Wahidiyah

Kamis, 16 April 2015

tanda-tandanya hati yang mati - al hikam oleh muallif sholawat wahidiyah


ِبـسْمِ الله ِالرََّحْمَـنِ الرَّحـِيْمِ
{مِنْ عَلاَمَاتِ مَوْتِ اْلقَلْبِ عَدَمُ اْلحُزْنِ عَلَى مَا فَاتَكَ مِنَ اْلمُوَافَقَاتِ وَتْرُكُ اْلنِدَمِ عَلَى مَا فَعَلْتَهُ مِنْ وُجُودِ اْلزَّلاَّتِ}

(Setengah dari pada tanda-tandanya hati yang mati, yaitu dia tidak merasa menyesal atau susah prihatin atas keglonjomannya melalaikan kewajiban-kewajiban tho’at atau atas berlarut-larutnya menjalankan maksiat).
Jika orang hatinya mati, dengan sendirinya dikecam oleh Alloh SWT. Hati yang mati, dengan sendirinya tidak dapat melihat hidayah dari Alloh SWT !. Gelap baginya !. Dia tidak dapat membedakan mana yang haq yang benar, dan mana yang bathil, tidak tahu mana yang menguntungkan dan mana yang merugikan !.
Sebaliknya, tanda-tandanya hati yang hidup, disini dikatakan :

وَعَلاَمَةُ حَيَاتِهِ بِاْلأَنْوَارِ اْلإِلَهِيَاتِ وَإِنْ لَمْ تُدْرِكْهَا لِغَلَظٍ حِجَابِكَ خُزْنُكَ عَلَى مَافَاتَكَ مِنَ الطَّاعَاتِ وَالنّدِمُكَ عَلَى مَا فَعَلْتَ مِنَ الَّزلاَتِ فَالتَّفْرآ بِصُوْرِ اْلأَعْمَالِ مِنْكَ فَرْحًا شَدِيْدًا وَتَعَتُّمُ عَلَى اْلمُخَالِفَاتِ وَذَلِكَ دَلِيْلُ عَلَى أَنَّكَ مِنْ أَهْلِ اْلمُحِبُّوْيَيْنَ للهِ فَجِدَ فٍي السَّيْرِ وَلاَ تَكَسُلُ

Tanda-tandanya hati yang hidup, atau alamatnya diridhoi oleh Alloh SWT, alamatnya diampuni oleh Alloh SWT, yaitu ketika sedang tledor sedang glonjom, dia secepat kilat sudah tobat dan prihatin. Prihatin karena tledor atau glonjom, lebih-lebih sampai berlarut-larut kedalam maksiat. Dan diwaktu dapat menjalankan tho’at dan bertobat, dia menjadi bungah gembira. Gembira bukan gembira yang menyombongkan dada, tapi bungah gembira karena ditolong oleh Alloh SWT. Bungah karena mendapat ridho Alloh. Jadi boleh dikatakan bahwa orang menjalankan tho’at, melakukan perbuatan-perbuatan yang membuahkan manfaat bagi ummat dan masyarakat, itu tandanya dia diridhoi oleh Alloh SWT. Justru itu dia menjadi gembira mendapat ridho dari Alloh SWT. Dia berbuat perbuatan yang diridhoi Alloh SWT yang memberi manfaat dari ummat dan masyarakat, baik lahiriyah maupun batiniyah. Ketika sedang berlarut-larut menjerumus kedalam maksiat, dia susah prihatin, sebab merasa dibendu oleh Alloh SWT. Merugikan ummat dan masyarakat, sekalipun wujud lahirnya seperti memberi manfaat. Malah, sekalipun lahirnya kelihatan menguntungkan, tapi karena berbuat yang tidak diridhoi Alloh SWT, itu sesungguhnya merugikan masyarakat!. Jika hatinya hidup dia cepat susah prihatin dan tobat karena melakukan hal-hal yang dibendu oleh Alloh SWT!.
Para hadirin hadirot, mari ditinjau pengalaman kita bagaimana !. Kita tidak lepas berbuat baik atau berbuat buruk, tidak lepas dari perbuatan-perbuatan yang diridhoi Alloh dan menguntungkan dan dari perbuatan-perbuatan yang dikecam Alloh dan merugikan. Perbuatan yang tidak baik dan tidak buruk, dalam suatu segi dapat dikatakan baik. Tapi dari segi lain juga dapat dipandang buruk, jika dipandang dari yang baik. Ringkasnya, perbuatan hanya ada dua macam. Diridhoi Alloh SWT, atau dikecam dibendu Alloh SWT.
Oleh karena itu mari kita periksa diri kita masing-masing, diridhoi Alloh SWT-kah atau dibendu dikecam Alloh SWT, ini kita masing-masing bisa mengetahui berdasarkan alamat-alamat tersebut diatas!. Hati kita masing-masing ini hidup atau mati, para hadirin hadirot ?. Jika mati, hati kita mati, alangkah rugi kita terutama besok pada yaumul qiyaamah. Akibat matinya hati didunia, akan dirasakan diakhirot sak jeg jumbleg selama-lamanya, para hadirin hadirot !. Sebaliknya, hati yang hidup ketika didunianya, dia akan memetik buah diakhirot untuk selama-lamanya, para hadirin hadirot, mari diri kita masing-masing kita tinjau!. Dan mari para hadirin hadirot, kita di beri akal, dan sedikit banyak menyadari bahwa kita semua ini adalah hamba Alloh yang senantiasa diberi suatu pemberian nikmat fadhol yang sebanyak-banyaknya setiap detik dalam segala segi.
Mari para hadirin hadirot, kita senantiasa cancut tali wondo untuk berbuat perbuatan yang diridhoi Alloh SWT wa Rosuulihi saw !. Yang menghasilkan manfaat bagi ummat dan masyarakat!. Terutama dalam bidang kesadaran kepada Alloh wa Rosuulihi saw!. segala perbuatan apa saja jika tidak dilandasi kesadaran, akan mengakibatkan kerugian yang sangat besar, kamaa qoola Syaikhu-Syaikhi-Syaikhil-Muallif, Syekh Abdus-Salem bin Masyis :
مَنْ دَلَّكَ عَلىَ الدُّنْيَا فَقَدْ غَشَّكَ

Orang yang memberi petunjuk kepadamu soal dunia, sesungguhnya dia orang yang menipu, menjerumuskan dirimu. Mengapa tidak ? sebab dunianya lalu digunakan untuk nuruti nafsunya belaka !. Otomatis dia terjerumus !. Jika yang diberi itu, tidak sadar kepada Alloh SWT.
وَمَنْ دَلَّكَ عَلىَ الْعَمَلِ فَقَدْ اَتْعَبَكَ

Orang yang memberi petunjuk tentang amal, tentang ibadah pun begitu saja, dia itu adalah orang yang hanya membikin engkau capek kepayahan !. Malah, bisa jadi merugikan dan menjerumuskan. Mengapa tidak ? sebab, jika orang yang diberi petunjuk itu belum sadar kepada Alloh SWT, justru makin banyak amalnya, makin banyak ilmunya, makin banyak kebaikannya, justru malah makin banyak takaburnya, makin banyak rasa bangga, makin tebal ujub dan riyaknya !. Itu tadi tidak berarti jangan memberi petunjuk soal dunia, soal amal-amal kebaikan dsb, bukan begitu !. Tapi harus didasari dan diarahkan seperti dawuhnya yang ketiga yaitu:
وَمَنْ دَلَّكَ عَلىَ اللهِ فَقَدْ نَصَحَكَ

Dan barang siapa yang memberi petunjuk, mengantarkan kepada Alloh SWT, itulah orang yang sungguh-sungguh memberi kebaikan kepadamu !.
Para hadirin hadirot, mudah-mudahan kita senantiasa dapat menjiwai segala amal-amal ibadah kita dan segala kepentingan duniawiyah kita, kita jiwai dengan pengabdian diri dan kesadaran kepada Alloh wa Rosuulihi saw. Yaitu LILLAH BILLAH - LIRROSUL BIRROSUL !. Sungguh-sungguh ikhlas !.

Kembali lagi kepada pengajian. Jadi tanda-tandanya hati yang mati yaitu tidak mau susah prihatin lantaran berbuat soal-soal yang dikecam oleh Alloh SWT nuruti nafsunya belaka !. Itu hati yang mati. Tidak mau susah dan prihatin. Boleh jadi malah bangga malah gembira. Ini hatinya mati, tidak hidup. Yang kelihatan hidup itu hanya klontongannya saja!. Sesungguhnya dia bangkai. Itulah yang dikecam oleh Alloh SWT, tegas tidak diridhoi Alloh SWT!. Dikecam, dibendu, dimusuhi oleh Alloh SWT. Tapi jika hati yang hidup, ketika sedang maksiat atau berlarut-larut, secepat kilat tobat, susah. Secepat kilat menyesal!. Kata Bakdul -Arifiin:
اَلْوُجَلُ إِلَى اْلأَجَلْ

Harus menyesal sampai mati masih menyesal!. Sekalipun maksiat kecil, lebih-
lebih maksiat besar!. Lebih-lebih Syirik, sekalipun syirik khofi, syirik yang samar-
samar, Bakdul Arifiin zaman kuno, maksiat sedikit saja menyesalnya sampai
bertahun-tahun. Malah ..... pokoknya “al-wajal ilal-ajal”. Tapi para hadirin hadirot,
kita menyesal atas dosa-dosa ya jangan sampai keterlaluan sampai meninggalkan
bidang-bidang lain !. Penyesalan maksudnya supaya dapat senantiasa berhati-
hati jangan sampai berbuat maksiat lagi, jangan sampai ngglonjom lagi. Supaya
dapat selalu menyadari bahwa maksiat atau glonjom lebih-lebih berlarut-larut
adalah sesuatu yang dikecam oleh Alloh SWT, yang menjauhkan diri dari Alloh
SWT. Tapi maksudul-‘azom, maksud yang prinsip yaitu agar supaya sadar, zuhud
kepada Alloh SWT, ma’rifat kepada Alloh SWT. LILLAH BILLAH istilah
Wahidiyah !. LILLAH + mengabdikan diri dalam segala bidang !. Segala waktu,
segala keadaan. Segala perbuatan diarahkan untuk mengabdikan diri kepada
Alloh SWT. Dan dalam segala bidang, segala waktu pula, senantiasa BILLAH,
senantiasa ber TAUHID kepada Alloh SWT. Ini soal yang pokok. Segala amalan,
segala perbuatan, segala bidang, segala ilmiyah, dalam segala waktu dan
keadaan, penuh digunakan pengabdian diri dan kesadaran kepada Alloh SWT
wa Rosuulihi saw !. Menempatkan Alloh pada tempat-NYA !. Yaitu Tuhan Maha
Pencipta, Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan Yang Maha Memberi, Tuhan Yang Maha
Rohman-Rohim, Tuhan Yang Maha Mengetahui,.........Tuhan Yang serba Maha !. Menempatkan diri kita sebagai Hamba. Hamba yang apes, hamba yang lemah, yang senantiasa berlarut-larut, yang senantiasa dholuuman jahuulan !. Hamba yang senantiasa membutuhkan,........         Dsb dsb !.
Ya mudah-mudahan para hadirin hadirot kita semua dikaruniai senantiasa
hati yang hidup !. Hidup untuk Fafirruu ilallohi wa Rosuulihi saw. Min yauminaa
haadza ila yaumil-qiayamah !. Amiin !.

لاَيَعْظُمُ الذَّنْبُ عِنْدَكَ عَظَمَةٌ تَصُدُّكَ عَنْ حُسْنِ الظَّنِّ بِاللهِ فَإِنَّهُ مَنْ عَرَفَ رَبَّهُ اسْتَصْغَرَ فِيْ جَنْبِ كَرَمِهِ ذَنْبُهُ
Jangan sekali-sekali suatu dosa itu bagimu menjadi perkara besar yang memberatkan dirimu, sehingga menghalang-halangi engkau berhusnu-zdon kepada Alloh SWT. Sehingga engkau berputus asa, malah sehingga engkau berprasangka jelek terhadap Alloh SWT !. Sekali-kali jangan !. Jadi kita harus merasa berdosa besar, tapi jangan sampai keterlaluan !. Sebab jika keterlaluan, lalu menjadi putus asa !. Atau suuzdon, menyangka jelek kepada Tuhan. Menyangka bahwa Tuhan tidak mengampuninya!. Kita harus berkeyakinan bahwa Alloh SWT adalah Rohman-Rohim, Ghoffaar-Ghofuur. Perasaan berdosa besar itu supaya mendorong lekas-lekas bertobat kepada Alloh SWT !. Jangan sampai merasa karena dosanya terlalu besar lalu putus asa!. Ini terkecam !. Bahaya !. Sebab berarti tidak atau kurang percaya bahwa Alloh SWT Maha mengampuni segala dosa biar bagaimanapun besarnya. Terkecuali dosa syirik, dosa meyekutukan Tuhan. Sekalipun syirik khofi !. Tidak sadar BILLAH istilah Wahidiyah !. Dosa syirik yang tidak ditobati sampai mati, tidak akan diampuni oleh Alloh SWT. Tapi sekalipun dosa syirik, asal segera mau bertobat, mau merubah sikapnya, masih diampuni!. Lha lebih-lebih dosa-dosa selainnya syirik asal mau bertobat, Tuhan Maha Mengampuni segala dosa !. Dosa yang paling berat adalah dosa syirik. Tapi asal mau bertobat, masih juga diampuni oleh Alloh SWT Maha Mengampuni dosa.

إِنَّ اللهَ لاَيَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذَالِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً بَعِيْدًا {النساء:١١٩}

(Sesungguhnya Alloh tidak mengampuni dosa syirik, dan mengampuni dosa-dosa selain syirik bagi orang yang Dia kehendaki. Barang siapa syirik Billah mempersekutukan Alloh, maka sungguh ia telah tersesat sejauh-jauhnya)
Itu tadi dosa syirik yang tidak ditobati sampai datangnya mati. Tapi jika sebelum mati ia mau bertobat masih diampuni-NYA. Orang yang asalnya musyrikin lalu masuk Islam berarti dia telah bertobat dari syiriknya. Itulah kemurahan Alloh SWT!.
Orang yang berdosa besar tidak secepatnya bertobat malah putus asa, ini terkecam !. Malah, putus asanya itu lebih berat dari pada dosanya. “ ........  FAINNAHU MAN ‘AROFA ROBBAHU ISTASHGHORO FII JANBI KAROMIHI  DZAMBAHU”.
Sebab, jika orang menyadari bahwa Alloh SWT Maha Kasih-Sayang, dia tidak kecil hati. Yakin Tuhan mengampuni dosa-dosanya sekalipun bagaimana beratnya. Dan oleh karena itu dia tidak segan-segan bertobat memohon ampunan. Pokoknya asal mau tobat, pasti diampuni oleh Alloh SWT. Banyak kejadian-kejadian dalam sejarah atau pengalaman.

Orang yang berdosa besar, lalu sebab itu menjadikan dia secepat kilat tobat dan merubah sikap, itu tandanya bahwa dia dikaruniai iman oleh Alloh SWT.

قاَلَ اِبْنُ مَسْعُوْدٍ: إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوْبَهُ كَأَنَّهَا فِيْ أَصْلِ جَبَلٍ يُخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ وَإِنَّ اْلفَاجِرَ يَرَى ذُنُوْبَهُ كَذُبَابٍ وَقَعَ عَلَى أَنْفِهِ قَالَ بِهِ هَاكَذَا وَأَطَارَهُ

Berkata Syekh Ibnu Mas’ud : orang yang mukmin melihat dosanya seolah-olah seperti dia di bawah kaki gunung yang akan longsor, dan dia takut tertimbun. Atau seperti orang dibawah bangunan besar yang sudah retak-retak dan akan ambruk. Tentu dia takut bukan main. Begitu juga seorang yang sungguh-sungguh mukmin melihat dosanya sekalipun kecil, dia takut sekali.
Lebih-lebih dosa besar, tapi sebaliknya orang yang mati hatinya, orang yang lacut berlarut-larut, dosanya yang begitu besar dianggap soal biasa.

وَيُقَالُ أَنَّ الطَّاعَةَ كُلَّمَا اسْتَصْغَرَتْ كَبُرَتْ عِنْدَ اللهِ وَأَنَّ الْمَعْصِيَّةَ كُلَّمَا اسْتُعْظِمَتْ صَغُرَتْ عِنْدَ اللهِ

Dikatakan bahwa tho’at, jika dipandang kecil, besar artinya dalam pandangan Alloh SWT. Dan maksiat jika dipandang besar (oleh yang berbuat), maka menjadi kecil dalam pandangan Alloh.

Jadi tho’at, jika yang melakukan tho’at itu merasa kecil tak berarti, malah merasa banyak kekurangan-kekurangannya, kurang ikhlas dan sebagainya, ini menjadi besar nilainya dalam pandangan Alloh SWT. Sebaliknya maksiat, jika yang berbuat menganggapnya kecil, soal biasa, ini menjadi dosa besar yang dobel-dobel serta dibendu dimurkai oleh Alloh SWT. Lebih-lebih sampai merasa baik. Maksiat, sekalipun maksiat kecil, lebih-lebih maksiat besar, ini diampuni oleh Alloh SWT.
Jadi soal hati yang penting. Mengatur hati bagaimana seharusnya, itu yang penting sekali. Sekali lagi, hati adalah penting sekali, seperti sudah kita maklumi, kita yakini. Tepat sekali itu hadist Rosuulullohi saw:

إِنَّ فِيْ الْجَسَدِ لَمُضْغَةٌ إِذَا صَلُحَتْ صَلُحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ اَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ 
Sesungguhnya didalam tubuh ada segumpal daging. Jika segumpal daging itu baik, menjadi baik pula seluruh jasad, dan jika buruk menjadi buruk pula seluruh jasad. Ketahuilah yaitu hati.
ذَرَّةٌ مِنْ أَعْمَالِ الْقَلْبِ خَيْرٌ مِنْ أَمْثَالِ الْجَبَالِ مِنْ أَعْمَالِ الْجَوَارِحِ {اوكعاقال}

Amal hati sebesar semut yang paling kecil lebih baik dari pada bergunung-gunung amal lahiriyah.

Sebaliknya, dosa kecil sekecil atom misalnya dari perbuatan hati itu lebih berat lebih berbahaya dari bergunung-gunung dosa lahiriyah, bukan berarti begitu !. Tapi ini memperingatkan betapa pentinganya soal batiniyah !. Seperti itu, istilah maksiat, syirik atau kufur, atau isitilah iman, syuhud atau sadar, itu semua adalah amal perbuatan hati semua !. Dosa yang paling besar, paling berat akibatnya adalah syirik. Inipun perbuatan hati. Begitu juga amal yang paling tinggi nilainya, adalah perbuatan atau amalnya hati, yaitu sadar atau syuhud kepada Alloh SWT.

            Begitu pentinganya hati para hadirin hadirot, mari kita perhatikan dengan sebanyak mungkin disamping memperhatikan amal-amal lahir!. Dan sekalipun soal hati itu mudah membahasnya, tapi diibaratkan sebagai setitik air diatas daun talas. Mudah sekali berpindah-pindah. Lap sana, lap sini, lap sana dan seterusnya. Maka perang yang paling berat, seperti sabda Rosuulullohi saw “Jihadil-Akbar”, adalah Jihadun-nafsi. Mujahadatun-nafsi. Merangi nafsu !. Ya mudah-mudahan para hadirin hadirot kita senantiasa diridloi Alloh SWT, diberi hidayah dan taufiq, syafa’at, tarbiyah dari Rosuulillaahi saw, syafa’at tarbiyah khooshshotaini, wa kadzalik barokah karomah dari beliau Ghousi Hadhaz-Zaman wa Akwaanihi rodiyallohu Ta'ala 'annum !. Amiin!.

لاَ صَغِيْرَةَ إِذَا قَابَلَكَ عَدْلُهُ وَلاَ كَبِيْرَةَ إِذَا وَجَّهَكَ فَضْلُهُ

(Tidak ada dosa kecil, semua dosa besar jika diadili oleh Alloh SWT. Jika Alloh SWT melaksanakan sifat Adil-NYA, tidak ada dosa kecil. Semua besar. Semua berdosa !. Sekalipun tho’at, ibadah wujud lahirnya itu merupakan dosa besar semua !. Jika dilaksanakan Adil-NYA Alloh SWT. Adilnya Alloh SWT, yaitu Alloh SWT bebas berbuat apa saja terhadap makhluq, terhadap hamba-NYA !. Yang jelek dibikin baik ya bisa, yang baik dijadikan jelek ya bebas!. Itu Adilnya Alloh SWT. Jadi adilnya Alloh Ta’ala yaitu menggunakan, berbuat terhadap makhluqnya, hamba-NYA sewenang-wenang. Yang baik disiksa, atau yang jelek malah dikasihi dan sebagainya.......bebas !. Kalau orang yang menyadari sifat adilnya Alloh SWT yang seperti itu, otomatis sekalipun ia punya ibadah seperti ibadahnya para malaikat, dia tetap takut!. Otomatis !. Sebab, dia lalu menyadari bahwa Tuhan bebas berbuat apa saja dan bagaimanapun juga, bebas menyiksa, bebas menghancurkan !.
“WALAA KABIIROTA IDZAA WAJJAH HAKA FADLUHU”. Sebaliknya, jika Tuhan berbuat melaksanakan fadhol-NYA. Fadhol yaitu I’thoous-syai-I big-ghoiri ‘iwadlin, memberi tanpa adanya sesuatu apapun juga sebelumnya tidak dimintai, diberi imbalan lebih-lebih, pokoknya inisiatif dari si pemberi itu tanpa sebab dari lain. Ini fadhol. Jika Alloh SWT memberi, ini otomatis Alloh SWT tidak didesak atau dipengaruhi oleh lain-NYA. Oleh hamba-NYA, oleh dan sebagainya. Tapi semata-mata dari irodah kemauan Alloh SWT !. Sebaliknya, jika Tuhan berbuat melaksanakan fadhol-NYA, atau seseorang mendapat fadholnya Alloh SWT, sama sekali dia tidak punya dosa besar. Malah dosa kecilpun tidak punya !. Itu jika orang diberi fadlol oleh Alloh SWT !. Malah, dosa-dosanya menjadi baik semua !.

Dus, jika sifat adil Tuhan dilakukan atas hamba-NYA, maka semua ibadah  si hamba menjadi maksiaat semua !. Lebih lagi maksiatnya !. Tapi jika yang diberi fadhol oleh Alloh SWT, semua dosanya diampuni, malah semuanya menjadi baik!. Lebih-lebih ibadahnya !. Ya mudah-mudahan para hadirin hadirot, kita semua dikaruniai fadhol yang sebanyak-banyaknya !. Amiin ! Amiin !. Amiin!.
Lha itu didalam Al-Qur’an antara lain :
أُولَئِكَ الَّذِيْنَ يُبَدِّلُ اللهُ سَيِّئاَتِهِمْ حَسَنَاتٍ (الفرقان : ٧٠)

Mereka yang karena mendapat fadholnya Alloh SWT, otomatis mereka bertobat!. Bukan hanya diampuni saja dosa-dosanya, tapi disamping diampuni, dosanya itu diganti kebaikan semuanya !.

Jika orang diadili Tuhan, ibadahnya tidak ada yang diterima, jangankan diberi pahala, tapi dijadikan siksa buat menyiksa dirinya sendiri!.
Ya mudah-mudahan sekali lagi kita dikaruniai fadhol oleh Alloh SWT !.  Kita harus usaha !. Harus usaha !.
لاَ يَكُوْنُ الْفَضْلُ إِلاَّ لِلْمُنْكَسِرَةِ قُلُوْبِهِمْ الْمُتَعَارِضَةُ لِلنَّفَاحَاتِ اْلإِلاَهِيَّةِ

Orang yang tidak akan mendapat fadholnya Alloh Ta’ala jika hatinya tidak selalu nelongso yang sungguh-sungguh !. Merasa berlarut-larut!. Dan usaha sekuat mungkin untuk merubah sikap!. Jika tidak begitu, jangan harap mendapat fadhol-Nya Alloh SWT !. Malah justru dia mengharap tetapi tidak berbuat, tidak konsekwen, begitu itu jauh lebih berat mendapat bendunya Alloh SWT!. Jika kita menginginkan mendapat fadlolnya Alloh SWT yang sebanyak-banyaknya, kita harus dengan sungguh-sungguh nelongso, merasa berlarut-larut dan sekuat mungkin memperbaiki keadaan!.Sekuat mungkin memperbaiki dan meningkatkan !.
Iman Syazali diantara doanya :
وَجَعَلَ سَيِّئَاتِنَا سَيِّئَاتِ مَنْ أَحْبَبْتَ وَلاَ تَجْعَلْ حَسَنَاتِنَا حَسَنَاتِ مَنْ أَبْغَضْتَ

Ya Tuhan, jadikanlah keburukanku, maksiatku, seperti maksiatnya orang yang engkau kasihi !. Dan ya Tuhan, janganlah kebaikanku engkau jadikan seperti akan orang yang Engkau murkai!. Ini do’a baik juga untuk kita amalkan. Seperti diatas tadi, jika orang dikasihi Alloh SWT, diberi fadlol, biar bagaimanapun besar maksiatnya, senantiasa diampuni dan bahkan diganti dengan kebaikan yang sebanyak-banyaknya. Sebaliknya jika orang dimurkai dibendu oleh Alloh SWT, biar bagaimanapun juga kebaikan-kebaikannya, sama sekali tidak ada artinya. Malah justru makin banyak kebaikannya, justru makin berat siksa yang ditimpakan atas dirinya, orang yang dibendu dimurka oleh Alloh SWT !. Dus yang pokok, ialah apakah dikasihi oleh Alloh ataukah dibendu dimurka oleh Alloh SWT. Dengan kata lain, orang hanus ada dua kemungkinan. Mendapat fadholnya Alloh SWT atau mendapat Adilnya Alloh SWT !.Jadi perbuatan baik atau perbuatan buruk, itu hanya akibat. Akibat dari fadholnya Alloh Ta’ala. Otomatis jika orang mendapat fadholnya Alloh Ta’ala perbuatannya, akhlaqnya, perangainya, baik. Selalu berbuat perbuatan-perbuatan yang diridloi Alloh SWT, memberi manfaat kepada ummat dan masyarakat Sebaliknya jika orang mendapat murka Alloh Ta’ala istilahnya Imam Ghozali, atau mengalami sifat Adilnya Alloh Ta’ala istilah dalam kitab ini, selalu berbuat perbuatan yang dikecam oleh Alloh Ta’ala, selalu merugikan kepada ummat dan masyarakat!.

Ya sekali lagi para hadirin hadirot, kita mendapat fadholnya Alloh SWT yang sebanyak-banyaknya, dalam segala bidang !. Mudah-mudahan perjuangan kita ini mendapat fadholnya Alloh SWT sehingga jamii’al alamiin dalam waktu yang tidak lama berduyun-duyun FAFIRRU ILALLOHI WA ROSUULIHI SAW. Dan mudah-mudahan para hadirin hadirot, hubungan Mujahadah Kubro yang akan datang, mudah-mudahan mendapat fadhol dari Alloh SWT yang luaaaar biasa !. Amiin !. Amiin !. Amiin !. yaa robbal alamiin !.

Para hadirin hadirot, kiranya pengajian cukup sekian, dan semoga pengajian pagi ini benar-benar diridhoi Alloh SWT wa Rosuulihi saw !. Dan mari hubungan Mujahadah Kubro yang akan datang kita usahakan sekuat mungkin dhohiron wa baathinan, agar Mujahadah Kubro itu nanti benar-benar diridhoi Alloh wa Rosuulihi saw, sehingga membuahkan manfaat yang sebanyak-banyaknya bagi kita sekeluarga dan bagi ummat dan masyarakat, terutama soal kesadaran Fafirruu ilallohi wa Rosuulihi saw !. Amiin !. Selanjutnya waktu dan tempat dipersilahkan untuk sambutan dari Penyiar Sholawat Wahidiyah Pusat!.


kemerdekaan abadi - al hikam oleh muallif sholawat wahidiyah

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
( لاَعَمَلَ اَرْجَى لِلْقَبُوْلِ مِنْ عَمَلٍ يَغِيْبُ عَنْكَ شُهُوْدُهُ وَيَحْتَقِرُ عِنْدَكَ وُجُوْدُهُ )

(Tidak ada amal ibadah yang besar harapan diterima oleh Alloh SWT. Dari pada amal yang engkau tidak merasa berbuat amal itu dan engkau tidak membanggakannya).
“Engkau tidak merasa berbuat atau beramal”........ Artinya BILLAH istilah Wahidiyah. Sama sekali tidak merasa bisa beramal. Adanya bisa beramal karena fadhol dan taufiq dari Alloh SWT. Tanpa fadhol dan taufiq dari Alloh SWT, tidak mungkin bisa beramal. LAA HAULA WALAA QUWWATA ILLA BILLAH. “WAYAHTAQIRU 'INDAKA WUJUUDUHU” artinya tidak menjagakan adanya amal itu. Amal itu sendiri sama sekali tidak bisa menghasilkan sesuatu apapun juga !. Sama sekali tidak membekasi!. Tidak menjagakan ibadahnya untuk misalnya sadar kepada Tuhan. Tidak menjagakan mujahadahnya. Otcmatis kalau merasa BILLAH tidak menjagakan ibadahnya. Sebab tidak merasa dia bisa beribadah. Bahkan berbuat apa sajapun tidak merasa bisa berbuat sendiri. Semuanya BILLAH. Jadi otomatis dia tidak menjagakan usaha atau perbuatannya. Ini meliputi segala bidang, baik soal dunia maupun soal akhirot.
Tapi mungkin juga kejadian belum merasa BILLAH tapi “wayahtaqiru ‘indaka wujuuduhu” merasa bahwa amalnya sangat buruk tidak memenuhi syarat-syarat yang secukupnya, merasa tidak khusyu’, merasa tidak ikhlas, merasa ujub riyak dan sebagainya. Otomatis kerena dia merasa begitu terhadap amal ibadahnya, maka dia tidak menjagakan amalnya.
Amal-amal ibadah yang dilakukan menurut cara-cara seperti diatas itulah yang harapan besar diterima oleh Tuhan.
Tapi dalam bidang “husnudhon” malah “husnul yaqin” seharusnya kepada Tuhan, harus yakin bahwa amalnya diterima oleh Alloh. Sebab Alloh Maha Murah.
أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِىْ بِىْ (الحديس القدسى)
Dalam hadist qudsi disebutkan :
“AKU menurut prasangka atau keyakinan hamba-KU terhadap-KU”. Kalau hamba-KU menyangka diterima ya AKU terima, kalau menyangka di tolak ya AKU tolak.
Jadi dalam bidang husnudhon, keyakinan, kita harus yakin diterimanya amal-amal ibadah oleh Alloh SWT. Tapi dalam bidang mawas diri koreksi terhadap amal-amal ibadahnya, harus seperti diatas tadi. Sama sekali tidak membanggakanamalnya. Amalnya sama sekali tidak membekasi apapun juga. Asal merasa ya kurang khusyu’, kurang ikhlas, dengan sendirinya tidak menjagakan amalnya, malahan merasa malu. sebagian ba’dul Arifiin mengatakan: “aku sesudah sembahyang rasanya seperti gadis yang baru dipingit lalu menyeleweng”, berbuat  serong”. Rasa maluku seperti itu”.

Jadi seharusnya, orang beramal ibadah kepada Alloh kok hatinya tidakhudlur, tidak ikhlas, .........ingat sana sini, seharusnya malu kepada Alloh !. Lebih- lebih ada pamrih ini itu, pamrih akhirot sekalipun, seharusnya malu !. Coba gambarkan, menghormat atau menolong orang, hatinya tidak betul-betul menghormat dan malah ada pamrih ini itu begini begitu, kan malu kalau diketahui oleh orang yang dihormat atau yang ditolong. Padahal Alloh SWT senantiasa tahu gerak gerik hati si hamba, siapapun juga, biar sekelumit sekalipun, Tuhan senantiasa tahu!. Jadi seharusnyalah merasa malu jika ibadahnya kurang ikhlas, kurang khusyu’, kurang hudlur ingat sana sini!.
Itulah maka seperti saya sebutkan tadi, Ba’dul Arifiin atau Ba’dus Sholihin, atau Ba’dul ‘Ubbaad tiap sehabis mengerjakan sembahyang atau ibadah apa saja, dia merasa malu luar biasa. Digambarkan seperti seorang gadis yang dipingit lalu berbuat serong. Saking malunya. Malu karena merasa ibadahnya tidak sempurna, kurang hudlur, kurang khusyuk, kurang ikhlas.
Lah itu tadi, sekalipun belum merasa BILLAH bisa merasa ringkih seperti tu. Tapi yang sempurna kita harus mengisi segala bidang. Bidang haqiqot dan bidang syari’at. Bidang haqiqot, harus merasa BILLAH, tidak boleh mengaku  beramal !. Bidang syari’at atau bidang LILLAH, harus merasa kurang tepat cacahnya, kurang khusyu, kurang ikhlas. Kurang hudlur, selalu ingat sana sini, selalu ada pamrih, dan sebagainya dan sebagainya !. Jadi kalau bisa harus dobel!. ya BILLAH ya LILLAH !. Tapi kalau belum bisa dobel, yang pokoknya dan harus diutamakan adalah BILLAH !. Sebab kalau tidak begitu, kalau misalnya hanya merasa kurang sempurna begitu saja, kamaa qoola ba'dul Arifiin :
رُؤْيَةُ التَّقْصِيْرِ لاَتَخْلُوْ مِنَ الشِّرْكِ فِىْ التَّقْدِيْرِ
Merasa kekurangan, merasa pepeko, merasa kurang ikhlas, merasa kurang
sempurna ibadahnya, itu tidak lepas dari “syirik”. Tidak ridlo terhadap qodar Alloh. Itu bahayanya kalau hanya bidang LILLAH saja. Jadi kita harus menempatkan segala sesuatu ditempatnya masing-masing!. Tempat syari’at, tempat haqiqot!. Merasa  malu, merasa kurang ikhlas ibadahnya, kurang tepat, kurang,.... kurang, .... kurang ....., ini diperintah oleh syari’at. Yaitu suatu adab.

Jadi mudahnya, kita harus ingat!. Ini bidang syari’at, saya harus merasa malu, merasa kurang tepat dan sebagainya. Tapi disamping itu harus usaha sekuat mungkin sehingga betul-betul ikhlas, betul-betul khusyu’ !. Tapi jangan sanpai merasa sudah bisa ikhlas, sudah bisa khusyu’!. Harus merasa kurang kuat, dan malu dan sebagainya tadi!. Tapi harus juga didasari LILLAH BILLAH !.
Jadi kembali lagi, “LAA ‘AMALA  ARJA LILQOBUULI  MIN  ‘AMALIN YA GHIIBU ‘ANKA  SYUHUUDUHU WAYAHTAQIRU ‘INDAKA WUJUUDUHU”. Tidak ada amal ibadah yang lebih besar harapan diterima, dari pada amal yang tidak diaku dan yang tidak diandalkan. “Tidak diaku”, artinya BILLAH. “Tidak diandalkan”, ..... apanya yang diandalkan, sebab tidak merasa punya amal!. Malah disamping itu, disamping tidak merasa punya amal, dalam bidang syari’atnya merasa amalnya morat-marit, tidak tepat. Mana boleh jadi barang yang morat-marit kok diandalkan ?. Diandalkan atau dijagakan untuk wusul kepada Alloh atau sadar atau untuk menghasilkan......., yah apa saja pokoknya!. Tapi ya itu tadi, dalam bidang syari’at kita harus usaha sekuat mungkin !. Lebih-lebih soal wusul!.
وَالََّذِيْنَ جَهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهٌمْ سُبُلََنَا

(Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh didalam menuju kepada-KU bermujahadah, pasti AKU tunjukkan jalan-KU).
مَنْ لَيْسَ لَهُ الْمُجَاهَدَةُ لَيْسَ لَهُ الْمُشَاهَدَةُ

(Barang siapa yang tidak ada usaha yang sungguh-sungguh, tidak mujahadah, dia tidak akan memperoleh musyahadah, syuhud, sadar kepada Alloh). Jadi dalam bidang syari’at, kita harus usaha !. Tapi sekalipun bidang syari’at harus di dasari haqiqot!. BILLAH!.

Dalam satu hal haqiqot itu sendiripun diperintah oleh syari’at. Begitu juga haqiqot menghendaki adanya syari’at. Jadi saling menguatkan satu sama lain. Istilah ban, seperti ban luar dan ban dalam. Ban luar saja tidak bisa dipaka jalan, begitu juga hanya ban dalam saja tidak ada kekuatan.

Para hadirin hadirot, mari kita kembali kepada diri kita masing-masing!. Ilmiah yang sudah kita miliki harus kita terapkan !. Dan harus terus dipelihara dibina dan ditingkatkan !.

Ilmiah gampang dipelajari. Tapi jauuh lebih sukar pengetrapannya. Terutama pengetrapan didalam hati. Pekerjaan hati seolah-olah gampang, tapi justru sukar. Licin sekali!. Lap ingat sana, lap ingat sini, lap ganti acara ini, ganti acara itu ......kelihatannya mudah, tapi prakteknya sukar. Tapi asal ada perhatian, otomatis berbeda dengan yang tidak ada perhatian. Ibarat orang mencangkul diladang, tentu berbeda hasilnya dengan yang hanya nongkrong saja.

Apa yang kita bahas tadi tidak hanya soal wusul atau kesadaran saja Tapi segala soal-soal lahiriyah, seperti usaha atau bekerja juga harus begitu. Lahiriyahnya kita harus giat, tapi batiniyah jangan sampai menjagakan atau mengandalkan usaha itu!. Usaha dan hasil, itu dua bidang yang berbeda-beda. Usaha adalah kewajiban kita mengisi bidang syari’at. Adapun hasil, adalah ketentuan Tuhan. Dalam pandangan TAUHID, sebab dan akibat itu tidak ada hubungan satu sama lain. Artinya, sebab itu sendiri tidak mutlak bisa mewujudkan akibat. Sebab dan akibat, masing-masing langsung dicipta oleh Alloh SWT.  وَأَتَيْنَهَ مِنْ كُلِّ شَْئٍ سَبَبَا ( الكهف ٥٨ )

(Dan AKU menjadikan segala sesuatu dengan ada sebabnya). Jelas bahwa segala sesuatu (akibat) dan sebab kedua-duanya adalah dicipta oleh Alloh SWT.

Jadi sebab hanya sebagai pertanda atau alamat akan wujudnya segala sesuatu (akibat). Jadi sebab itu sendiri bukan sesuatu kekuatan yang mutlak yang mampu mewujudkan segala sesuatu (akibat). Kedua-duanya sebab dan akibat sama-sama dicipta oleh Alloh SWT. Jelasnya, Alloh Ta’ala menciptakan segala sesuatu dengan menciptakan sekali sebabnya. Hasil panenan padi misalnya. Alloh SWT menciptakan hasil panen yang baik dengan menciptakan seoab-sebabnya yang baik pula. Tanah yang subur, pengolahan tanah yang baik, obat yang baik, pupuk yang cukup, pembasmian hama yang merata dan manjur, iklim  yang baik, dan sebagainya dan sebagainya.

Begitu seharusnya pandangan TAUHID kita !. Segala sesuatu secara langsung dicipta oleh Alloh SWT, tanpa ada perantara. Oleh karena jika ada perantara berarti Alloh SWT terhijab oleh perantara itu. Atau, berarti ada dua kekuasaan. Kekuasaan Alloh Ta’ala dan kekuasaan perantara. atau dalam istilah tadi, sebab tersebut. Dan ini sama sekali mustahil !. Tidak cocok dengan kenyataan tauhid. Yah, sekalipun dalam percakapan sehari-hari sering diperkatakan ini sebab itu, itu sebab ini, kalau tidak begini akibatnya begitu, dan sebagainya dan sebagainya, tapi sekali lagi dalam pandangan TAUHID kita harus berkeyakinan seperti diatas !. Yakni, segala sesuatu baik itu sebab maupun itu akibat semuanya secara langsung berhubungan dengan Alloh Ta’ala tanpa ada perantara apapun juga. Ini pandagan TAUHID kita harus begitu, artinya menyakini sesuatu sebab itu yang menciptakan sesuatu, ini menyalahi tauhid, dan bisa jadi ia keluar dari iman dan Islam tapi dia tidak merasa !. Berbahaya sekali!.
Kita harus berhati-hati sekali !. Jika kurang perhatian lebih-lebih sama sekali   tidak ada perhatian, mungkin ia keluar dari TAUHID, keluar dari iman dan Islam  sedangkan yang bersangkutan tidak merasa!. Segala sesuatu baik lahiriyah batiniyah, semua langsung, langsung dicipta oleh Alloh SWT !. Adapun adanya perantara baik lahiriyah maupun batiniyah itu, itu hanya sebagai pertanda atau alamat. Api membakar sesuatu, bensin misalnya kena api, bel, menyala !. ini hanya penglihatan lahir, pandangan materi. Sedangkan keadaan yang sesungguhnya, hakekat yang sebenar-benarnya adalah Alloh SWT sendiri yang membuat nyala itu. Api itu sendiri sama sekali tidak mempunyai daya atau kekuatan membakar. Begitu hakekat yang sesungguhnya, yang sebenar benarnya !. Apa yang kelihatan lahir ini hanya bayangan, hanya satu impian. Apa yang disabdakan Rosuulillahi saw:
النَّاسُ نِيَّامٌ وَاِذَا مَاتُوا انْتَهَبُوا ( الحديث )

(Manusia semuanya tidur, mimpi. Jika mereka sudah mati, terbangunlah mereka) Artinya mereka akan tahu, akan melihat keadaan yang sebenar-benarnya.  Orang yang dalam keadaan mimpi, ketika mimpi itu seperti sungguh-sungguh terjadi. Padahal yang sesungguhnya tidak apa-apa. Setelah bangun dari tidurya baru tahu bahwa dia tadi hanya mimpi !. begitu juga apa yang kita lihat, kita rasakan hidup didunia ini. Sesungguhnya ini semua hanyalah impian. Bukan keadaan yang sesungguh-sungguhnya !. Baru setelah mati nanti, manusia bangun dari tidumya. Baru tahu, baru melihat, baru merasakan keadaan yang sebenamya!. Jaauuh lebih jelas lebih terang dari keadaan didalam mimpi diduna ini.

Maka dari itu kita jangan sampai tergelincir oleh “syaithonusy syakki, wa
kufri wasy-syirki”. Jangan sampai terpengaruh, jangan sampai tergelincir tertipu  oleh pengaruh dunia dan materi!. Biar bagaimanapun seperti sungguh-sungguh  terjadi !. Biaar bagaimanapun tepatnya masuk akal fikiran. Biar bagaimanapun tepatnya menurut perhitungan !. Kalau sampai tergelincir, kalau sampai  terpengaruh, beeraat sekali akibatnya yang kita rasakan sesudah bangun dari tidur ini. Beeraat sekali akibatnya nanti di alam kubur, di alam akhirot terutama para hadirin hadirot!
{ إِنَّمَا أَوْرَدَ  عَلَيْكَ الْوَارِدَ لِتَكُوْنَ بِهِ عَلَيْهِ وَارِدًا }
(Bahwasanya Alloh Ta’ala mendatangkan kepadamu suatu “waarid”, agar supaya engkau datang menuju kepada-NYA dengan ”waarid” itu).

WAARID adalah pengalaman-pengalaman batin berupa ilmu-ilmu dan nur cahaya kesadaran yang datang kedalam hati sehingga hati menjadi bersih jernih dan cemerlang sehingga dapat melihat yang haq itu haq, yang batil itu batil, sehingga dapat mengetrapkan ikhlas, dapat ridlo, tawakkal dan sebagainya. Sekalipun ada ini itu, tapi pandangannya tidak berubah, tetap ”KULLU SYAI - IN HAALIKUN ILLA WAJHAHU”, WAARID”. Dalam bahasa jawa “krenteg” atau musiking ati. Dalam bahasa Indonesia “gerak hati”. “INNAMAA AURODA ‘ALAIKAL-WAARIDA LITAKUUNA BIHI  ‘ALAIHI WAARIDAN”.
Setengah dari pada kasih sayangnya Alloh Ta’ala, Maha Lomannya Alloh Ta’ala kepada hamba-NYA, yaitu hamba-NYA diberi “waarid”, yaitu sesuatu yang datang kedalam hati. Artinya pemberian Alloh Ta’ala bangsa ruhani, bangsa pengalaman batin, bangsa keyakinan, sehingga si hamba merasa ridlo, merasa ikhlas, merasa tawakkal, merasa, merasa ..... Sadar, merasa ...... ini sungguh haq, itu sungguh batal dan sebagainya. Musiking ati atau gerak hati. Gerak hati untuk sabar, untuk ridlo, gerak hati merasa banyak dosanya, gerak hati untuk bermujahadah, untuk ...... yah, amal-amal ibadah lain-lain. Ini semua maksudnya supaya digunakan oleh sihamba itu untuk sowan menghadap, mendekatkan diri ke hadirot Alloh SWT.
{أَوْرَدَ عَلَيْكَ الْوَارِدَ لِيَتَسَلََّمَكَ مِنْ يَدِ اْلأَغْيَارِ وَيُحَرِّرُكَ مِنْ رِقِّ اْلاءتْثَارِ}    

(Alloh Ta’ala mendatangkan kepadamu “waarid” tidak lain untuk menyelamatkan dirimu dari cengkeraman pengaruh selainnya Alloh dan untuk membebaskan dirimu dari belenggu pengaruh keinginan duniawi dan syahwat nafsu) Hanya “waarid” saja, “musiking ati” atau gerak hati saja, ingin bertobat, ingin beramai ini itu ingin bermujahadah, hanya begitu saja, tidak ada pelaksanaan dan  pembinaan, ini terkadang hanya sekejap begitu saja, hilang lenyap dari hati tanpa ada bekas-bekas dan kesan. Tanpa menghasilkan buah dan kemajuan. Ini mungkin saja terjadi, mungkin disebabkan adanya pengaruh-pengaruh syaithoniyah, pengaruh-pengaruh nafsu, pengaruh situasi dan kondisi. Baik situasi luar maupun situasi dalam.
Itu adalah sifat Adil Tuhan.  “LAA YUS-ALU ‘AMMA YAF’ALU”. Tuhan  tidak bisa dituntut. Semua-semua adalah haq Tuhan secara mutlak. Bebas berbuat apa saja terhadap hamba-NYA. Dalam hubungan begini kita harus ridlo kepada Alloh SWT!. Kita harus ridlo kepada QODAR !. Tuhan, adalah Tuhan kita !. Memiliki wewenang dan kekuasaan yang mutlak !. Kita sebagai hamba yang lemah !. Senantiasa membutuhkan kepada Tuhan !. Membutuhkan dalam segala bidang lahiriyah dan batiniyah dalam setiap saat. Tapi dalam bidang ikhtiyar, kita harus usaha sekuat mungkin!. Usaha melaksanakan “waarid” yang datang kepada kita !. Usaha mengadakan pembinaan sebaik mungkin !. “AURODA ‘ALAIKAL-WAARIDA LIYATASAL LAMAKA MIN YADIIL-AGHYAAR, AYUHARRIROKA MIN RIQQIL  -AATSAAR”.
Jika orang lebih baik, artinya lebih banyak pertolongan Tuhan kepadanya, pertama  digerakkan hatinya oleh Tuhan. Diberi “waarid”. Digerakkan hatinya untuk berbuat baik , digerakkan hatinya untuk sadar kepada Alloh, digerakkan hatinya untuk bertobat, untuk sowan menghadap kehadirot-NYA. Dan selanjutnya pemberian ini terus dipelihara oleh Tuhan. Terus sadar, tetap tidak terpengaruh oleh bujukan  tidak terpengaruh oleh situasi dan Kondisi yang bagaimanapun juga. Dia  tetap dibina dengan “waarid” sadar, bertobat, ridlo, tawakkal dan sebagainya. Tetap ......, tetap .... yah, pokoknya tetap FAFIRRUU ILALLOHI WA ROSUULIHI SAW!.
Para hadirin hadirot, maka dalam bidang ikhtiyar kita harus usaha sekuat mungkin  agar kita tetap dibina dipelihara oleh Alloh. Tetap diberi “waarid” dan kemudian menjalankan atau mengetrapkan apa yang menjadi krenteking ati, apa yang menjadi hasrat hati. Tergerak hati ingin mujahadah, ingin sembahyang, ingin berpuasa sunnat, ingin ......dalam bidang ikhtiyar harus kita usahakan untuk melaksanakan keinginan-keinginan hati yang kedatangan “waarid” itu !. Tetapi kalau memang situasi dan kondisi tidak memungkinkan           ..... yah, kita harus ridho.  Ridho kepada qodlok qodar Alloh SWT !.
Ya mudah-mudahan para hadirin hadirot kita dikaruniai “waarid” atau pengusikan yang sebanyak-banyaknya !. Pengusikan atau gerak hati untuk
FAFIRRUU ILALLOHI WA ROSUULIHI SAW. Amiin!. Dan mudah-mudahan terus
dipelihara oleh Alloh SWT sehingga kita bisa senantiasa terus FAFIRRUU ILALOHI WA ROSUULIHI SAW min yauminaa haadha illaa yaumil qiyaamah !. Amiin!. Ada suatu ucapan:
طُوْبَى لِمَنْ طَالَ عُمْرُهُ وَكَثُرَ عَمَلُهُ

(Berbahagialah orang umurnya panjang, dan amalnya banyak). Panjang usianya dan kesadarannya kepada Alloh SWT banyak !. Ini lebih baik. Yah, apa saja kalau bisa ya yang banyak dan mentes berisi. Tapi kalau tidak bisa begitu, yah biar sedikit asal mentes berisi. Kalau bisa ya kuwantitas ya kuwalitas. Tapi kalau tidak bisa, lebih baik kuwantitas !. Ya mudah-mudahan para hadirin hadirot, kita diberi yang banyak yang mentes semua !. Amiin !. Amiin !. Amiin !.
“........... LIYATASALLAMAKA MIN YADIL AGHYAAR, WAYUHARRIROKA MIN RIQQIL AATSAAR”.
.......mendapat usikan atau “waarid” lagi sehingga dia tidak terpengaruh makhluq, oleh materi !. Oleh moril atau materiil !. Moril yang bejat moril yang
menjauhkan dari Alloh SWT !. Materi yang bejat pula !. Sebab moril dan materiil
itu mungkm ada dua macam. Moril yang bejat, yaitu yang disebut “demoralisasi”.
Moril yang menjauhkan diri dari Alloh SWT. Moril yang mengajak kealam binatang
buas!. Moril yang mengajak kepada alam syaithoniyah, rububiyah. Tapi disamping
itu juga ada moril yang mengajak FAFIRRUU ILALLOHIWA ROSUULIHI SAW !. Ini yang harus kita usahakan, yang harus kita mohon !. Begitu juga materiil. Ada materiil yang mengajak ke alam syaithoniyah, ke rububiyah !. Materi yang mengajak kepada alam binatang !. Hanya nuruti keinginan nafsu !. Nafsu makan, Nafsu minum, nafsu bekerja, nafsu .... sex dan lain-lain, pokoknya apa saja yang hanya untuk memuaskan nafsu !. Tapi disamping itu ada juga materi yang mengajak FAFIRRUU ILALLOHI WA ROSUULIHI SAW !. Materi yang mengajak akhlaq baik !. Ini yang harus kita usahakan !. Dunia ini seisinya, langit bumi seisinya, semuanya diserahkan bulat-bulat oleh Alloh SWT kepada kita manusia, supaya kita manusia menggunakanya moril maupun materiil itu untuk FAFIRRUU ILALLOHI WA ROSUULIHI SAW !. Dan kita diberi kemampuan para hadirin hadirot !. Diberi kemampuan untuk memilih antara moril dan materiil itu yang mengajak FAFIRRUU ILALLOHI WA ROSUULIHI SAW !. Sabda Rosuulillahi saw :
الّدُّنْيَا مَزْرَعَةُ اْلاَخِرَةِ ( الحديث )

“AD-DUNIA MAZRO’ATUL AKHIROH” Dunia sebagai ladang atau sawah untuk tanaman akhirot!. Tentunya yang dimaksudkan supaya kita memilih “mazro’ah al-hasanah”, ladang dengan tanaman yang baik buat diakhirot. Tapi kalau salah urus, salah trap, salah langkah, bukan “mazro’ah al-hasanah” melainkan “mazro’ah assayyiah”!. Tanaman dengan hasil yang buruk diakhirot !. Buruk dalam arti mencelakakan !. Itulah dunia yang disalah gunakan !. Yaitu dunia yang dikecam didalam Al Qur’an. Dunia yang tidak digunakan untuk FAFIRRUU ILALLOHI WA ROSUULIHI SAW, tapi untuk ..... yah, untuk nuruti nafsu !. Dikecam !. Sekalipun hanya satu atom tetap dikecam !. Kita harus menghindari jauh-jauh sekalipun hanya satu atom !.

Sebaliknya, dunia yang untuk FAFIRRUU ILALLOHI WA ROSUULIHI SAW, makin banyak makin baik !. Jadi tinggal kita manusia ini bagaimana menggunakannya !. Mari para hadirin hadirot, kita lihat pribadi kita masing-masing !. Apakah dunia kita ini moril atau materiil kita jadikan alat bunuh dirikah, atau untuk FAFIRRUU ILALLOHI WA ROSUULIHI SAW ?. Kita masing-masing yang menentukan, dan mampu kita !. Untuk bunuh diri, untuk menjerumus, ..... mampu !. Malah menjerumus lebih gampang !. Tapi juga mampu menggunakannya untuk FAFIRRUU ILALLOHI WA ROSUULIHI SAW!. Sekalipun agak lebih berat dari yang pertama tadi!. Istilah orang kuno “munggah suwargo” dan “nyemplung nroko”. Istilah “munggah” (naik) otomatis lebih sukar dari “nyemplung” (jatuh).

حُفَََّتِ الْجَنَّةُ بِالمْـَكَارِهِ وَخُفَّتِ النَّارُ بِاالشَّهَوَاتِ

Syorga yang dikelilingi oleh soal-soal yang tidak menyenangkan, oleh soal-soal yang membosankan. Sekalipun sebenarnya enak tapi tidak menyenangkan dan membosankan.  dan neraka dikelilingi oleh soal-soal yang menyenangkan, soal-soal yang memuaskan bermacam-macam syahwat kesenangan. Sekalipun mula-mula terasa berat, tapi karena menjadi kesukaan dan kesenangan menjadi ringan dan senang !.

Jadi sekali lagi soal moril atau materiil harus kita usahakan untuk FAFIRRUU ILALLOHI WA ROSUULIHI SAW !. Dan makin banyak makin baik !. Tapi ya bisa disalah gunakan, sekalipun hanya sedikit, lebih-lebih banyak .....sangat mengancam !. Sekalipun seatom, sepeser, jika disalah gunakan terkecam !. Terkecam !. Tapi jika tidak disalah gunakan, makin banyak makin baik !. Makin SWT !. Ya mudah-mudahan para hadirin hadirot, kita diridhoi oleh Alloh SWT!. Mudah-mudahan diberi manfaat yang sebanyak-banyaknya!.

Jadi kalau kita mendapat musiking ati kata  orang jawa, yaitu gerak hati : berbuat atau melakukan hal-hal yang baik, harus terus usaha kita pelihara dan kita  tingkatkan terus !. Teruus untuk FAFIRRUU ILALLOHI WA ROSUULIHI SAW !.
Ada suatu sya’ir:
لِكُلٍّ اِلىَ سَأْوِى الْعُلىَ حَرَكاَتُ * وَلَكِنْ عَزِيْزٌ فِى الرِّجَالِ ثِباَتُ

Semua orang, atau sebagian besar, manusia mempunyai inisiatif atau cita-cita luhur, yang diridhoi Tuhan, yang memberi manfaat sesama manusia. Tapi sayangnya hanya lamunan belaka. Tidak sampai terwujud dalam pelaksanaan.

اَوْرَدَ عَلَيْكَ الْوَارِدَ لِيَخْرِجَكَ مِنْ سِجْنٍ وُجُوْدِكَ إِلَى فَضَاءِ شُهُوْدِكَ

Setengah daripada kasih sayang Tuhan lagi, orang diberi “waarid”, atau pengalaman atau perasaan, sehingga dia dapat bebas dari imprialis nafsunya “.......LIYUKHRIJAKA MIN SIJNI WUJUUDIKA ILAA FADLOOI SYUUHUDIKA”. Sehingga bebas dari usaha “penjara wujudmu”. Atau dari “ananiyahmu” ........"ILAA FADLOOI SYUHUUDIKA” ......... kepada lapangannya syuhud - kesadaranmu. Kesadaranmu kepada Alloh SWT. Jadi ada orang yang diberi “waarid” atau usikan, lalu dia menjadi hilang “ananiyahnya”. Ananiyah adalah penjara yang kejam, penjara yang serem, penjara yang bengis !. Penjara atau imprialis, penjajah. Yang buuas sekali, yang paling membahayakan.

Ya mudah-mudahan kita semua dikaruniai “waarid” seperti itu yang sebanyak- banyaknya !.
“QOOLA BA’DHUHUM”. Berkata diantara orang-orang sholeh :
سِجْنُكَ نَفْسُكَ اِذَا خَرَجْتَ مِنْهَا وَقَعْتَ فِى رَاحَةِ اْلاَبَدِ

Penjaramu adalah nafsumu !. Ananiyahmu istilah Wahidiyah !. Jika engkau bisa keluar membebaskan diri dari “ananiyahmu”, engkau akan menduduki atau, mengalami suasana kejembaran kebebasan kemerdekaan, kebahagiaan selama-lamanya!.

Lha ini para hadirin hadirot, didalam Wahidiyah caranya membebaskar diri dari imprialis atau penjara nafsu yaitu dengan BILLAH. Jika sudah mencapai tingkat rasa BILLAH, otomatis ia sudah keluar sudah bebas dari cengkeraman imprialis nafsu yang ganas dan kejam itu. Otomatis dia selalu ridlo kepada Tuhan Sekalipun dalam keadaan mlarat, kekurangan atau kesukaran misalnya, dia ridlo puas !. Puas dan gembira sebab yang memberi ujian itu Tuhannya Yang Maha Kasih Sayang. Tidak mungkin Tuhan akan menjerumuskan atau menyesatkan diriku !. Justru dari kasih sayang Tuhan kepadaku, maka aku dibuat-NYA begini. Otomatis puas, gembira, tidak gelisah begini begitu !.

Ya mudah-mudahan kita dikaruniai bisa bebas dari imprialis nafsu, bebas yang sesempurna-sempurnanya !. Amiin !.

Sekalipun orang yang mempunyai kekayaan yang berlimpah-limpah menempati kedudukan dan jabatan yang bagaimanapun tingginya, jadi Presiden
sekalipun umpamanya, selama dia masih dikuasai oleh nafsunya, masih belum bebas dari cengkeraman imprialis nafsunya, ........ Tetap dia tidak merasakan situasi kebebasan dan kemerdekaan. Dia tetap senantiasa gelisah, senantiasa kuatir dan takut senantiasa ribut ini dan itu. Selalu berbuat yang merugikan kepada ummat dan masyarakat !. Sebab selalu mencari untung pribadi. Mencari kepuasan untuk nafsunya!. Akhirnya awas nanti, jika sudah dicabut oleh Malaikat Izro’il!.............!
Disini diberi penjelasan:
وَمُقْتَضَى هَذَا التَّقْدِيْر أَنَّ الْوَارِدُ وَاحِدٌ وَثَمْرَتُهُ وَاحِدَةٌ وَهَى الدُّخُوْلُ فِى حَضْرَةِ الرَّبِ وَيَصِحُّ اَنََّ الْمَعْنَى اَوْرَدَ عَلَيْكَ الْوَارِدَ لِتَكُوْنَ بِهِ عَلَيْهِ وَارِدًا اَىْ مُقْبِلاً عَلَيْكَ بِاْلاِشْتِغَالِ بِالطّاعَاتِ وَاَنْوَاعِ الْعِبَادَاتِ.

Mungkin yang dimaksud ”waarid”  itu hanya satu. Kemudian menyusul buahnya. Yaitu “waarid” kedua, ketiga dan seterusnya. Ibarat pohon batangnya hanya satu. Kemudian timbul cabang-cabang dan rantingnya. “waarid” kesatu misalnya berupa hasrat ingin mujahadah. Kemudian terus timbul “waarid” kedua, makin kuat dan terus dijalankan mujahadah. Sekalipun mungkin pada mulanya masih belum bebas dari pengaruh nafsu, tapi karena datang teruuus “waarid” berupa kemauan yang keras, maka lama-lama menjadi lebih baik. Mujahadahnya ikhlas “waarid ikhlas”. Dan teruuus, menyusul lagi “waarid tekun dan bersungguh-sungguh”. Datang lagi “waarid ridlo”, dan terus bertambah- tambah sehingga memperoleh “waarid kesadaran” atau “waarid BILLAH”  istilah Wahidiyah. Menjadiiah dia sama sekali bebas dari imprialis nafsu !. Dan inipun masih teruus meningkat lagi, seterusnya menjadi orang sempurna, orang-orang kaamil, bahkan bisa menyempurnakan orang lain. Kamil-mukammil!. Menjadi orang yang minal Waashiliin al Mushiliin, orang yang sadar kepada Alloh SWT dan dapat menyadarkan orang lain. Ya mudah-mudahan para hadirin hadirot, kita dijadikan minal Waashiliin al Mushiliin, wa minal waashilaat al Muushilaat !. Minal kaamiliin al Mukammiliin wa minal kaamilat al Mukammilat!. Amiin !. Amiin !. Yaa Robbal ‘Alamiin !.

Para hadirin hadirot, disamping permohonan, disamping mudah-mudahan, kita harus mengisi bidang yang sebanyak-banyaknya !. Kita harus usaha “YUKTI KULLA DZII HAQQIN HAQQOH”!. Dan harus TAQDIMUL AHAM FAL AHAM TSUMMAL ANFA’U FAL ANFA’!. Kita ya harus memperbanyak doa-doa permohonan, tapi juga harus giat berusaha !. Mujahadah-Mujahadah harus kita tingkatkan, teruus, jangan jemu-jemu!. Harus kita tlateni!. Mujahadah lahiriyah dan Mujahadah batiniyah !. Mujahadah batiniyah yaitu mengatur hatinya senantiasa LILLAH BILLAH LIRROSUL BIRROSUL dan sebagainya!. Senantiasa ikhlas, sabar, ridlo dan sebagainya !. Pokoknya selalu ingat atau zikir kepada Alloh!. Lupa, kembali lagi, lupa, kembali lagi dan seterusnya!. Senantiasa merasa berlarut-larut banyak dosa dan terus bertobat !. Usaha lahiriyah antara lain memperbanyak Mujahadah- mujahadah!. Mujahadah sendiri atau berjama’ah dan seterusnya. Begitu seharusnya kita hidup didunia !. Selama didunia kita harus, harus “LI YAKBUDUUN !.
وَمَا خَلَقْتُ الجِنَّ وَاْلاِنْسَ اِلاََّ لِيَعْبُدُوْنَ.

(Dan tiada AKU mencipta Jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdikan diri kepada-KU).

Jadi “LI YAKBUDUUN” tidak hanya terbatas pada ketika sembahyang, puasa, zakat, haji, tilawatul Qur’an, baca sholawat, menolong orang lain dan sebagainya dan sebagainya, tapi seluruh gerak dan laku selama kita hidup ini, selama bukan  hal-hal yang tidak diridhoi Alloh, harus kita laksanakan demi untuk “LI YAKBUDUUN”! Pokoknya didalam mengisi segala bidang dalam kehidupan ini harus seratus persen untuk “LI YAKBUDUUN” !. Kita tidak boleh waleh atau  !. Walehnya ya kalau sudah dicabut Izroil!. Ya mudah-mudahan para hadirin hadirot kita semua tidak jemu-jemu min yauminaa haadza ilaa yaumil qiyaamah !. Malah makin teruuus meningkat!. Ilaa yaumil Qiyaamah !. Amiin !. Amiin !. Amiin !.
Mudah-mudahan kita benar-benar diaku sebagai ummatnya Junjungan kita Rosuulullohi saw !. Mudah-mudahan kita termasukyang dipanggil :

يَا اَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِىْ اِلَى رَبِّكَ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةْ فَادْخُلِىْ فِىْ عِبَادِىْ وَادْخُلِىْ جَنَّتِىْ.


Amiin !. Amiin !. Amiin !. Yaa Robbal Alamiin !.