sebagainya!. Mari kita renungkan para hadirin hadirot!. Kalau dikatakan tidak punya akal tentu marah. Tapi fakta ..... kita tidak mau merasa diberi, tidak mau terima kasih!. Terhadap Alloh SWT begini ini bagaimana ?. Mari kita renungkan !.

Kalau kita mempunyai fikiran yang sehat akal yang normal, mestinya diberi lalu matur nuwun terima kasih, dan menyadari kepada yang memberi !. Tapi fakta para hadirin hadirot!. Jangankan terima kasih, mau tahu kepada yang memberi sajapun tidak!. Ini apa, para hadirin hadirot ?.

فَاِنَّهَا لاَتَعْمىَ اْلاَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمىَ اْلقُلُوْبُ اَلَّتِى فِى الصُّدُوْرِ (الحج : ٢٩)

(....Karena sesungguhnya bukanlah mata yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang didalam dada)
Ada lagi:
أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ إنْ هُمْ إلَّا كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا (الفرقان  : ٢٢)

(atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami (kebenaran) ?. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang, bahkan mereka lebih sesat dari pada binatang itu).

Maka kalau keadaan kita seperti itu, berarti lebih ....., lebih, .... lebih jelek lebih jahad dari pada binatang !. Bentuk seperti manusia ini hanya imitasi saja. Sesungguhnya adalah bukan wajah manusia lagi. Tetapi, ..... wajah hewan, wajah babi hutan, wajah anjing, wajah ..... Para hadirin hadirot!. Sesungguhnya kepala kita dibawah dan kaki kita diatas, para hadirin hadirot!. Terbalik ! Cuma, kita tidak merasa seperti itu !. Baru tahu, baru merasa keadaan sesungguhnya. Yaitu nanti apabila sudah di cabut roh kita oleh Izroil, para hadirin hadirot!. Baru tahu, baru menyadari bahwa keadaan-keadaan dimasa-masa sebelumnya itu adalah palsu!. Kita merasa gagah, merasa ganteng, merasa sugih, merasa pandai, merasa berkuasa dan sebagainya dan sebagainya itu ternyata hanya impian yang palsu semua para hadirin hadirot !. Mari para hadirin hadirot, apakah kita menunggu-nunggu waktu kalau sudah dicabut roh kita oleh malaikat Izroil seperti itu para hadirin hadirot ?.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلاِنْسَ اِلاَّ لِيَعْبُدُوْن

Jin dan manusia AKU ciptakan dan langit bumi seisinya AKU buat justru untuk mereka, adalah supaya mereka pergunakan untuk beribadah mengabdikan diri kepada-KU. Orang, manusia atau jin kok tidak mengabdikan diri, ini namanya kaki dibuat kepala, kepala dibuat kaki !. Terbalik !. Bukan wajah manusia lagi sesungguhnya dia itu, melainkan wajah hewan, wajah anjing, wajah babi, .... dan sebagainya dan sebagainya!. Siapa yang tidak mengabdikan diri pada Tuhan berarti mengabdikan diri menyembah kepada nafsunya!. Siapa yang tidak LILLAH BILLAH LIRROSUL BIRROSUL dia hanya menuruti kehendak nafsu !. Makan, hanya karena lapar. Minum, didorong rasa haus,  ingin sex, sex dan seterusnya !. Ini lalu apa bedanya dengan binatang ?. Bukankah persis binatang juga punya nafsu-nafsu seperti itu ?. Hanya lahirnya, rupanya seperti manusia, tapi sesungguhnya jauh lebih jelek, lebih jahad dari pada hewan !. Yang melihat juga begitu nglindur sekali. Dikiranya manusia, tetapi sesungguhnya .... hewan, bahkan jauh lebih buruk dari pada hewan !. Mari para hadirin hadirot, kita menaruh perhatian yang sungguh, terhadap soal ini !. Karuan binatang anjing atau babi tidak berakal. Tidak pernah menyalah gunakan. Tapi manusia, ...... selalu menyalah gunakan, durhaka terhadap Tuhannya !. Mari para hadirin hadirot sungguh- sungguh kita perhatikan soal ini !.

{لاَتَرْحَلْ مِنْ كَوْنِ اِلَى كَوْنِ فَتَكُوْنَ كَحِمَارِ الرَّحَا يَسِيْرُ وَالْمَكَانُ الَّذِى اْرتَحَلَ اِلَيْهِ هُوَ الَّذِى اْرتَحَلَ مِنْهُ}
Jangan sekali-kali, jangan sekali-kali engkau beralih pandangan dari makhluk pindah ke makhluk lain !. Amal-amal ibadahmu, apa saja, baik berupa sembahyang, zakat, puasa, mujahadah-mujahadah, dan sebagainya, jangan sekali-sekali memandang sesuatu makhluk !. Pamrih namanya !. Jangan sekali-kali pamrih !. Sekalipun pamrih berupa akhirot sekalipun !. Jika engkau pamrih selain Tuhan. Itu sama halnya dengan lembu yang berputar-putar menarik gilingan tebu, putar-putar, terus tiada ujung pangkalnya sampai payah.
Begitu juga amal yang tidak ikhlas kholishon mukhlishon liwajhillah, tidak LILLAH, disamping BILLAH terutama, hanya karena ingin dihormati, karena ingin soal materi lebih-lebih, atau takut ini dan itu, sekalipun akhirot sekalipun, pokoknya tidak ikhlas kholishon mukhlishon liwajhillahi, itu namanya menyalah gunakan amal !. Namanya memperalat Tuhan supaya menuruti kemauan nafsunya !. Memperalat Tuhan buat menyembah nafsunya !.
Para hadirin hadirot, mari kita koreksi masing-masing !. Pernahkah kita seperti itu ?. Mari kita koreksi.
اَبْغَضُ اِلَهَ عُبِدَ فِى اْلاَرْضِ اَلْهَوَى
Berhala atau sesembahan yang paling dikecam oleh Tuhan, yang banyak dijadikan sesembahan di bumi, adalah .... "AL HAWA"!. Nafsu !. Maka penyembah berhala yang paling dikecam adalah penyembah nafsu !. Artinya nuruti nafsu !. Nuruti nafsu !. Nuruti nafsu ini namanya menyembah nafsu !. Nafsu dijadikan Tuhannya.
أَرَأَيْتَ مَنْ اتَّخَذَ إلَهَهُ هَوَاهُ (الفرقان : ٢٣)
Tahukah itu, apa yang paling terkecam, ........ orang yang mengabdikan diri kepada nafsu!. Hawaahu = nafsunya. Nuruti keinginan nafsu = menyembah mengabdikan diri pada nafsu itu !. Ingin ke utara .... ke utara, ingin ke selatan ...keselatan. Ini namanya nuruti nafsu !. Nyembah nafsu !................................................................... ke utara, harus dimanfaatkan !. Ke utara, LILLAH - demi untuk Alloh. Mengabdikan diri kepada Alloh !. Menuruti perintah Alloh !. Disamping rasa BILLAH !. Jangan semata-mata menuruti nafsu belaka !. Tekuk lutut pada nafsu !. Diantara kita pernah begitu atau tidak ?. Mari kita koreksi masing-masing!. Siapa yang senantiasa menuruti nafsu, nuruti karepe ati begitu saja, awas, besok diakhirot akan dipenjara jadi satu dengan nafsunya, yaitu pada neraka jahanam !. Mari kita ingat, yaitu :

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطَمْئِنَةُ ارْجِعِي إلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً
Nafsu yang sudah “muthmainnah”, yaitu nafsu yang sudah dijinakkan diarahkan untuk “liya’buduun”, diarahkan demi untuk pelaksanaan LILLAH BILLAH LIRROSUL BIRROSUL, kelak kemudian hari dipanggil-panggil oleh Alloh : .... “silahkan kembali kepada Tuhanmu dengan puas dan gembira serta mandapat Ridlo”.
Tapi sebaliknya. Nafsu yang masih buas, nafsu yang selalu dituruti keinginannya, nafsu yang selalu disembah-sembah, yang disebut “nafsu ammaaroh”, otomatis mendapat panggilan :

يَااَيَّتُهَا النَّفْسُ اْلاُمَّارَةُ اِرْجِعِى اِلَى رَبِّكَ غَاضِبَةً مَغْضُوْبِةً
Wahai nafsu ammaaroh, kembali kepada Tuhanmu dengan tidak terhormat dan
mendapat bendu ! ............

Mari kita lihat diri kita masing-masing !. Apakah kita senantiasa menuruti nafsu atau bagaimana !. Tidak hanya makan, minum, tidur dan lain lain tapi sembarang gerak dan laku kita jika tidak didasari LILLAH disamping BILLAH, karena takut, karena malu, karena mengharapkan atau menginginkan ini dan itu, pokoknya segala perbuatan dan amal apa saja yang tidak didasari LILLAH BILLAH jelas hanya menuruti nafsu !. Mari, kita pernah berbuat begitu atau tidak!. Mari kita akui dihadapan Alloh Wa Rosuulihi saw!.

Keluarga kita bagaimana para hadirin hadirot ?. Masyarakat para hadirin hadirot, bagaimana ?. Kita tidak bisa pisah dari pada masyarakat!. Baik bidang agama, baik bidang dunia, kita saling membutuhkan satu sama lain !. Fakta menunjukkan bahwa kita, keluarga kita, tetangga-tetangga kita, dan ummat masyarakat sebagian besar, .... masih dijajah oleh imperialis nafsu !. Masih menjadi budak nafsu !. Masih menjadi budak nafsu !. Mari !. Al faatihah ! .......               
“YAA ROBBANALLOHUMMA SHOLLI SALLIMI, ‘ALA MOHAMMADIN SYAFII’IL UMAMI. WAL ALI WAJ’ALIL ANAAMA MUSRI'IIN, BILWAAHIDIYYATI LIROBBIL ALAMIIN. YAA ROBBANAGHFIR YASSIR-IFTAH WAH DINAA, QORRIB WA ALLIF BAINANAA YAA ROBBANAA”. (3X)
AL FAATIHAH !.

Ya mudah-mudahan para hadirin hadirot, pengajian pagi ini benar-benar diridloi Alloh wa Rosuulihi saw, semoga membawa manfaat yang sebesar-besarnya fid-dinii wad-dunya wal-aakhiroh !. Amiin !.

Apa yang kita bahas tentang nafsu-nafsu tadi, tidak berarti kita jangan makan, jangan minum, jangan berkeinginan dan sebagainya dan sebagainya, tapi semua gerak dan laku kita itu harus kita arahkan !. Harus kita arahkan !. Nafsu-nafsu itu harus kita jadikan kendaraan!. Kendaraan untuk sowan dihadapan Alloh SWT Wa Rosuulihi saw!. Nafsu harus kita arahkan,.... kita arahkan untuk fafirruu llallohi wa rosuulihi saw !. Nafsu adalah suatu rohmat atau nikmat dari Alloh SWT yang tidak terhingga nilainya!. Jika kita gunakan yang semestinya, yaitu untuk pelaksanaan “LIYA’BUDUUN”, pasti mandatangkan banyak sekali manfaat dan kebaikan-kebaikan yang tidak terhingga pula. Begitu juga sebaliknya jika nafsu kita selewengkan, yaitu tidak kita arahkan untuk pelaksanaan pengabdian diri kepada Alloh SWT, otomatis akan mendatangkan malapetaka yang tidak terhingga dahsyatnya !.

Ibarat “atom” dalam abad modern ini. Atom, jika digunakan untuk kemanfaatan, jangan ditanya betapa besar manfaat dan keuntungan-keuntungan yang diperoleh dari situ. Tapi jika disalahgunakan untuk membinasakan, juga jangan ditanya betapa dahsyat akibat yang ditimbulkan oleh atom itu !.

Begitu juga nafsu. Suatu nikmat yang besar sekali faedahnya. Jika kita pergunakan menurut yang semestinya, kita akan memperoleh manfaat dan keuntungan-keuntungan yang besar sekali. Suatu contoh. Kita merasa lapar, yaitu suatu dorongan dari keadaan fisik kita. Lalu kita makan. Kedua-keduanya itu kita manfaatkan untuk Fafirruu ilailohi wa rosuulihi saw. Artinya, kita makan demi melaksanakan perintah LILLAH !. Untuk dan karena Alloh. Ini suatu ibadah, para hadirin hadirot!. Malaikat tidak mampu melaksanakan ibadah lewat makan seperti kita manusia!. Sebab malaikat tidak makan tidak minum. Betapa besarnya rohmat dan nikmat Alloh SWT yang diberikan kepada kita ummat manusia dalam hal nafsu makan itu, para hadirin hadirot!.
Begitu juga minum, begitu juga yang lain-lain. Malaikat kagum, kok bisa melakukan ibadah dengan makan dan minum seperti itu !. Kita tidur, kita manfaatkan untuk Fafirruu ilalloohi wa rosuulihi saw. Malaikat kepingin, para hadirin hadirot!. Banyak sekali keistimewaan-keistimewaan dari nafsu yang kita pergunakan menurut semestinya. Yaitu untuk pelaksanaan “WAMAA KHOLAQTUL JINNA WAL INSA ILLA LIYA’BUDUUN!”.

Para hadirin hadirot!. Yang diberi titel “kholifah”-wakil Tuhan hanya kita para manusia, para hadirin hadirot !. Wakil Tuhan !. Atau “DHILLUL-ILAHI” - bayangan Tuhan !. Malaikat sekalipun bagaimana pangkatnya, sekalipun bagaimana tho’atnya dan ibadahnya, tidak diberi kedudukan “kholifah” - wakil Tuhan seperti kita, para hadirin hadirot !.
“Kholifah” -wakil Tuhan. Ibarat di negeri kita Indonesia bapak Hameng Kubuwono wakil Presiden, para hadirin hadirot !. Kurang tinggi bagaimana Alloh SWT mengangkat derajat kita ummat manusia, para hadirin hadirot ?.

Para hadirin hadirot, tadi saya kemukakan. Kita diberi sesuatu oleh orang lain, mau terima kasih. Malah sudah jauh lama kita masih ingat jasa orang yang memberi itu !. Kita manusia diangkat dimulyakan derajat kita oleh Alloh SWT setinggi ‘arasy, para hadirin hadirot. Lalu  bagaimana tanggapan kita ?. Mari  kita sadari para hadirin hadirot!. Jangan sampai kita anggap sepi, para hadirin hadirot!.

Mari kita jangan berterus-terus mambandel membangkang!. Mari cancut tali wondo sungguh-sungguh para hadirin hadirot!. Mari !.
“............. WALAKIN-IRHAL MINAL AKWAANI ALAL-MUKAWWIN !”.
Jangan sekali-kali engkau pamrih terhadap sama-sama makhluqnya !. Mandeg berhenti pada sama-sama makhluq, baik duniawi maupun ukhrowi, baik moril lebih-lebih materiil, sekali-kali jangan!. Tapi, tujulah Alloh SWT, Tuhan Pencipta dan Pemilik kesemuanya ini !. Fafirruu Ilalloh !. Fafirruu Ilalloh wa Rosuulihi saw !. Jadikanlah segala perbuatan apa saja , amal-amal ubudiyah terutama, sebagai pengabdian diri yang sungguh-sungguh mukhlis liwajhillahil-kariim !. Dijiwai LILLAH, istilah Wahidiyah, disamping BILLAH.

{وَاَنْ اِلَى رَبِّكَ اْلمُنْتَهَى } ... فَمِنْ عَمِلَ لاَجْلِ الدَّرَجَاتِ اَوِاْلمَقَامَات فهُو عبْدُ لها ومن عَمِلَ اللهِ فهو عبدُ اللهِ وهو راحِلٌ من الاَكْوانِ الى الحُكَوِّنِ 

Barang siapa beramal karena ingin kedudukan atau pangkat, pangkat dunia maupun pangkat akhirat sekalipun, itu namanya tidak ikhlas, dia adalah hamba dari kedudukan dan pangkat yang dia cari-cari itu. Istilah lain dia menyembah dirinya sendiri. Mendewa-dewakan dirinya sendiri dengan nuruti keinginan nafsu itu. Menyalah gunakan, memperalat Tuhan untuk kepentingan pribadinya !.

Ibadah karena ingin selamat dari siksa dari neraka,................... ini nafsu ini, jika tidak didasari LILLAH di samping BILLAH terutama !.

Mari para hadirin hadirot, di hadapan Alloh wa rosuulihi saw kita doki. Kita akui dengan jujur bahwa kita pernah seperti itu, bahkan senantiasa begitu !. Mari  kita doki, dan mari membulatkan tekad min yau minaa haadha ilaa yaumil qiyaamah tidak akan mengulangi lagi begitu !.

وَانْظُرْ اِلَى قَوْلِهِ صلى الله عليه وسلم , فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ اِلَى الله وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ اِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ اِلَى دُنْيَا يُصِيْبُهَا اَوْ اِمْرَاَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ اِلَى مَاهَاجَرَ اِلَيْه .
Perhatikan Hadist Rosuulillaahi saw dalam hadist shoheh: Barang siapa hijrohnya, berbuatnya, amalnya pamrihnya hanya semata mata kepada Alloh wa Rosuulihi saw, istilah Wahidiyah LILLAH BILLAH LIRROSUL BIRROSUL, maka dia sungguh-sungguh menuju dan mendapati Alloh wa Rosuulihi saw!. memperoleh ridlo dari Alloh SWT !. tetapi apabila dia pamrihnya berupa dunia, materi atau, .... Keuntungan pribadinya, seorang remaja pada gadis misalnya,..........Pokoknya pamrih, ya hanya itulah yang diperoleh. Tetapi sesungguhnya apakah tujuan-tujuan itu berhasil atau tidak, itu teka teki sekali. Belum pasti!. terutama besok pada yaumil-qiyaamah tidak akan menguntungkan, melainkan membawa kerugian yang tidak dapat digambarkan beratnya !.

Pamrih dunia misalnya. Apakah berhasil atau tidak belum pasti. Masih diragukan!. ini satu, kedua kalau seandainya berhasil, kemungkinan besar malah disalah gunakan !. dan besok diakhirat dunia yang disalahgunakan itu malah dirupakan menjadi urup-urup pembakar api neraka !. Dijadikan siksa untuk menyiksa yang bersangkutan !.

Segala amal ibadah yang tidak sungguh-sungguh ikhlas, seperti diatas jadinya !. tidak diterima Alloh SWT.

اِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللهُ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ (المائدة : ٢٧)

Sesungguhnya Alloh hanya menerima (dalam sejarah, ini hubungan korban tapi maksudnya juga segala amal ibadah) dari orang-orang yang “muttaqiin”. “muttaqiin” - yakni “mukhlishiin”.

يَوْمَ لاَيَنْفَعُ مَالٌ وَلاَ بَنُوْنٌ اِلاَّ مَنْ اَتَى اللهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ
Pada yaumul qiyamah, harta dan para anak sama sekali tidak memberi manfaat. Mungkin malah membawa bahaya. Saling dorong mendorong antara satu sama lain antar orang tua dan anak, antara kawan dan kawan. Dorong mendorong ke neraka!. Materi, dunia yang bertumpuk tumpuk malah menjadi siksa buat menyiksa dirinya karena didunia disalah gunakan. Tidak dipakai untuk “LIYA’BUDUUNI” melainkan untuk nuruti nafsu!. Untuk ngujo kepuasan nafsunya!.
اِلاَّ مَنْ اَتَى اللهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ

Kecuali orang-orang yang datang menghadap kepada Alloh dengan hati yang  yang ikhlas kholishon mukhlishon liwajhillaahil-kariim !.
وَالَّذِيْنَ يَكْنِـزُوْنَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلاَ يُنْفِقُوْنَهَا فِى سَبِيْلِ اللهِ  فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابِ اَلَيْمٍ يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِى نَارِ جَهَنَّمَ  فَتُكْوَى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوْبُهُمْ وَظُهُوْرُهُمْ ؛ هَذَامَا كَنَزْتُمْ ِلاَنْفُسِكُمْ فَذُوْقُوْامَا كُنْتُمْ تَكْنِزُوْن  (التوبة : ٣٢-٣٥)
 (Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak (harta kekayaan) dan tidak menafkahkan dalam jalan Alloh, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa mereka akan merasakan siksa yang pedih. Didalam neraka jahanam emas dan perak (harta kekayaan) dibakar dilelehkan untuk mengecor dahi mereka, lambung dan pinggang mereka sambil dikatakan kepada mereka : Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri di dunia dulu, rasakanlah sekarang akibat dari apa yang kamu simpan itu”).

Mari para hadirin hadirot, ini tidak berarti kita harus menjauhkan diri dari dunia dari materi, sama sekali bukan begitu!. justru dunia dan materi itu diciptakan Tuhan untuk kita !. supaya kita pergunakan untuk pengabdian diri kepada Alloh Ta’ala !. Jangan sekali-kali kita berani menyalah gunakan !. harus semuanya ini kita arahkan !. kita arahkan untuk Fafirruu llallohi wa Rosuulihi  saw!.
لاَتَصْحَبْ مَنْ لاَيُنْهِضُكَ حَالَهُ وَلاَيَدُلًّكَ عَلَى اللهِ مَقَالُهُ
Jangan sekali-kali engkau berkawan dengan orang yang tingkah lakunya tidak menggerakkan engkau !. malah engkau manjadi ngglonjom berkawan dengan dia. Jangan sekali-kali kamu campuri, jangan kamu pergauli !. Engkau menjadi semakin jauh dari Tuhan !. Jangan engkau pergauli !. Maqolah atau ucapan-ucapannya tidak membimbing engkau kepada Alloh. Orang yang begitu jangan engkau pergauli!. Dan di samping itu, engkau harus usaha sekuat mungkin mencurahkan kemampuanmu untuk menyelamatkan orang yang seperti itu. Sehingga menjadi orang yang sadar kepada Alloh wa Rosuulihi saw !. Jangan engkau biarkan dia terus menerus berlarut larut!.

Dawuhnya Syekh Abdus-salam bin Masyisy, Syekh atau gurunya Imam
Syadhili:                                                                                                                   
مَنْ دَلَّكَ عَلَى الدُنْيَا فَقَدْ غَشَّكَ
Orang yang menunjukkan kepadamu hanya soal dunia soal ekonomi, itu adalah orang yang menipu menjebak dirimu!. menjerumuskan dirimu! meracuni engkau, membunuh engkau !.


Orang yang memberi petunjuk engkau hanya soal amal, supaya berbuat begini, beramal begitu,... itu orang yang hanya membuat engkau capek, payah !. malah kalau perlu, juga orang yang menjungkir balikkan dirimu.
مَنْ دَلَّكَ عَلَىاللهِ  فَقَدْ نَصَّحَكَ
Dan orang yang memberi petunjuk mengantarkan dirimu sowan, sadar kehadirot Alloh SWT , itulah orang yang sungguh-sungguh memperbaiki dirimu, menyelamatkan dirimu!. membuat engkau bahagia dunia akhirot!. rmaka sungguh jangan sampai pisah dari orang yang seperti ini!. pergaulilah dengan baik, orang yang seperti ini!.

Itu tidak berarti tidak boleh meminta atau memberi petunjuk soal-soal ekonomi atau soal-soal amal ibadah, bukan begitu maksudnya. Tapi disamping memberi petunjuk soal-soal tersebut harus ada pengarahan !. harus diarahkan !. diarahkan pada  pengabdian diri dan kesadaran kepada Alloh wa Rosuulihi saw!. diarahkan kepada Fafirruu llallohi wa Rosuulihi saw.

Apakah itu soal ekonomi, soal dagang, soal pertanian, soal pekerjaan dll, soal ilmu pengetahuan, semuanya harus diberikan pengarahan yang menjurus kepada Fafirruu llallohi wa rosuulihi saw !. kalau tidak,.........................yaitu tadi “faqod ghosysyaaka”- menjerumuskan, atau ”faqod at’abaka”-membikin payah saja.

Para hadirin hadirot, disamping kita harus menjauhi pergaulan dengan orang-orang yang haliyah atau maqolahnya, situasi dan kondisinya pokoknya, tidak menyebabkan kita makin dekat makin sadar kepada Alloh SWT, disamping itu kita harus berusaha berjuang sekuat mungkin mengusahakan mereka-mereka ummat dan masyarakat yang masih belum sadar kepada Alloh wa Rosuulihi saw!. harus kita usahakan kita perjuangkan dhodiron wa baatinan !. kita berkewajiban !.
اَلْخَظِيْئَةُ اِذَا خَفِيَتْ لاَتَضُرُّ اِلَى صَاحِبِهَا وَاِذَا ظَهَرَتْ وَلَمْ تُغَيَّرْ ضَارَّتِ اْلعَامَّةْ  (اوكماقال)

Suatu kesalahan, jika ringan tidak membahayakan kepada yang bersangkutan. Dan jika kesalahan kecil itu muncul pada lahir dan belum dirubah akan juga membawa akibat bahaya yang besar bagi ummat dan masyarakat. Kesalahan, soal yang terkecam, tidak sadar tidak kenal kepada Tuhan adalah kesalahan yang besaaaar sekali. Dan jika dibiarkan berlarut-larut tidak diusahakan perubahan, akan mengakibatkan bahaya yang besaaaar sekali bagi seluruh ummat dan masyarakat!.

Para hadirin hadirot!. kita tidak boleh ongkang-ongkang dengkul saja
para hadirin hadirot!. jika kita apatis tidak mau tahu, ungkang-ungkang dengkul
saja tidak mau gerak, usaha membuat perubahan dari keadaan semacam
itu           Rosululloh saw tidak sudi kita ikuti!. tidak mau mengaku umat yang ungkang- ungkang dengkul tidak mau tahu seperti itu para hadirin hadirot !. Beliau Rosuulillaahi saw tidak mau mengaku ummat kepada mereka yang terus menerus nglonjom tidak mau memperhatikan masyarakat, hanya memikirkan butuhnya sendiri saja.
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَهْتَمَّ بِاَمْرِ اْلمُسْلِمِيْن (الحديث)

(Bukan golonganku orang yang tidak mau memprihatinkan keadaan masyarakat kaum muslimin). Jangankan memberi syafa’at, mengakui sebagai ummat saja beliau saw tidak mau !. Jika kita tidak diakui sebagai ummat oleh Rosuululloh saw, lalu siapa yang kita ikuti, Ibliskah para hadirin hadirot ?. Mari para hadirin hadirot kita perhatikan soal ini!.

Kembali pada pengajian. Dus, sedapat mungkin dalam mencari kawan pergaulan kita harus memilih orang-orang yang sadar kepada Alloh. Tapi disamping itu, kita harus usaha menyadarkan orang lain yang belum sadar !. baik itu keluarga kita lebih-lebih, atau tetangga, atau orang lain!. usahakan dengan dhohiron wa baathinan !. Lahiriyah, diusahakan dengan memberi penerangan dan pengertian-pengertian, dengan lisanul hal atau lisaanul maqol, sedang bathiniah dengan senatiasa merintih kepada Alloh wa Rosuulihi saw !. semoga mereka mereka itu segera dikarunai kesadaran !. Dan disamping itu harus di doki, diakui, adanya mereka tidak sadar itu sebab aku yaaTuhan !.
مَنْ قَالَ هَلَكَ النَّاسُ فَهُوَ اَهْلَكَهُمْ (او كما قال)
(Barang siapa yang mengatakan lebih-lebih mengecam masyarakat bejad, itu sesungguhnya dialah yang membikin masyarakat bejad). Sebab dari banyaknya dosa, sebab tidak mau prihatin. Dia masih mampu untuk prihatin usaha terutama secara batiniyah. Bisanya cuma mengecam !. dialah yang sesungguhnya membejadkan masyarakat itu. Dialah yang jauuh lebih bejad !. mari para hadirin hadirot kita doki!.
AL FAATIHAH.......................................................... !
YAA ROBBANALLOHUMMA SHOLLI SALLIMI, 'ALA MOHAMMADIN SYAFII'IL UMAMI
.............................................. 3X)
AL FAATIHAH.............. .......

Jika orang tidak sadar kepada Alloh SWT otomatis selalu dikuasai imprialis nafsunya. Sekalipun bagaimana baiknya, dia selalu ada pamrih !. makin banyak ibadahnya makin besar pula takabburnya !. makin banyak riyak dan ujubnya !. makin banyak ilmunya makin besar takabburnya !. Istilah Wahidiyah makin banyak mujahadahnya, makin besar pula takabburnya !. orang yang tidak sadar kepada Alloh Ta'ala selalu takut selalu kuatir. Takut dan kuatir terhadap selainnya Tuhan. Selalu tomak ngonjo-onjo !. Rakus terhadap selainnya Tuhan, rakus terhadap harta, rakus terhadap kedudukan, pengaruh dan kehormatan, demi menuruti keinginan nafsunya !. Mereka selalu menjagakan. Menjagakan hartanya, menjagakan kemampuannya,,
menjagakan ilmunya, menjagakan ibadahnya, menjagakan mujahadahnya,
                menjagakan, menjagakan, menjagakan.

Sedangkan orang yang sadar kepada Alloh Ta'ala, Kebalikan dari itu semua. Segala sesuatunya disandarkan kepada Alloh. Dan oleh karena itu menjadi segalanya barokah !..keadaannya senantiasa barokah !. di dunia begitu lebih-lebih besok di akhirot, tidak dapat digambarkan betapa luhur dan mulyanya 'indallohi wa rosuulihi saw. mereka tidak mengalami saling permusuhan pertengkaran seperti dialami oleh mereka-mereka yang tidak sadar.

َاْلاَخِلاَّءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ اِلاَّ اْلمُتَّقِيْنْ (الزخرف: ٩٧)

(Teman-teman akrab pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali orang-orang yang bertaqwa). Yakni orang-orang yang sadar. Istilah Wahidiyah orang-orang yang didalam hubunganya satu sama lain dijiwai dengan LILLAH BILLAH, Mereka yang dalam hubungannya, baik hubungan keluarga, maupun hubungan lain-Iain tidak didasari LILLAH BILLAH, pasti akan mengalami peristiwa pertengkaran seperti diatas.


Ya mudah-mudahan para hadirin hadirot kita termasuk pada "illall-muttaqiin" tadi!. amiin !. kiranya pengajian cukup sekian, dan sekali lagi mudah-mudahan pengajian pagi ini benar-benar diridloi Alloh wa Rosuulihi saw,membuahkan kemajuan,manfaat dan maslahah yang sebanyak-banyaknya,dalam perjuangan Fafirruu llallohi wa Rosuulihi saw !. Dan mari kita maaf memaafkan dan saling doa mendoakan satu sama lain !. dan dalam pada itu mari kita jangan sampai jemu waleh didalam perjuangan Fafirruu llallohi wa Rosuulihi saw!. para hadirin hadirot, sebentar lagi kita dipanggil Izroil para hadirin hadirot !. tidak lama kita dalam perjuangan Fafirruu llallohi wa Rosuulihi saw. kalau sampai jemu, waleh, jauuh lebih berat besok akhirnya !. yah, sekalipun berjuang itu sudah suatu pekerjaan yang berat, tapi jika sampai kita waleh, jemu, berhenti berjuang,............ jaaaauh lebih berat!.
otomatis dia merasa lebih baik - al hikam oleh muallif sholawat wahidiyah

AL-HIKAM I hal 39

ِبـسْمِ الله ِالرََّحْمَـنِ الرَّحـِيْمِ
( رُبَّمَاكُنْتَ مُسِئًافَاَرَاكَ اْلاِحْسَانَ مِنْكَ صُحْبَتُكَ مَنْ هُوَ اسْوَءُا حَالاً مِنْكَ )
Orang yang berkawan dengan orang yang lebih buruk otomatis dia merasa lebih baik. Berkawan dengan orang yang lebih kendor mujahadahnya, lebih glonjom perjuanganya, lebih malas ubudiyahnya dan sebagainya dan sebagainya, otomatis merasa, ah saya lebih giat lebih rajin lebih semangat dari dia. Inilah satu hal yang negatip, suatu kerugian didalam berkawan dengan orang yang lebih rendah keadaannya dari dirinya. Dengan sendirinya dia menjadi mati semangatnya, sebab sudah merasa baik, malah merasa lebih baik. Dan disamping mati semangatnya, otomatis dia takabbur. Malah mungkin, dia merasa lebih baik, tetapi kenyataan sesungguhnya dia lebih jelek.
Maka didalam Wahidiyah kita diberi pelajaran supaya senantiasa merasa lebih jelek, lebih berlarut-larut diantara orang sejagad. Malah, supaya merasa tidak ada orang lain yang lebih jelek, lebih banyak maksiatnya dan pada dirinya. Bahkan orang-orang lain yang bermaksiat, yang berlarut-larut itu adalah dari saya sumbernya. Harus begitu !. kalau orang merasa sungguh-sungguh seperti itu, berarti dia sungguh-sungguh mempergunakan kemampuannya untuk memperbaiki keadaan dirinya. Berusaha untuk menyelamatkan dirinya dari ujub riyak takabbur yang menyeret manusia kedalam neraka kehancuran dan kemusnahan !. tapi, sudah merasa kok tidak ada konsekwensinya, berarti dia merasanya hanya imitasi!. tipuan !. kalau sungguh-sungguh merasa, sungguh-sungguh membutuhkan otomatis berbuat !. orang yang lapar atau haus yang sangat, otomatis dia grayah-grayah, usaha mencari makanan atau minuman. Begitu juga orang merasa jelek, kalau sungguh-sungguh merasa, otomatis dia usaha memperbaikinya !. Merasa jelek kok tidak mau usaha memperbaiki, .... Merasanya hanya imitasi !. Pura-pura merasa !. mari kita tinjau keadaan kita masing-masing para hadirin hadirot!. terutama dalam mujahadah-mujahadah !. ketika merasa anjuran-anjuran !. Saya merasa begin! begitu, malah sampai-sampai tak tertahan mencucurkan air mata, berteriak menjerit.....!. Tapi kenyataan bagaimana ?. adakah perubahannya ? kalau tidak ada perubahan berarti prihatinnya itu hanya imitasi !. bujukan setan !. Supaya marem !. malah saking maremnya merasa bangga saya bisa prihatin, saya bisa merasa jelek-jeleknya orang, saya bisa menangis, saya bisa mencucurkan air mata didalam mujahadah, ......        dan sebagainya, dan sebagainya. Tidak tahu bahwa di belakangnya ada           .............ada jebakan !. Imitasi!. Rayuan setan, tidak merasa !. Fakta tidak ada kemajuannya !. Mari kita koreksi keadaan kita masing-masing !. setelah merasa dholim, merasa jelek, merasa begini begitu,.....ada perubahan apa tidak ?. kalau tidak berarti menipu !. Menipu dirinya sendiri dan..........menipu Tuhan. Para hadirin hadirot. Mari kita usaha meningkat!. jangan sampai diantara kita ada yang begitu !. Mari kita merobah sekarang !.

يَعْنِى اَنَّ صُحْبَةَ مَنْ هُوَ دُوْنَكَ ضَرَرٌ مَحْضٌ ِلاَنَّهَا تُغَطِّى عَنْكَ عُيُوبَكَ وَتَبْيِّنُ لَكَ كَمَا لَكَ فَتُوْجِبُ لَكَ حُسْنَ الْظَّنِّ بِنَفْسِكَ فَتَعْجُبُ بِأَعْمَلِكَ وَتَقْنَعُ بِأَحْوَالِكَ وَالرِّضَا عَنِ النَّفْسِ وَرُؤْيَةُ اِحْسَانُهَااَصْلُ كُلِّ شِرِّ...
Dus, berkawan dengan orang yang sebawahnya, baik itu memang sungguh-sungguh dibawahnya, lebih-lebih kalau hanya perasaan dia saja lebih rendah jadi dia merasa diatasnya, ini "dlororun" mahdlun - bahaya !. merugikan menghancurkan !. sebab dia lalu merasa baik, otomatis lalu mati semangatnya. Dan tidak tahu negatipnya, lalu tidak tahu kesalahannya, tidak tahu dosanya !. yang dia ketahui hanya kebaikan dirinya sendiri. Diatas kawannya atau diatas orang banyak !. membanggakan perjuanganya !. membanggakan amalnya, mujahadahnya, kehalusan hatinya, kebijaksanaannya, .......... dan sebagainya, dan sebagainya!. otomatis dia tekuk lutut kepada nafsunya!. dijajah imperials nafsu!. otomatis dia memperTuhankan nafsunya !. berarti dia memperalat Alloh SWT!. Diperalat untuk menyembah kepada nafsunya !.
Mari para hadirin hadirot, kita tinjau badan kita masing-masing !. melakukan begitu apakah tidak ?.Jika melakukan mari sekarang juga kita bertobat!. kalau tidak, harus kita kembalikan kepada Alloh SWT!. Ini adalah fadlolnya Alloh SWT !. jangan sekali-kali berani-berani mengaku-aku. Mari terus kita tingkatkan berdepe-depe merintih dihadapan Alloh SWT !.
Jadi kesimpulan pengajian ini kita jangan berkawan dengan orang sebawahnya. Harus berkawan dengan orang yang lebih diatasnya!. inilah antara lain hikmahnya mempelajari sejarah-sejarah para Anbia wal mursaliim, para Ulama-ulama dan para Auliya. Misalnya mempelajari sejarah Syekh Imam al Ghozali, Syekh Abdhul Qodir al Jaelani, Syekh Makhruf al Karkhi, Syekh Junaid al Baghdad! dan sebagainya. kalau di Indonesia khususnya di jawa, mempelajari Sunan Kalijogo, Sunan Ampel dan lain-lain. Itu lalu otomatis kita tertarik. Sedikit banyak terpengaruh oleh kebaikan-kebaikan pribadi para beliau-beliau tersebut.

Jadi sekali lagi jangan sampai berkawan yang,..........yang membawa kerugian-kerugian !. Malah sekalipun kawannya itu sebawahnya, supaya kita dapat memanfaatkan !. Antara lain dengan Husnudhon !. sekalipun dia dibawah saya llmiahnya, Mujahadahnya, dan sebagainya tetapi dia lebih sadar, lebih LILLAH BILLAH dari pada saya !. sekalipun saya aktif mujahadah saya, ibadah saya, sembahyang saya, perjuangan saya...............tapi saya jauh tidak ikhlas !. pamrih !. dan disamping itu harus dimanfaatkan lagi untuk penyiaran. Dia yang lebih bawah itu harus kita tarik !. kita tarik pada ke sadaran yang lebih meningkat lagi !. Tahu kawannya kejegur joglangan kok malah diubyuki, atau paling-paling diam saja hanya melihat, ini berarti ngurugi sekali pada kawannya itu !. tahu kawannya atau orang lain sekalipun kejegur sumur kok malah ikut-ikutan njegur, atau paling-paling hanya melihat atau malah mentertawakan, ini..........betul-betul orang yang tidak normal!, sekalipun tidak mentertawakan hanya ndlongop saja, acuh tak acuh, ini berarti ngebleki batu sekali pada orang yang didalam sumur itu !. dan sudah barang tentu dia akan dimintai pertanggungan jawab besok pada yaumul qiyaamah !. dan disamping itu otomatis dituntut oleh orang yang kejegur sumur tadi.

Mari para hadirin hadirot, kita tinjau keadaan pribadi kita didalam kita berkawan, atau bahkan didalam kita memandang orang lain sekalipun !. perlu adanya penelitian !. perlu adanya peningkatan sesudah peninjauan !. tidak bisa mamperbaiki jika tidak mengetahui mana yang rusak. Ibarat orang punya kendaraan, tahu ada sekrup atau baut-baut yang kurang pener, lebih-lebih bagian mesin yang tidak normal kok tidak mau memperbaiki, dupeh masih bisa jalan ini namanya bunuh diri. Sekurang-kurangnya tidak hati-hati terhadap kemungkinan bahaya kecelakaan akibat adanya bagian-bagian motornya yang tidak normal itu. Berarti membiarkan diri hancur berantakan. ini akibat kurang teliti terhadap onderdil-onderdil mesin yang kurang sempurna. Kurang kontrol!. jika belum tahu yang rusak, harus dicari, kalau sudah ketemu, harus diperbaiki. Itu ibarat kendaraan. Begitu juga diri kita. Harus selalu kita tinjau kita selidiki mana-mana yang kurang baik, yang merugikan dan mana-mana yang menguntungkan. Kalau sudah ketemu, harus konsekwen melaksanakan. Tahu yang merugikan, tidak mau menghindari dan tahu yang menguntungkan tidak mau usaha mencari, ini orang yang tidak normal. Sudah tahu yang rusak tidak mau memperbaiki, ini namanya orang tidak normal. Dia akan menghadapi kerugian yang jauh lebih besar lagi dikemudian hari !. jadi sama halnya dengan materi.

Para hadirin hadirot, ya kalau soal materi atau duniawi sepi lintas-lintas saja. Sak lapan. Sekalipun kerugian yang bagaimanapun juga, hanya sak lapan, sekejap waktu, atau hari, atau bulan, atau tahun paling-paling tetapi kerugian diakhirot para hadirin hadirot, sak jeg jumbleg !. selama-lamanya !. kalau ya teruuus sakit !.-didunia pada umumnya sehat dan sakit, jauuuuh lebih lama sehatnya dari pada sakitnya !. tapi di akhirot sak jeg jumbleg !. kalau sakit terus sakit, kalau rugi terus rugi!.
Para hadirin hadirot, mari!. kalau soal dunia kita kebanyakan selalu usaha sekuat mungkin. Dimana ada kemampuan, kita tempuh. Kalau tidak ada kemampuan, usaha cari kemampuan untuk itu, bagaimana agar supaya mampu. Itu soal dunia yang hanya sak lapan para hadirin hadirot!. dagang atau tani, atau pegawai, atau pengusaha ini dan itu selalu dipikir diusahakan agar banyak hasil, agar banyak untung, agar memperoleh kenaikan gaji, agar..... agar..... agar..... sebelum ketemu terus dicari diusahakan !. kalau sudah ketemu diusahakan. Sampai lupa siang dan malam. Semua menjadi siang, tidak mengenal malam. Ini soal dunia yang hanya sak laaaapan, para hadirin hadirot !. lalu soal akhirot yang sak jeg jumbleg, kok kurang perhatian !. bagaimana tanggapan kita para hadirin hadirot!. jika keadaan kita begini, akal fikiran kita dimana para hadirin hadirot ?. katanya kita punya akal, punya fikiran. Kalau dikatakan akalnya kurang normal,............  naik darah !. tapi fakta menunjukkan dengan jelas !. Para hadirin hadirot mari......!.

وَالرِّضَا عَنِ النَّفْسِ وَرُؤْيَةُ اِحْسَانُهَااَصْلُ كُلِّ شِرِّ...

Puas, senantiasa nuruti nafsu, adalah sumber segala keburukan dan kejahatan!. Ciri khas dari nafsu adalah suka pada yang enak dan kepenak. Tidak mau kangelan !.
فَاءِنْ اَرَدْتَ وَلاَبُدَّ اَنْ تَصْحُبَ مَنْ لاَيَنْهِضُكَ حَالُهُ وَلاَيَدُلُّكَ عَلَى اللهِ مَقَالُهُ فَاصْحِبْ مِثْلَكَ حَتَّى تَكُونُ فِى صُحْبَتِهِ لاَلَكَ وَلاَ عَلَيْكَ, ثُمَّ اعْلَمْ اَنَّ صُحْبَةَ اْلعَارِفِيْن عَلَى قِسْمَيْنِ

Disini dikatakan, jika terpaksa karena jalan sudah buntu, tidak mendapat kawan yang bermanfaat, tapi seharusnya tidak buntu, harus selalu dapat memanfaatkan, tapi kalau memang sudah sungguh-sungguh buntu, maka carilah kawan lain yang sebaya dengan dirimu, sehingga didalam berkawan itu nanti engkau tidak mengalami kerugian, tapi juga tidak memperoleh keuntungan. Ini kalau terpaksa tidak mendapat kawan yang lebih atas tingkatan kesadarannya. Tapi sesungguhnya kita dapat dan mampu memanfaatkan menguntungkan !. tinggal mau atau tidak !. sudah kita manfaatkan atau belum, itu terserah kita masing-masing !.

صُحْبَةُ اِرَدَةُ وَصُحْبَةُ تَبَرُكِ فَصُحْبَةُ اْلأِرَادَةِ هِيَ اْلَتِي يُشْتَرَطُ لَهَا اْلشُرُوطُ اْلمَعْرُوفَةُ اْلَتِي حَاصِلُهَا  أَنْ يَكُونُ اْلمُرِيْدُ مَعَ اْلشَيْخِ كَالْمَيِّتِ بَيْنَ يَدَيِ اْلغَاسِلِ, وَصُحْبَةُ اْلتَبَرُكِ هِيَ اْلَتِي يَكُونُ اْلقَصْدُ بِهَا اْلدُخُولَ مَعَ اْلقَوْمِ وَاْلتَزْيِيِ بِزِيِّهِمْ وَاْلإِنْتِظَامُ فِي سُلْكِ عَقْدِهِمْ...... إلخ

Berkawan dengan ‘Arifin, orang-orang yang sadar kepada Alloh SWT, orang-orang yang dikasihi oleh Alloh Ta'ala, ada dua macam satu, "SHUHBATUL-IRODAH". Berkenalan sebagai murid, minta ditunjukkan disadarkan kepada Alloh SWT. Berkawan atau berkenalan, agar mentalnya menjadi baik, tidak morsal tidak bejad. Mental yang diridloi Alloh wa Rosuulihi saw, berguna bagi ummat dan masyarakat. Dan kedua, “SHUHBATU TABARRUKIN” - berkawan agar mendapat barokahnya orang yang dijadikan kawan atau kenalan.

Berkawan yang pertama, shuhbatul iroodah, usaha untuk memperbaiki mental, terutama agar supaya sadar kepada Alloh SWT, ada syarat-syarat yang harus dipenuhi. Syaratnya artinya, yang harus dipenuhi oleh si murid, orang yang berkawan dengan si Arifin tadi, antara lain harus seperti mayit dibawah tangan orang yang memandikan. Diapakan saja harus manut menyerah. Menyerah bongkokan dunia akhirat !. Moril dan Materiil, menyerah bongkokan kepada Gurunya. Apapun yang diminta Guru atau Syekh harus diberikan !. diminta hartanya harus diberikan. Diminta istrinya harus diberikan. Dibunuh, menyerah diri, dan sebagainya, dan sebagainya. itu syaratnya.

Syaratnya Guru atau Syekh, pertama, harus orang yang sungguh-sungguh sadar kepada Alton SWT !. bebas dari imprelias nafsu !. mampu mengantarkan muridnya sowan, berodensi di hadapan Alloh wa Rosuulihi saw!. Yang sepi ing pamrih !. sama sekali tidak membutuhkan apa-apa dari muridnya !. Moril atau lebih-lebih Materiil, dunia dan akhirot!. sama sekali tidak membutuhkan itu semua!. malah menyokong, membantu kepada murid. Soal moril dan materiil. Dan dia, sebagai Guru atau Syekh harus mampu mengantarkan si murid sowan menghadap kehadirot Alloh wa Rosuulihi saw dari tempat yang jauh sekalipun. Murid ditimur, dan guru dijagad barat, murid diufuk utara dan guru di ufuk selatan, harus mampu mengantarkan murid dari jauhan.

Oleh karena hal-hal seperti itu diatas, jangan gampang-gampang mengatakan : saya seorang guru, saya seorang murid. Kalau tidak memenuhi syarat-syarat seperti diatas, guru dan murid palsu namanya !. mestinya guru harus dapat mengantarkan sowan dihadapan Alloh SWT wa Rosuulihi saw, memperbaiki mental si murid, sekalipun dari kejauhan!. disamping guru itu sendiri sudah mampu sowan senantiasa, senantiasa tekuk lutut dihadapan Alloh wa Rosuulihi saw !. begitu juga si murid, syaratnya harus menyerah bongkokan kepada Guru. Dilempar kemanapun harus tunduk !.

Lha diantara kita bagaimana para hadirin hadirot ?. kalau sebagai murid apakah sudah memenuhi syarat-syarat sebagai murid, dan kalau mengaku guru sudahkah memenuhi syarat-syarat seorang guru seperti diatas!. Tapi kita didalam Wahidiyah, tidak ada istilah "Guru" dan "Murid". Sebab yaitu, maaf, saya sendiri misalnya, untuk menjadi murid saya merasa tidak mampu memenuhi syarat-syarat murid. Yah, kalau bicara menyerah bongkokan sih gampang, tapi fakta kenyataannya jaaauh lebih sukar. Lha lebih-lebih menjadi guru. Pernyataan gampang tapi kenyataan jaauh lebih berat. Oleh karena itu didalam Wahidiyah kita menggunakan sistem “bersama-sama”. Gotong royang saling bantu membantu satu sama lain.
“WA TA’AAWANUU 'ALAL BIRRI WATTAQWA”
(Saling tolong menolong bantu membantulah kamu sekalian dalam menjalankan kebaikan dan taqwa kesadaran kepada Alloh wa Rosuulihi saw !.)
Tapi disamping itu, kita juga harus merasa bahwa semua yang kita hadapi adalah, itu guru saya. Sesama manusianya !. Jangankan yang memberi ajaran, sedangkan terhadap makhluk lain harus begitu !. Itu guru saya. Itu pohon kelapa, itu tembok. Itu, gunung, semua harus kita jadikan guru!. Guru yang mengantarkan kita kepada Alloh SWT.
َاْلطُّرُقُ إِلَى اللهِ بِعَدَدِ ذِرَةٍ اْلخَلاَئِقِ

(Jalan menuju sowan dihadapan Alloh SWT, adalah sebanyak bilangan makhluq) segala makhluq adalah jalan untuk sowan dihadapan Alloh SWT !. kok kita menghadapi makhluq, melihat atau mendengar, atau merasa, atau berangan-angan atau ingat, kok tidak kita jadikan sowan dihadapan Alloh SWT, tidak kita jadikan untuk sadar kepada Alloh SWT, ini namanya menyalah gunakan makhluq !. dan kalau menyalahgunakan, besok dituntut oleh jalan itu sendiri. Makhluq, mengantarkan kepada Alloh SWT, berarti dia guru saya. Karena dia guru saya yang mengantarkan kepada Alloh SWT, saya harus ta'dzin menghormat kepada guru saya. ini, bidang yang harus diisi!.
Ada orang yang ba'dul 'Arifin dimintai keterangan oleh salah seorang muridnya. Siapa guru bapak ?. jawab gurunya: Guruku ....seekor kucing, Kucing waktu akan menerkam mangsanya tikus, tidak berkedip. Bulunyapun tidak bergerak. Lha mestinya aku ini terhadap Alloh SWT harus begitu, menteleng !. Menteleng hatinya !. sebab senantiasa diawasi, diincar oleh Alloh SWT !. Senantiasa diberi oleh Alloh SWT!. kok aku kurang perhatian, sembrono, berarti aku menerima pemberian Tuhan dengan tangan kiri atau dengan kaki. Kalau saya tidak menteleng, boleh dikatakan kanan kiri muka belakang jurang neraka !. bergerak sedikit jatuh keneraka !. setelah aku memikirkan kucing, alhamdu Lillah aku bisa menjalani begitu. Pengalaman yang sungguh berharga bagiku.

Para hadirin hadirot, pokoknya semua makhluq ini harus kita jadikan guru!. lebih-lebih sesama manusianya!. sekalipun bekas muridnya dulu-dulunya. Sekalipun dia yang memberi sholawat Wahidiyah saya, harus saya jadikan guru. Bagaimana para hadirin hadirot, kita sudan begitu apa belum ?. perlu kita senantiasa koreksi !. Jika kita mengetahui kekurangan kekurangan, kita tidak bisa menambah. Ibarat kita punya sepeda motor kita periksa bensinnya. Masih banyak apa tinggal sedikit. Cukup untuk jalan atau tidak. Kalau kita tidak tahu, lebih-lebih merasa bensinnya masih penuh, padahal sudah habis, nanti akan mengalami kangelan sendiri di tengah jalan !. mari kita selalu meninjau kekurangan-kekurangan yang ada pada diri kita apa !. yang kurang apanya, yang belum saya jalani yang mana ?. padahal semua kita mampu. Mampu adalah nikmat Alloh SWT yang harus kita syukuri!. jika tidak kita syukuri, namanya kita kufuri, ingkar tidak merasa diberi oleh Tuhan. Merasa kepunyaan sendiri. Tidak di terima kasih, berarti disalah gunakan. Jika tidak kita syukuri, kemampuan kita itu sendiri besok menuntut kepada kita !. Yaa Tuhan, saya adalah "kemampuan" yang Engkau berikan kepada si Fulan. Tapi oleh dia saya cuma dipenjara saja, tidak digunakan semestinya malah disalah gunakan, tidak disyukuri, Sekarang saya menuntut tidak terima yaa Tuhan. Kalau dia tidak ditusuk satekan dibakar di neraka, saya tidak terima yaa Tuhan !.....itu otomatis begitu para hadirin hadirot!. tapi jika kita syukuri, nikmat-nikmat itu para hadirin hadirot, disamping dibalas dengan pahala yang diridloi Alloh SWT, nikmat-nikmat itu sendiri

 sama menghormat kepada kita!. lebih-lebih pada waktu yaumul hisab para hadirin hadirot, lebih-lebih!. Yaa Tuhan aku adalah nikmat kemampuan, nikmat mendengar, nikmat melihat dan lain-lain, ya alhamdu lillah dia selalu menggunakan aku untuk apa yang engkau ridloi yaa Tuhan. Saya suara menjadi saksi yaa Tuhan, bahwa dia ketika mendengar saya, dia lalu sadar kepada-Mu yaa Tuhan, sadar LILLAH BILLAH LIRROSUL BIRROSUL. Dia tidak pernah nuruti dan menyembah nafsunya yaa Tuhan. Berilah dia kasih sayang dan ridlo-MU yaa Tuhan, kumpulkanlah dia dengan kekasihmu Rosuulullohi saw yaa Tuhan, sebab ajaran yang dia laksanakan itu yang membawa Rosulillahi saw !...dan seterusnya, dan seterusnya !.

Tetapi kalau disalah gunakan, masing-masing akan menuntut. Jika diantara kita pernah makan daging, besok daging itu dihidupkan kembali dan matur kepada Alloh SWT. yaa Tuhan, saya daging kambing, dulu saya disembelih oleh orang itu, lalu dimakannya. Tetapi caranya makan disalahgunakan hanya untuk menuruti kemauan nafsunya saja. Dia ingin ikan kambing lalu saya disembelihnya dan dimakan dagingku,..............Vitamin dari pada aku dimakan itu hanya untuk memuaskan nafsunya, syahwatnya yaa Tuhan, saya tidak rela yaa Tuhan !      banyak-banyak !.

Para hadirin hadirot!. ya maaf, soal berkawan dengan tujuan tabarruk tadi, “shuhbatut-tabarruk” agak lebih ringan syarat-syaratnya dari yang pertama “shuhbatul iroodah”. Berkawan dengan maksud beguru tadi. Cukup dengan perkenalan atau silaturohmi dalam waktu sekejap saja. Tapi ya itu, otomatis harus dengan adab-adab yang baik, yang sopan, menghormat dan ada maksud tabbaruk seperti kita maklumi.